Prof. Dr. Rhenald Kasali Memberikan Kuliah Umum di STT REM

0
1320

 

 

Jakarta, Suarakristen.com

 

Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Rhenald Kasali, memberikan kuliah umum dengan topik tentang Fenomena ‘Disruption’ di civitas akademi dan kampus STT Rahmat Emmanuel (STT REM), di Jakarta (8/1/18).

 

Rhenald Kasali menyatakan saat ini dunia sedang mengalami perubahan besar (revolusi). Revolusi, yang saat ini tengah terjadi dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat, tidak bisa dihindari.

Perubahan itu, tegas Rhenald, dimotori oleh perkembangan teknologi informasi. Ia menyebutkan bahwa kini masyarakat berada dalam gelombang ketiga perubahan yang dipengaruhi terutama oleh teknologi informasi.

 

Mengutip Alvin Toffler dalam buku The Third Wave, Rhenald menyebutkan, gelombang pertama revolusi tersebut terjadi sekitar tahun 1990-an. Gelombang tersebut dikenal dengan istilah connectivity, dalam periode ini internet baru saja lahir.

 

Kemudian pada awal abad ke-21, masyarakat memasuki gelombang selanjutnya, yakni ketika masyarakat mulai berpikir untuk mengisi keterhubungan tersebut. Ditandai dengan munculnya berbagai media sosial. Akhirnya, gelombang ketiga yang sedang terjadi saat ini: disruption.

 

“Sekarang kita masuk gelombang ketiga. Itu memindahkan dunia yang sebenarnya ke dalam dunia yang tidak kelihatan,”ungkap Prof. Rhenald lebih lanjut.

 

Dalam gelombang disruption ini, Rhenald menegaskan, masyarakat tengah menutup sebuah zaman. Bukan akhir zaman sebagaimana diramalkan oleh banyak orang, melainkan hanya mengakhiri sebuah zaman dan memulai zaman yang baru. Sebuah zaman yang menjadi tantangan besar bagi para perusahaan incumbent besar bereputasi yang selama ini berdiri kokoh.

 

Kompetitor yang ada saat ini adalah kompetitor yang tak kelihatan. Misalnya perusahaan-perusahaan taksi yang memiliki kompetitor taksi online yang tak memiliki gambaran fisik taksi sebagaimana lazimnya. Begitu juga dengan aplikasi online ojek yang mendistrupsi ojek konvensional.

Baca juga  INSPIRASI HUNIAN NYAMAN DENGAN HARGA HEMAT DI INFORMA WOW SALE

 

“Jika usahawan, regulator dan politisi sering mengabaikan apalagi tidak paham perkembangan teknologi, maka dikhawatirkan dapat mengganggu pertumbuhan perekonomian Indonesia. Padahal, kini dunia tengah berada dalam era disrupsi,” pungkasnya.

 

Dalam gelombang disrupsi ini, orang-orang yang terperangkap dalam tradisi akan merasa cemas dan gugup dalam menghadapi perkembangan dunia. Tradisi memang baik namun, kata Rhenald, tradisi juga perlu diperbaharui.

 

Kita harus punya cara pandang baru untuk memahami perubahan yang tengah terjadi. Sehingga dapat mengambil sikap yang relevan di hadapan perubahan tersebut.

 

Mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita akan menghadapi era Disruption, era dimana kehidupan semakin dinamis di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat berubah. Era disruption menantang kita bagaimana menghadapi musuh yang tidak kelihatan.

 

Prof. Rhenald Kasali, Ph.D menegaskan, pada dasarnya manusia takut akan perubahan. Itu sebabnya banyak orang, khususnya generasi ‘Old’, tidak suka bahkan melakukan perlawanan terhadap perubahan atau Reformator (Pelaku Perubahan) karena dianggap mengancam kehidupan mereka.

 

“Itu sebabnya banyak orang stress bahkan bunuh diri ketika kehidupan atau prestasinya menurun,” imbuh Rhenald

 

“Era disruption menantang kita bagaimana menghadapi musuh yang tidak kelihatan.”

 

Pada kuliah umum bertema ‘DISRUPTION’tersebut, Rhenaldi mengingatkan bahwa di era disruption, orang yang memiliki pendidikan (ijazah) tinggi belum tentu hidupnya berhasil. Yang berhasil adalah mereka yang bekerja keras dengan kreatif, inovatif dan inisiatif.

 

“Kita masuk kerja dengan ijazah, tetapi orang mendapatkan jabatan dan penghasilan tinggi karena kinerja. Google ngambil karyawan bukan lagi ijazah tapi punya kemampuan apa? Anda bisa apa?,” jelasnya.

 

Menurut Rhenaldi, era disruption dimana penemuan (Teknologi dan Inovasi) baru semakin cepat, dengan sendirinya menghabisi produk dan bisnis lama dan menghasilkan produk dan bisnis baru.

Baca juga  ARMADA MENJEMPUT JODOH

 

“Ojek online dan shooping online contohnya. Disruption juga menghabisi professional job menjadi virtual job. Kondisi ini sesungguhnya bukan mengurangi lapangan kerja dan menambah pengangguran tetapi memunculkan profesi baru dan lapangan kerja baru. Siapa yang siap?,” paparnya.

 

Sekarang, kata dia, anal-anak generasi mendatang harus dipersiapkan memiliki mental yang baik, yakni, fokus, terus mengembangkan kemampuan diri menjadi inovatif dan kreatif dan memiliki sifat inisiatif.

 

“Sayangnya banyak orangtua salah mendidik anak dengan memanjakan mereka dengan berbagai kemudahan dan fasilitas, tidak memberikan kepercayaan diri dan memaksakan keinginan demi rasa bangganya kepada anak. Generasi milinea saat ini maunya serba instan,happy, mudah dan santai mendapatkan uang, cepat menyerah dan putus asa serta tidak fokus,” terangnya.

 

Menurut dia, orangtua yang notabene mendapat pola didikan masa lalu memaksakan pola didikannya kepada anak jaman sekarang. Padahal harusnya, tambah Rhenaldi, didikan pada anak harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi jamannya.

 

“Anda mau membawa masa lalu ke masa sekarang atau membawa masa depan ke masa sekarang?,” ujarnya.

 

Sementara itu, Ketua Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat, Agung Supriyono,  menegaskan, saat ini durasi masyarakat menonton tayangan Televisi (TV) menurun sebesar 12 menit sementara penonton internet naik 18 menit per tahun.

 

“Sekarang anak-anak sudah tidak nonton televisi lagi, mereka lebih suka menonton di smartphone atau iPad. Anak saya saja nangis kalau sehari tidak dikasih iPad,” kata Agung.

 

Di era Disruption, menurut Agung, setiap hari rata-rata orang nonton internet melalui smartphone atau ipad 180 menit per-hari. Diperkirakan pada Tahun 2030 penyiaran televisi dan radio sudah tidak ada lagi.

Baca juga  Menparekraf: Pelaksanaan Protokol Kesehatan Kunci Keberhasilan Pemulihan Pariwisata Nasional

(Epha)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here