Pdt. Elsen Tan: Gereja-gereja Sedang Krisis Kebenaran!

0
2255

 

Elsen

“Gereja-gereja saat ini sedang mengalami krisis yang yang sangat serius, yaitu krisis kebenaran. Krisis multi-dimensi yang sedang terjadi di dunia Kristen (Barat khususnya) dalam 100 tahun belakangan ini berpangkal dari krisis kebenaran, yang akar penyebabnya adalah merosotnya iman, berkurangnya iman dan semakin minusnya/minimnya pengenalan dan wawasan komprehensif akan kebenaran absolut Firman Tuhan, sebagai akibat/dampak dari teologia liberal yang dianut banyak gereja. Buta Alkitab di Barat kini sudah mencapai titik krisis.Menurut survei Barna tahun 2014, saat ini ada 26% orang AS yang tidak pernah membaca Alkitab, dan hanya 37% orang AS yang membaca Alkitab, itupun seminggu sekali atau lebih dari 1 minggu. 21% masyarakat AS menganggap Alkitab sebagai kitab dongeng-dongeng/legenda yang ditulis oleh manusia untuk mengajarkan moralitas. Di AS, semua gereja-gereja liberal kini sedang bangkrut, dan sedang membunuh dirinya sendiri. Krisis dalam peradaban dunia Barat saat ini adalah krisis kebenaran: menolak kebenaran, kehilangan penglihatan/ketajaman dan mengalami kekacauan moral. (Roma 1: 21-32)” demikian ditegaskan Pdt. Elsen Tan, M.Div., Ketua Umum Sinode Gereja Reformed Kharismatik Indonesia (GRKI), kepada Tabloid Tritunggal dan Suara Kristen, di kantornya di daerah Pantai Indah Kapuk, Jakarta.

 

Menurut Elsen Tan, “Bencana terbesar bagi gereja-gereja Protestan adalah kalau tidak bisa mempertahankan kebenaran Firman Tuhan. Banyak Gereja Protestan telah berkompromi dengan roh zaman dan menyesuaikan diri/ajaran tentang Alkitab, tidak berpegang teguh lagi pada ajaran-ajaran Alkitab dan tidak lagi menegaskan kebenaran-kebenaran yang Alkitab ajarkan bagi dunia ini. Kompromi, toleransi dan menyesuaikan diri merupakan cara baru bergereja saat ini. Akibatnya, banyak gereja saat ini sedang dalam keadaan krisis dan kelinglungan. Akar-akar kekristenanpun dengan sendirinya semakin tercabut dari masyarakat Barat. Eropa dan AS saat ini telah menjadi anak-anak yang miskin rohani (krisis rohani) dan juga miskin secara materi (krisis ekonomi),”

 

“Gereja/Kekristenan telah dirusak dari dalam melalui teologia liberal, dan idiologi-idiologi kiri (Marxis/Sosialis). Masyarakat Barat kini sudah ditransformasi secara radikal oleh idiologi Marxis/Sosialis dan humanisme sekuler sehingga akar Kristen pada kebudayaan Barat sudah dialienasi, disingkirkan, melalui proyek sekularisasi dan dekristenisasi budaya Barat.”tegas Elsen Tan dengan nada sedih.

 

Elsen Tan menilai, kondisi gereja sekarang berada pada keadaan krisis yang sama seperti masa-masa pra Reformasi. Gereja-gereja di Barat sedang menghadapi krisis buta huruf pada Firman Tuhan. Gereja-gereja sudah banyak yang tidak lagi mengajarkan bahwa Alkitab adalah Firman Allah yang berotoritas mutak, tidak bisa salah, historis dan sumber/acuan tunggal dalam norma-norma kehidupan umat manusia. Survei Barna pada bulan Juni 2014 di AS memperlihatkan bahwa 39% anak-anak yang lahir pada awal abad XXI ini tidak pernah membaca Alkitab. Geraja/umat akan binasa tanpa iman yang sejati/benar. Kegelapan abad ini memerlukan reformasi yang baru.

Baca juga  Komunisme Memang Gagal

 

Elsen Tan menegaskan, ada empat komitmen pokok yang diperlukan untuk membaharui kembali Kekristenan dan gereja-gereja.

Para pemimpin Gereja dan Gereja harus menjunjung-tinggi dan memiliki pandangan yang tinggi pada/tentang Alkitab.

