Pdt. Weinata Sairin:”Qui monet, quasi adjuvat.Orang yang memberi nasihat itu bagaikan orang yang memberi bantuan”.

0
406

Pengalaman itu bagaimanapun bentuk dan wujudnya amat penting dalam memberi kontribusi dan pembelajaran bagi kehidupan seseorang. Itulah sebabnya dalam rekrutmen karyawan PNS atau swasta, bahkan dalam menjaring serta pemilihan kepemimpinan, faktor pengalaman menjadi bahan pertimbangan yang sangat penting. Pengalaman adalah kumpulan peristiwa-peristiwa penting yang pernah dihadapi seseorang serta respons seseorang dalam menanggapi peristiwa tersebut.

Bagi mereka yang tekun dan suka menulis, setiap peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya setiap hari selalu dicatat dalam buku harian/book diary. Catatan itu amat penting terutama untuk masa 5-10 tahun mendatang agar seseorang dapat memahami dengan lebih baik peristiwa yang terjadi dimasa yang lalu untuk merumuskan langkah-langkah kedepan.

Orang yang mau belajar dari pengalaman akan makin mantap dan lebih mandiri dalam menjalani kehidupannya. Bahkan mereka akan lebih terbuka kemungkinannya untuk mengalami keberhasilan dalam hidupnya. Siapa yang tak ingin berhasil dalam hidup, dalam menggapai cita-cita, dalam berkarya diberbagai bidang?

Pengalaman yang baik/positif atau pengalaman yang buruk/negatif tetap memiliki makna bagi setiap orang. Kedua dimensi pengalaman itu, baik atau buruk harus dikaji dan dianalisis apa sebab-sebabnya sehingga seseorang dalam perjalanan kedepan tidak akan “jatuh pada lubang sama”. Dari realitas empirik memang ada orang yang dicekam perasaan traumatik tatkala mengingat kejadian dimasa lalu. Lebih jauh dari itu dalam kasus-kasus tertentu ada orang yang sangat terpukul dengan peristiwa yang pernah mereka alami.

Pencatatan peristiwa itu justru untuk melakukan evaluasi agar perjalanan kedepan bisa lebih baik dan mencapai keberhasilan. Bukan untuk melestarikan pengalaman traumatik yang membuat seseorang tak mampu memandang masa depan dengan lebih jernih. Banyak orang besar yang kemudian berhasil karena mereka menganalisis kegagalan dan kejatuhan mereka dan berdasarkan hal itu mereka merumuskan langkah-langkah ke masa depan.

Setiap orang harus memiliki kebesaran jiwa untuk melupakan “lubang-lubang hitam” dan “akar pahit” dalam setiap sejarah dan episode kehidupan. Dengan begitu seseorang akan bisa “membuat jarak” dengan peristiwa kelam itu sehingga bisa melakukan analisis dengan lebih tenang. Kebesaran jiwa, lapang dada, adalah semacam ‘pengosongan diri’ yaitu ketika mau melupakan status dan jabatan kita yang ada di puncak dan melakukan sesuatu yang dianggap kontradiktif dengan status dan jabatan kita.

Pengosongan diri (Yunani : *kenosis*) itu penting agar kita tidak terpenjara pada kerutinan yang tak perlu sehingga kita lebih mampu memahami realitas konkret yang kita hadapi. Ada kisah zaman baheula tentang kebesaran jiwa yang tetap menarik untuk menjadi inspirasi.

Thomas Jefferson tahun 1784 ditunjuk sebagai duta besar untuk Perancis menggantikan Benyamin Franklin yang sudah lama mengabdi dan memberikan pelayanan yang tiada ternilai sebagai seorang duta besar. Jefferson diperkenalkan kepada Perdana Menteri Perancis yang lalu bertanya kepadanya: “Aku dengar kau menggantikan Dr Franklin. Apakah benar?” “Tuan” kata Jefferson dengan hormat dan sopan. “Aku menempati tempatnya tetapi tidak seorangpun mampu menggantikannya”.

Itulah kebesaran jiwa seorang Thomas Jefferson yang patut diapresiasi. Ia tidak membanggakan atau “memegahkan” jabatannya. Ia sengaja bermain kata disitu agar jabatan barunya tidak seolah “meninggikan dirinya”. Di Indonesia pola-pola jawaban yang diungkap Jefferson itu cukup banyak yang menggunakannya. Di Kantor Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) sejak tahun 2005 hingga sekarang tradisi itu tetap terjaga.

Pepatah kita menyatakan bahwa orang yang memberi nasihat itu bagaikan orang yang memberi bantuan. Orang yang memberi nasihat itu pada umumnya orang yang punya pengalaman banyak, bertindak bijak jam terbangmya tinggi. Lembaga-lembaga kita, baik lembaga pemerintahan maupun swasta kesemuanya merekrut Penasihat untuk duduk dalam lembaga mereka. Penasihat dalam kapasitasnya masing memberi nasihat yang diperlukan bagi sebuah lembaga. Nasihat itu adalah bantuan en concreto bagi mereka membutuhkannya.

Mari bantu kawan-kawan dan saudara kita untuk memberi nasihat yang perlu dalam kehidupan mereka.

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here