Utang Pada Sumba

0
86

Utang Pada Sumba

Oleh: Pdt. Hariman A. Pattianakotta

Sidang Raya sudah usai. Sekarang saya akan kembali ke Bandung, dan beraktivitas kembali di kampus. Sembari menunggu penerbangan, saya menuliskan catatan ini. Setiap hari, selama mengikuti persidangan, saya menulis refleksi atas persidangan gerejawi yang akbar itu, sebagai wujud tanggung-jawab saya terhadap gereja dan lembaga yang sudah memfasilitasi saya.

Saya bersyukur dan berterimakasih untuk Tim Liturgi dari STFT Jakarta, almamater saya, dan Tim Liturgi dari STT Lewa, Sumba. Mereka inilah yang membuat Sidang Raya PGI tetap menjadi persidangan gerejawi. Liturgi apik yang dirancang mengangkat realitas dan pergumulan sehari-hari, khususnya Sumba. Simbol-simbol yang dipakai berbicara banyak mengenai perjuangan rakyat jelata Sumba.

Sayangnya, gumul juang rakyat yang bergulat dengan panas di savana berkarang tak didialogkan secara mendalam dan serius saat diskusi tematik. Tidak ada tema dan pembicara lokal yang menyampaikan hal tersebut.Sumba dengan budayanya yang unik dan sedang membangun di era otonomi luput dari percakapan. Padahal, rakyat Sumba menaruh harapan besar untuk itu. Antusiasme mereka mempersiapkan acara SR dan menanti kehadiran Jokowi yang tak kunjung datang adalah bahasa rindu seorang anak bangsa yang hendak bilang: “Bapa, tolong kami. Sejak merdeka sampai era Reformasi dan otonomi daerah sekarang ini, kami terus hidup miskin di tanah yang panas dan keras ini.” Kami tidak punya teknologi, kami hanya punya teologi. Tuhan sudah jaga dan berkati kami, tapi pemerintah belum sungguh-sungguh memperhatikan kami. Tolong kami ka…”

Bahasa simbolik itu yang tidak ditangkap oleh banyak peserta sidang yang notabene adalah pimpinan gereja-gereja di Indonesia. Mereka hanya menafsir ketidak-hadiran Jokowi dengan menganggap bahwa posisi tawar institusi PGI sudah rendah di mata pemerintah. Lho, bagaimana sebuah institusi mau disegani kalau ia tidak berada bersama umatnya? Bagaimana institusi tersebut akan didengarkan kalau ia sendiri tidak dapat mengartikulasikan bahasa penderitaan umatnya dengan bahasa dan nyali profetik?

Baca juga  SIARAN PERS TIM ADVOKAT OAP: *PARA TERDAKWA MENGALAMI ANCAMAN, PEMUKULAN, DITODONG DENGAN PISTOL SAAT PEMERIKSAAN DI KEPOLISIAN*

Mitra Kritis dan Nurani Umat

PGI dan gereja-gereja sudah seharusnya menjadi mitra kritis pemerintah dan pembawa suara umat. Dalam sambutan penutup, Dirjen Bimas Protestan yang hadir mewakili menteri agama mengungkapkan kembali panggilan gereja dan PGI sebagai mitra kritis pemerintah. Seruan Dirjen itu tentu bukan hal baru. Para pejuang gerakan ekumenis pada masa lalu sudah mengingatkan hal tersebut. Pdt. Eka Darmaputra pada masa awal Reformasi bahkan mengajak gereja-gereja untuk menjadi komunitas eksemplaris yang menghidupi panggilan Allah di tengah konteks secara kritis. Bukan hanya menjadi komunitas yang partisipatif di dalam masyarakat, sehingga dengan mudah dimanipulasi dan dikelabui oleh penguasa.

Akan tetapi, tampaknya gereja-gereja kita belum tumbuh sebagaimana yang diharapkan itu. Para pemimpin gereja yang bersidang di Waingapu, tidak semua, tampaknya lebih suka dipimpin langsung oleh orang pemerintah. Itu sebabnya, mereka mengangkat seorang politisi dan guburnur aktif untuk menjadi salah satu pimpinan PGI. Lantas, bagaimana gereja atau PGI dapat menjalankan fungsi kritisnya?

Dapatkah PGI menjadi pembawa suara rakyat? Lebih dalam lagi, mampukah PGI menjadi hati nurani umat? Para pemimpin gereja yang bersidang itu semestinya meninggalkan pesan-pesan bernas dan berjuang untuk mengangkat umat dari lembah-lembah penderitaan. Bukan hanya sibuk mencari posisi dan kuasa.

Utang Pada Sumba

Para pemimpin gereja-gereja itu sudah kembali ke daerahnya masing-masing sejak kemarin. Mereka pulang dengan meninggalkan “banyak piring dan gelas kotor.”

Kemarin saya sempat lewat gedung tempat berlangsungnya sidang. Gedung yang dipugar untuk kepentingan SR itu sudah sepi. Sebetulnya, gedung itu belum selesai dibangun. Sisi-sisi luar gedung masih tampak tak berplafon. Seorang mama asal Sabu yang bermukim di Waingapu yang siang itu menemani saya berkata: “gak tahu, gedung ini nanti akan di selesaikan pembangunannya atau tidak. Jangan-jangan sudah selesai sidang lalu selesai juga”

Baca juga  Dompet Dhuafa Luncurkan Jaringan Global di 30 Negara

Dalam ungkapan sederhana itu, kita bisa menangkap optimisme dan pesimisme yang hadir secara bersamaan. Optimisme dan pesimisme yang serupa juga membayangi perjalanan PGI lima tahun ke depan.

Satu hal yang pasti adalah warga di Sumba sudah mempersembahkan milyaran rupiah dan berjuta cinta serta keramah-tamahan yang tak bisa ditukar dengan rupiah kepada gereja-gereja di Indonesia. Mereka memberikan pelayanan dengan tulus, namun kita semua tetap berhutang pada Sumba.

Anak-anak Sumba butuh sekolah dan ketrampilan. Tanah keras itu mempunyai sungai-sungai dan sumber air yang bisa dipakai untuk membasahi tanah-tanah kering. Mereka memiliki sapi dan kuda dengan alam yang eksotik. Mereka mempunyai harapan dan kekuatan untuk bertahan. Mereka memerlukan pendampingan, agar tidak hanya segelintir orang dan pemilik modal yang meraih sukses. Jangan lagi anak-anak Sumba yang berlari di lintasan pacu dan menghirup debu dan abu bersama kuda-kuda mereka, tetapi penjudi dan pemilik modal yang meraih untung.

Akankah Sumba diingat dalam karya pelayanan gereja-gereja dan PGI ke depan?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here