PDT.WEINATA SAIRIN: KITA MENUAI, APA YANG KITA TABUR

0
23

 

Oleh:  Weinata Sairin

 

_”Tibi seris, tibi metis. Engkau menabur untuk dirimu dan menuai untuk dirimu pula”_

Diksi “menabur” dan “menuai” amat dikenal dalam sebuah dunia agraris. Dua kata ini digunakan dalam satu “paket” oleh karena kedua kata itu dalam praktik memang memiliki kedekatan, keeratan. Seorang petani yang menabur benih padi dari jenis XY maka ia pada saat tertentu, lebih kurang 6 bulan, akan menuai padi jenis XY juga kecuali panennya diserang hama, atau kekeringan, kebanjiran sehingga panen menjadi puso, tidak berhasil. Jika sang petani, mas Kusno menabur benih XY maka ia pasti akan menuai padi jenis XY juga, bukan jenis XXI misalnya.

Dalam dunia nyata, tidak dalam fiksi, tidak pernah terjadi ada beda antara apa yang ditabur dengan apa yang dituai. Tak pernah terjadi sebagaimana yang didendangkan Broery Pesolima ada “buah semangka yang berdaun sirih”.

Pada waktu sawah-sawah dengan rumpun padi menghijau masih terhampar luas di beberapa daerah di Jawa Barat, antara lain di wilayah-wilayah Bekasi, Karawang, Cikampek, Sukamandi, Subang, Purwakarta, dibulan-bulan tertentu kita menyaksikan banyak para petani yang sibuk membajak sawah, atau beberapa ibu yang menabur benih, menandur, membersihkan dan mengatur pengairan dilingkup pesawahan, yang kemudian sesudah lewat 6 bulan datanglah masa panen, masa menuai sebagai masa yang amat ditunggu oleh para petani.

Masa menabur adalah masa-masa sulit bagi para petani, khususnya petani penggarap yaitu petani yang tidak memiliki sawah. Mereka bekerja untuk para majikan atau “bos” yang memiliki berhektar-hektar sawah bahkan di beberapa tempat. Masa menabur itu juga diikuti dengan pemberian pupuk untuk tanah di sawah itu, pengairan yang cukup, merawat pohon padi dari ancaman wereng, membersihkkan tanaman padi dari rerumputan yang mengganggu pertumbuhan padi. Kesemua itu dilakukan dengan telaten, sabar dan cermat sampai tiba masanya padi dituai.

Baca juga  MEMULAI KARIR MUSIK MELALUI JEJARING SOSIAL MEDIA, RAHMANIA ASTRINI MEMBUKTIKAN DIRINYA MEMILIKI TALENTA DAN KUALITAS MUSIK YANG MUMPUNI

Cerita hamparan sawah dengan padi menguning di daerah Bekasi dan sekitarnya itu, terjadi lebih kurang dua puluh tahun yang lalu. Wilayah-wilayah itu dulunya menjadi lumbung padi di provinsi tatkala sawah-sawah di situ belum diserbu dengan dunia industri dan kompleks perumahan. Ketika sawah-sawah selesai dipanen, ada banyak lio, tempat pembuatan genteng dan batu bata yang dibangun di pesawahan itu sambil menunggu musim menuai tiba. Tatkala kompleks perumahan dan dunia industri hadir disawah-sawah itu maka lio-lio itu tinggal menjadi catatan sejarah.

Pada perkembangan selanjutnya kata “menabur” dan “menuai” tidak lagi hanya dikaitkan dengan dunia “bercocok-tanam”. Kata “menabur” dan “menuai” tidak melulu disangkutkan dengan menabur benih dan menuai hasil dari benih yang ditabur itu. “Menabur” dan “menuai” acap dikaitkan dengan perbuatan seseorang dalam relasinya dengan orang lain.

Sering kali ketika seseorang melakukan perbuatan yang tidak baik ditinjau dari segi agama dan ketentuan hukum yang berlaku, dan kemudian pada suatu saat orang itu mengalami musibah atau menderita sakit yang berat, maka banyak orang yang menyatakan bahwa orang yang terkena musibah itu sebagai orang yang “menuai dari apa yang dulu ditabutnya”.

Andaikata ada pejabat yang kena OTT dan kemudian dijebloskan kedalam penjara sesudah diproses peradilan dan mendapat keputusan yang berkekuatan hukum tetap, maka publik akan mengatakan bahwa orang itu menuai dari apa yang ditaburnya. Artinya, diksi “menabur” dan “menuai” itu di zaman digital sekarang ini lebih dugunakan dalam konteks perbuatan dan atau etika seseorang.

Perkembangan tentang pemaknaan diksi “menabur”dan “menuai” secara baru sesuai dengan konteks kekinian bisa saja terjadi oleh karena bahasa memang hakikatnya adalah sebuah “kesepakatan bersama”.

Baca juga  Seminar Lingkungan Hidup Mengawali GCDT IV di Baktiraja

Pepatah yang dikutip dibagian awal menyatakan “engkau menabur untuk dirimu dan menuai untuk dirimu pula”. Itu berarti selama kita masih bernafas kita harus menabur perbuatan yang baik dan positif baik dari segi agama maupun undang-undang sehingga kita pada saatnya nanti kita juga akan menabur yang baik, yang bermakna bagi pribadi kita atau bagi orang banyak. Kita menabur yang baik bagi keluarga, komunitas, bagi masyarakat, bangsa dan negara. Itu harus menjadi komitmen kita.!

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here