Pdt. Weinata Sairin:”Optanda mors est sine metu mortis mori.Kematian yang didambakan adalah mati tanpa takut pada kematian itu sendiri.”

0
550

Mati, kematian adalah bagian integral dari kefanaan, kesementaraan. Kematian adalah ujung, muara, titik kulminasi dari seluruh kiprah manusia didunia ini. Kematian adalah lembar terakhir dari ‘buku kehidupan’ yang tersedia di dunia fana. Namun dalam perspektif teologi agama-agama, kematian bukanlah kata terakhir dari kemanusiaan.

Menurut agama-agama, sesudah kemah yang ada di dunia ini dibongkar, maka manusia akan memasuki sebuah ‘rumah baru’ yang di desain oleh Allah sendiri sebagai ruang bagi manusia untuk menorehkan sejarah baru dalam sebuah dunia yang sama sekali baru.

Dunia orang mati konon adalah sebuah dunia yang amat sepi. Tak ada kegaduhan, tak ada kehebohan, tak ada interupsi dan bisik-bisik, tak ada cyber crime, tak ada hoax, tak ada gratifikasi, tak ada demo, tak ada hoax, tak ada apapun. Sepi dan sepi. Adalah Milan Dedinac, penyair Yugoslavia kelahiran tahun 1902 mengungkapkan dengan amat plastis apa makna kematian itu.

Berkata Milan lewat puisinya :
*”Alangkah sepi mereka yang mati”.*

Alangkah sepi mereka yang mati/ Kawan!/ Disini dimana orang mati sendiri/

Betapa suram mereka menyeret diri/ Perlahan!
Maduk hari penuh bencana/
Maut disini kejam/ Kawan!
Dimana padang terlalu lapang/
Dimana langit tinggi/
tinggi diluhur/

Disini dimana kita sekelumit/
Begitu srngsara ditinggal/
Diatas padang hitam/
Dibawah langit/
Dimana yang satu/ menerjuni medan/
Yang lain diam diambang pintu/
Dimana masuk rumput dan padang/
Jalanan lesu menuntun kita.

( Sumber : “Puisi Dunia” I Oleh M. Taslim Ali, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1961)

Milan Dedinac dalam puisinya ini melihat kematian sebagai peristiwa biasa. Tak ada romantisme tentang kematian yang membuat seseorang terharu dan atau mencucurkan airmata. Milan mencoba memaknai kematian ini dari aspek suasananya, iklimnya, suasana yang sepi.

Bagi Milan, kuasa kematian itu amat kuat, powefull sehingga seorang yang berada dalam cengkeram dan genggaman maut nyaris kehabisan daya. Ada kondisi suram dan lesu yang menyekitari dunia kematian. Tak ada narasi Milan tentang kuasa Sang Khalik yang sebenarnya adalah kuasa yang paling penting dalam konteks hidup dan mati manusia.

Jika kita bandingkan dengan puisi Kuntowijoyo dalam buku kumpulan puisinya berjudul “Isyarat” (PT Pustaka Jaya, Jakarta, 2000) kita merasakan nuansa yang berbeda. Dalam puisinya berjudul “Mengubur Jenazah”, bait pertama ia menyatakan :
“Di makam/
Ruh tidak bersatu dengan bumi/
Mereka kembali ke Kesongan/
Sedang bunga kamboja/
Mengabarkan hari sudah sore/
Selalu sudah sore
Pada pengunjungnya/

Ada suasana ‘mistis’ mewarnai puisi Kuntowijoyo tatkala dengan agak filosofis ia bicara tentang “ruh yang tidak bersatu dengan bumi” dan tentang bunga kemboja yang ia kaitkan dengan “hari sudah sore”. Alegori-alegori tentang bunga kamboja dan “sore hari” yang bertendens menunjuk kearah kematian menimbulkan kesan tersendiri pada puisi Kuntowijoyo.

Semua agama telah berbicara dengan amat jelas tentang maut, kematian. Jelas dalam arti bahwa hidup manusia di dunia ini bermuara pada kematian. Dan bahwa kematian adalah semacam ‘terminal antara’ sebelum seseorang memasuki era baru dalam ‘dunia baru’. Hanya memang bagaimana detil dan teknisnya hidup manusia pada era baru itu agaknya agama-agama belum memberikannya.

Dalam konteks kebelumjelasan itulah mengapa pada umumnya manusia mengalami ketakutan dalam menghadapi kematian. Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini mengingatkan kita agar kita menyongsong kematian tanpa harus takut pada kematian itu sendiri. Kita songsong kematian dengan iman teguh dan tangguh. Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan Yang Maha Esa yang memiliki Kuasa di bumi dan di surga akan menolong dan memberkati kita semua sehingga kita bisa memasuki era baru di dunia baru sesuai dengan cinta dan kasihNya.

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here