Pdt. Weinata Sairin:”Aut inveniam viam aut faciam. Aku akan menemukan jalan, atau kalau tidak aku akan membuat jalan itu sendiri”.

0
1277

Hidup manusia erat sekali bahkan membutuhkan “jalan”. Jalan dalam arti real, yang menghubungkan tempat yang satu dengan tempat yang lain, atau ‘jalan’ dalam arti yang agak metafora yang non-real. Sedemikian pentingnya “jalan” para komposer atau penyanyi tidak ketinggalan untuk melantunkan lagu yang menyinggung kisah tentang “jalan” misalnya Pance Pondaag “Kucari Jalan Terbaik” atau Broery Pesolima “Sepanjang Jalan Kenangan” atau juga “My Way”nya Frank Sinatra.

“Jalan”, “street” dalam arti real, melalui media massa, sering kita baca menjadi salah satu pemicu konflik. Pernah terjadi, pengembang/developer disuatu kawasan menutup jalan masuk di kawasan itu demi keamanan warga. Namun penutupan jalan itu tidak dipertimbangkan dengan masak dampaknya, karena jalan menuju tempat ibadah juga ikut terhambat dengan adanya penutupan itu. Akibatnya warga memprotes penutupan jalan itu dengan mengadakan demo besar-besaran yang membuat kegaduhan baru di kompleks perumahan itu.

Berdasarkan informasi yang terhimpun kita juga mencatat berbagai pengalaman praktis ketika pembuatan “jalan” baru atau pelebaran “jalan” juga memicu konflik. Pembuatan “jalan” baru seringkali menimbulkan permasalahan terutama oleh karena perhitungan harga tanah yang ditetapkan pemerintah acap kali lebih rendah dari yang sebenarnya/harga pasar.

Hal yang cukup menarik untuk dicatat adalah bahwa dalam KBBI didaftarkan lebih dari 10 makna yang berkaitan dengan kata “jalan”. “Jalan” adalah tempat untuk lalu lintas orang atau kendaraan. Selain itu “jalan” juga difahami sebagai “cara untuk melakukan sesuatu”. Hal itu nampak dari kalimat berikut. “Jangan kuatir, masih ada jalan lain untuk bisa menemukan solusi dari apa yang diusulkan oleh warga jemaat tadi.

“Jalan” dalam cakupan arti yang lebih luas, yang berbeda dari ‘jalan’ yang biasa banyak digunakan oleh agama-agama. Baik agama Islam, Kristen maupun Hindu, Buddha, Khonghucu menggunakan istilah ‘jalan’ dalam menyampaikan pesan-pesan inti dari agama. Dalam kekristenan misalnya adalah Yesus yang menyatakan diriNya sebagai Jalan dan Kebenaran dan Hidup untuk memandu manusia menggapai keselamatan sejati. Metafora “Jalan” untuk menjelaskan tentang kedirian Yesus amat populer dikalangan warga gereja.

Sepanjang yang bisa disimak dari berbagai literatur, agama Islam mengenal “jalan lurus” (Shiratal mustaqim). Dalam Surat Al Fatihah dinyatakan “tunjukkanlah kami jalan yang lurus…” Manusia akan mengalami keselamatan abadi jika ia berjalan pada “jalan lurus” sebagaimana yang diajarkan oleh agama Islam.

Dalam agama Buddha kita mengenal kata “jalan” dengan sangat filosofis. Jalan Utama Berunsur Delapan, yang acap disebut “Jalan Delapan” merupakan ajaran utama agama Buddha yang menjelaskan “jalan” menuju lenyapnya penderitaan dan mencapai pencerahan. Delapan jalan itu meliputi : pengertian benar, pikiran benar, ucapan benar, perbuatan benar, pencaharian benar, daya upaya benar, perhatian benar, konsentrasi benar. Tentu saja tidak mudah dan sederhana untuk mewujudkan 8 jalan itu apalagi dengan tambahan kata “benar”.

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini memberikan gambaran pentingnya seseorang untuk terus berjalan, berkarya, memberi yang terbaik dalam hidup ini. Kita sedang berjalan pada jalan kita, jalan keagamaan kita masing-masing, tapi juga pada jalan kebersamaan, jalan keindonesiaan,yang diterangi dan dinafasi oleh roh Pancasila dan UUD NRI 1945. Jalan kebersamaan, jalan keindonesiaan ini adalah komitmen yang sejak awal kita ikatkan pada kedirian kita masing-masing tanpa mempersoalkan suku, agama, golongan, fraksi, strata sosial, dlsb.

Kita sudah menemukan jalan itu, Pancasila, UUD NRI 1945, adalah jalan kita, the way to the New Indonesia Raya. Mari berjalan terus walau jalan ini penuh kaktus, bukit batu dan tandus. Kita tak punya pilihan lain!

Selamat berjuang. God bless.

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here