SEKILAS TENTANG BALI

0
145

Bali, Pulau Dewata, pulau kecil dengan daya tarik besar, sampai menghasilkan banyak devisa. Sejak lama banyak wisatawan lokal dan manca negara yang tidak bosan-bosan mengunjunginya. Dari yang berkulit putih, Jepang dan bahkan dari daratan Tiongkok juga membanjiri Bali, terutama sejak hilangnya Pesawat MH370 yang sampai saat ini entah di mana keberadaannya.
Kembali ke Bali, terpicu oleh keluhan seseorang yang pernah beberapa lama tinggal di Bali, beliau mengajukan keluhan dan usulan ke instansi setempat, maka kita akan sejenak berkunjung ke Pulau Dewata.

1. Salah satu yang dikeluhkan para wisatawan adalah tidak adanya jembatan penyeberangan dan beliau mengusulkan untuk membuat jembatan penyeberangan yang dapat dibuka tutup jika ada upacara keagamaan. Nah ini baru benar-benar baru ! Sebuah jembatan penyeberangan yang dapat dibuka tutup ? Mengapa? Untuk apa dan mengapa harus dapat dibuka tutup jika ada upacara keagamaan ?

2. Dengan daya tarik yang luar biasa Bali otomatis semakin padat namun mengapa hampir tidak ada gedung apartemen dan atau hotel yang tingginya lebih dari 15 meter (4 lantai) ? Satu-satunya hotel di pinggir pantai yang tingginya 10 lantai adalah Hotel Inna Grand Bali Beach. Mengapa? Hotel ini dibangun tahun 1963 dan mulai beroperasi Nopember 1966, sedangkan peraturan batas maksimal 15 meter ketinggian bangunan baru ada tahun 1971. Pada tanggal 20 Januari 1993 seluruh bangunan dan isi hotel ini mengalami kebakaran hebat namun kamar nomor 327 yang terletak di tengah hotel ini tetap utuh dan sama sekali tidak terbakar. Konon kamar ini adalah kamar pribadi mendiang Presiden Soekarno untuk mengadakan rapat dengan Nyai Roro Kidul.

3. Tahun 1996 berdiri Hotel Grand Nikko (5*) di Nusa Dua yang tingginya 40 meter (15 lantai) jika dihitung dari Pantai. Hotel ini dibangun di antara pantai dan bukit batu cadas. Mengapa hotel ini mendapatkan izin padahal melebihi batas ketinggian 15 meter (maksimal 5 lantai) ? Namun jika di-ukur dari permukaan Bukit yang persis ada di belakang hotel ini hanya 4 lantai yang menyumbul (muncul) melebihi ketinggian Bukit tersebut

Baca juga  Kadispenad Kembali Gelar Halal Bihalal Dengan Awak Media untuk Mempererat Komunikasi dan Kemitraan

4. Peraturan batas ketinggian bangunan sebenarnya bukan hanya ada di Bali. Di beberapa tempat di belahan Indonesia dan dunia pun ada peraturan ini, walau pun mungkin dengan alasan yang berbeda-beda, contoh :
a. Di Banda Aceh ada peraturan yang membatasi tinggi bangunan tidak boleh melebihi ketinggian Mesjid Agung dalam radius tertentu.
b. Di Frankfurt, Jerman, ada undang-undang yang mengatur tata letak kota serta tinggi bangunannya. Salah satu aturan yang terkenal adalah tinggi bangunan tidak boleh melebihi tower/menara lonceng gereja. Undang-undang yang sama diberlakukan juga di kota-kota kecil lainnya kecuali kota-kota besar seperti Berlin, Muenchen dan Hamburg.
c. Greenwich Village Historic Distric di New York juga menerapkan pembatasan ketinggian bangunan maksimal 12 lantai.
d. Pusat Kota Paris menerapkan batas maksikmal ketinggian bangunan 83 feet (25,3 meter).
e. Sejak tahun 1991, Kota Mumbai di India menerapkan batas tinggi maksimal yang sangat ekstrim yaitu 1,3 lantai. Sehingga sejak tahun tersebut tidak ada lagi bangunan baru dengan tinggi lebih dari 1 lantai.