Alkitab adalah dasar kehidupan Kristen. Kebangunan rohani dan Reformasi tidak akan terjadi dalam gereja kalau Alkitab tidak dikembalikan ke tempat unggulnya. Prinsip Supremasi Alkitab/Firman Tuhan harus ditegakkan kembali dalam gereja-gereja. Firman Tuhan harus direstorasi ke posisi yang sebenarnya, yang memerintah seluruh aspek kehidupan Gereja. Para pendeta harus memahami dengan benar kembali asas dokrin supremasi Firman Tuhan, tidak hanya tentang ineransi verbal, tetapi juga otoritas utama dan kecukupan absolut Alkitab. Gereja harus tegas dan radikal kembali kepada prinsip Reformasi Sola Scriptura. Umat Kristen harus setiap hari membaca Alkitab. Mengenal Firman Tuhan sangat penting dan berguna bagi umat manusia karena Firman Tuhan adalah benteng, batu karang, pelita dan penolong bagi kehidupan pribadi dan sosial kita.

Secara khusus kita harus menolak Teologia Liberal yang mendewakan akal budi (rasionalitas/intelektualitas) manusia, yang menjadikan akal budi dan sains sebagai otoritas final. Teologia Liberal berusaha merekonsiliasi kekristenan dengan sains sekuler dan pemikiran pemikiran modern dengan menjadikan sains sebagai Yang Maha Tahu dan memperlakukan Alkitab sebagai kitab dongeng dan pembohong. Pasal-pasal pertama Kitab Kejadian dianggap sebagai fantasi atau sajak saja, padahal Kristus dan para Reformator memahami kitab Kejadian secara harfiah. Doktrin Kejatuhan manusia kedalam dosa, yang menyebabkan manusia rusak secara totalpun disangkal. Sehingga, penebusan dosa oleh Kristus dan penekanan tentang pertobatan pribadi dan mandat penginjilan tidak penting dan relevan lagi bagi gereja dan umat Kristen Karena itu para teolog liberal selalu mengajarkan pandangan yang optimistis tentang masa depan manusia dan menggantikan Injil keselamatan menjadi Injil Sosial. Keadilan sosial adalah injil bagi kaum liberal. Mereka menolak bahwa Alkitab “dinafaskan oleh Allah” karena itu bagi mereka, Alkitab memiliki banyak kesalahan-kesalahan. Para teolog liberal menyangkal Ketuhanan Yesus. Mereka hanya mengakui Yesus sebagai seorang manusia dan guru moral yang baik. Kelahiran Yesus dari seorang perawan adalah ajaran palsu yang bersifat dongeng-dongeng, dan kebangkitan Yesus dari antara orang mati secara jasmaniah, juga ditolak para teolog liberal. Kepercayaan tentang adanya neraka dan hari penghakiman/kiamat juga ditolak. Karena moralitas manusia bersifat relatif, situasional, dan tidak mutlak bergantung pada Firman Allah, maka kebanyakan para teolog liberal mentolerir praktek homoseksual/lesbianisme. Kalau kebenaran Firman Tuhan tidak lagi berdaulat atas sebuah masyarakat/bangsa, maka orang tidak bisa membedakan mana yang baik dan jahat dan akan mengalami krisis. Teologi liberal adalah penolakan terhadap kekristenan yang biblikal, -teologi murtad.

Baca juga  Saatnya Redenominasi Rupiah

 

Sejak tahun 1960an sampai sekarang, gereja-gereja Protestan yang menganut teologi liberal telah kehilangan seperempat sampai sepertiga anggota gereja, bahkan ada yang telah kehilangan separuh anggota gerejanya. Gereja-gereja liberal semakin terpuruk, merosot dan sedang menuju kepada kebangkrutan. Sebaliknya, kebanyakan gereja Protestan yang Injili/fundamentalis/konservatif yang tetap memegang teologi biblikal sebagaimana digagas para Reformator semakin bertumbuh dan ekspansif. Semakin liberal sebuah gereja/denominasi, semakin ia akan kehilangan jumlah anggotanya.

 

Dimana kebenaran Injil ditegakkan disitu Kerajaan Allah hadir. Dimana Kerajaan Allah berdaulat disitu ada kemakmuran, kesejahteraan.

 

Mengarahkan para pemimpin gereja kembali kepada kebenaran-kebenatan yang ditegaskan dalam Alkitab bukanlah merupakan tugas yang mudah. Kita harus membaharui kembali kurikulum pendidikan teologia kita agar benar-benar Alkitabiah, mengajarkan kebenaran kepada calon-calon pendeta/hamba Tuhan. Bukannya menyesatkan para mahasiswa dengan teologia-teologia pro homo/lesbi dan teologia anti Akitab. Kita harus mengontrol pendidikan teologia kembali, merebut kembali seminari-seminari yang telah diinfiltrasi oleh para anti-kris, guru-guru palsu dengan teologia liberalnya yang destruktif dan manipulatif.

