IMAN SEKOLAH MINGGU

0
304

 

Oleh: Pdt. Dr. Andreas A. Yewangoe

Kemarin, 7 Oktober 2019 dalam perjalanan dari Rantepao ke Bandara Palopo kami dihantar dengan mobil hotel. Selama perjalanan yang memakan waktu sekitar 2 hingga 2 setengah jam itu Sang Driver banyak berceritera. Ia berceritera tentang pengalamannya, suka-dukanya, petualangannya, dan seterusnya. Ia misalnya memberi alasan mengapa ia menikah dengan istrinya yang sekarang. Istrinya itu satu suku dengannya. Suku Toraja. Pada hal, katanya ia punya kesempatan menikah dengan perempuan yang tidak kalah cantiknya dari suku yang lain. Ia menyebut nama suku itu. Kalau kami di Toraja, katanya makan dengan garam saja sudah memadai. Ikan besar misalnya bisa dimakan empat kali. Kalau di suku lain itu hanya sekali makan. Karena ikannya dibuat macam-macam: ikan kuah, ikan bakar, ikan goreng, dan lain-lain.

Tetapi ada ceriteranya yang lebih menarik lagi. Ia pernah bekerja pada seorang majikan yang tidak seagama dengan dia. Majikan itu cukup berada. Ia menyiapkan segala sesuatu sebagai modal untuk berusaha. Sekalian ia minta Sang Driver menikah dengan putrinya. Tetapi syaratnya dia harus meninggalkan agamanya dan mengikuti agama majikannya. “Tentu saja saya bergumul”, katanya. Dia minta waktu untuk berfikir. “Kalau dalam tempo tiga hari ini saya tidak menelpon anda kembali berarti saya menolak.” Dan memang. Sesudah tiga hari dia tidak menelpon kembali majikannya itu. “Tidak mungkin saya meninggalkan iman saya yang sudah diajarkan sejak saya Sekolah Minggu”, tegasnya.

Beberapa tahun lalu setelah memberi ceramah di Fakultas Teologi Universitas Marburg kami dijamu makan malam oleh Dekan fakultas tersebut. Itulah universitas yang di dalamnya puluhan tahun lalu Rudolf Bultmann memberi kuliah. Dalam ngobrol-ngobrol dengan Sang Dekan, ia berceritera tentang Bultmann yang populer dengan program demitologisasinya itu. Ia berceritera tentang saat-saat terakhir Sang Teolog. Dalam kesakitannya ia dijaga dan dirawat oleh saudara perempuannya. Konon, dalam saat-saat kritis itu ia mengatakan kepada saudara perempuannya: “Saya ingin sekali kembali kepada iman Sekolah Minggu saya.”

Baca juga  Dompet Dhuafa Luncurkan Jaringan Global di 30 Negara

Ya, iman Sekolah Minggu. Jangan anggap enteng pembinaan sekolah minggu. Mungkin berbagai ceritera disampaikan dengan cara yang sangat sederhana kepada anak-anak kita. Namun ceritera-ceritera tersebut memberi dasar yang kuat bagi pemahaman dan penghayatan iman Kristen. Dr. Hendrik Kraemer pernah berbicara tentang “biblical realism” yaitu suatu realisme Alkitab yang kalau (ceritera-ceritera itu) dibedah dengan berbagai ilmu kritis alkitab mungkin berbeda cara pemahamannya. Namun tidak dapat disangkal ceritera-ceritera itu tetap mempunyai makna besar karena ia (ceritera-ceritera itu) menyentuh dimensi terdalam dari kemanusiaan kita. Jadi jangan main-main dengan pendidikan sekolah minggu. Tuhan memberkati.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here