5. Kita kembali ke Bali, sebelum Mei 2013, pengguna jalan dari Denpasar ke Bandara Ngurah Rai, Nusa Dua, akan melewati sebuah persimpangan yang diberi nama Simpang Siur. Dinamakan demikian karena untuk jarak 15 km yang pada waktu malam yang lenggang hanya dibutuhkan 20-30 menit, jika ditempuh pada jam kerja akan memerlukan waktu antara 1-2 jam! Bahkan bisa lebih lama lagi pada saat week-end dan musim liburan panjang. Oleh karena itu sejak sebelum tahun 2007 telah diwacanakan untuk mengatasi masalah kemacetan tersebut. Wacana pertama dengan membuat jembatan / fly-over banyak ditentang oleh hampir semua kalangan karena di persimpangan tersebut berdiri sebuah patung yang bernama Patung Dewi Ruci sehingga akan mengangganggu keberadaan/eksistensi Patung Dewi Ruci tersebut. Maka dibuatlah wacana ke dua yaitu membuat terowongan / under-pass. Wacana ini pun awalnya menuai pro dan kontra di masyarakat. Salah satu alasan yang menolak adalah jika ada kegiatan keagamaan akan dianggap “leteh” (kotor secara spiritual) jika mereka “mesulub” (melintas di bawah benda-benda yang dianggap kotor di atas kepalanya dalam jarak tertentu). Jika mereka terpaksa melewatinya, maka setelahnya harus dilaksanakan upacara pembersihan yaitu “Prastista”. Akhirnya pada tahun 2007 dilaksanakan studi kelayakan proyek dan pada bulan Mei 2013 Bali mempunyai terowongan/under-pass untuk yang pertama kalinya yang diberi nama Underpass Dewa Ruci. Underpass Dewa Ruci ini banyak mengurangi kemacetan di Simpang Siur apalagi pada Oktober 2013 diselenggarakan KTT APEC di Nusa Dua.

Baca juga  Kepala BMKG Terpilih Sebagai Anggota Dewan Eksekutif World Meteorological Organization (WMO)

6. Masyarakat Bali mempercayai bahwa “ketinggian” adalah untuk HYANG ILAHI. Dunia Tengah untuk manusia dan Dunia Bawah untuk roh-roh jahat. Sejak zaman dahulu masyarakat Bali meyakini bahwa Alam Semesta membentang dari Surga di atas gunung menuju kedalaman laut. Segala sesuatu di alam semesta memiliki arah, kedudukan dan tempat. Segala hal yang dianggap suci/sakral, dihubungkan dengan ketinggian, sementara semua ancaman dan bahaya berasal dari kekuatan “dunia bawah”. Kediaman manusia terletak di dunia penegah yaitu dataran subur di antara gunung dan laut. Tugas manusia adalah mengupayakan keseimbangan dan harmoni antara 2 kekuatan yang saling bertolak belakang tersebut.

7. Di akhir dari tulisan singkat ini mari kita kita sedikit mempelajari sebagian dari falsafah dasar kepercayaan masyarakat Bali :

a. Keyakinan masyarakat Bali tidak mengklaim bahwa hanya kepercayaan mereka yang dapat membawa pembebasan dan kebaikan bagi seluruh umat manusia.

b. Mereka juga tidak mengklaim kebenaran apalagi mengklaim suatu tempat yang ILAHI di alam sana sementara penganut keyakinan lain adalah sesat, gelap dan akan masuk ke tempat yang mengerikan.

c. Dalam Kitab Suci mereka ada doktrin/ajaran yang sangat terkenal yang berbunyi : “ orang-orang bijak mengatakan bahwa hanya ada 1 kebenaran namun diberi nama yang berbeda”. Itulah sebabnya mengapa umat Bali tidak melakukan pengalihan keyakinan apalagi yang disertai dengan kekerasan dan atau perang atas nama HYANG ILAHI dengan iming-iming apa pun.

8. Masyarakat Bali telah memberikan teladan nyata yang sangat arif dan bijaksana ketika mereka 2 kali mengalami teror bom.

Semoga tulisan singkat ini menggugah kita semua untuk meneladani mereka dan bukan cuma menikmati pulau nya saja.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here