 

Seminari teologia adalah agen pembelajaran, pengkaderan, pendidikan, pencerahan dan sarana regenerasi kepemimpinan Kristen bagi para mahasiswa teologi, calon hamba Tuhan. Teologi yang biblikal akan memajukan, memberdayakan dan memuridkan mahasiswa; sedang teologi liberal akan memurtadkan, menyesatkan, menghancurkan dan memperdayakan mahasiswa dan umat Tuhan.

Para pemimpin Gereja dan Gereja harus memiliki pandangan yang tinggi tentang Allah dan menekankan perlunya pengalaman “perjumpaan pribadi” dengan Tuhan, pertobatan pribadi (transformasi diri), dan kedaulatan Tuhan atas setiap pribadi.

Reformasi baru akan terjadi apabila umat Tuhan memiliki pandangan yang agung dan mulia tentang Allah yang Maha Kudus, transenden, imanen, berdaulat atas segala sesuatu. Keadaan Gereja-gereja yang tidak sehat saat ini adalah karena sikap dan cara pandangnya kepada Allah sangat rendah. Dengan filsafat-filsafat yang humanis-atheis manusia menyingkirkan peran Tuhan dari kehidupan umat manusia dan umat Tuhan. Hanya dengan restorasi pemikiran yang mengagungkan dan meninggikan Tuhan, gereja baru bisa mempunyai pengaruh pada dunia lagi.

Baca juga  Komunisme Memang Gagal

Para pemimpin Gereja dan Gereja harus memiliki pandangan yang tinggi/agung tentang mimbar.

Saat ini mimbar-mimbar di banyak gereja perlu direformasi lagi. Kotbah dan penyampaian Firman Tuhan yang penuh kuasa, yang mengagungkan Kristus, yang bisa mengubah hati dan menobatkan orang berdosa, harus menjadi pusat kotbah kembali. Kalau kita membaharui mimbar itu berarti kita membaharui gereja. Tidak boleh ada orang-orang najis, pesundal-pesundal, penjinah-penjinah, penghujat Alkitab, orang-orang murtad, apalagi pendeta-pendeta homo dan lesbi yang naik ke mimbar Tuhan! Hanya hamba-hamba Tuhan yang benar-benar takut akan Allah, yang telah lahir baru, hidup suci, penuh Roh, berpegang pada standar-standar Alkitab, diurapi oleh Roh Kudus dan nabi-nabi sejati yang boleh naik ke mimbar Tuhan.

Dalam masa-masa kritis ini, para pendeta harus bisa menyampaikan kotbah-kotbah biblikal yang transformatif, penuh kuasa, memuliakan Allah dan mengagungkan Kristus. Kita perlu dan kiranya Tuhan memberikan pengkotbah-pengkotbah besar seperti Luther, Calvin, Wesley, Bunyan, Whitefield, Edwards, Billy Graham, Stephen Tong dan lain-lain untuk menggerakkan gerakan pembaharuan dan kebangunan rohani besar lagi bagi generasi ini. Agar terjadi kebangunan rohani dan reformasi yang baru pada saat-saat krisis, kita perlu generasi bentara-bentara yang baru, seperti para Reformator dan Revivalis Kebangunan Rohani Protestan, yang berani dan alkitabiah dalam kotbah-kotbah mimbar.

Kita harus berdoa agar Tuhan melawat AS dan Eropa kembali dengan kebangunan-kebangunan rohani besar untuk membalikkan kecenderungan-kecenderungan negatif ini sebelum benar-benar terlambat. Kita harus berdoa untuk kebangunan rohani dan reformasi biblikal jilid II terjadi di Barat.Kita harus memperbaharui pikiran kita dengan membaca seluruh Alkitab. Mempelajari buku-buku tentang Reformasi dan tokoh-tokoh Reformasi.

“Hanya dengan menolak relativisme moral dari kaum sekularis abad XXI, peradaban Barat dapat diselamatkan. Hanya dengan kembali kepada Alkitab dan Tuhan Yesus Kristus, peradaban Barat bisa pulih, bangkit dan unggul kembali. Kalau tidak, peradaban Barat akan menghancurkan dirinya sendiri.”tegas Pdt. Elsen Tan saat mengakhiri percakapan dengan Tritunggal dan Suara Kristen (Hotben Lingga)