Pdt. Weinata Sairin: “Crescit amor nummi, quantum ipsa pecunia crevit. Bertambahnya cinta akan uang sebesar itu pula nafsu untuk mengeruk uang”.

0
486

Ada banyak sosok, figur, bahkan *benda* yang menguasai dan berpengaruh kuat dalam sebuah kehidupan, baik kehidupan pribadi maupun kehidupan mayarakat, kehidupan warga dunia. Tak pernah kita bisa _menafikan_ atau mengerdilkan adanya pengaruh kuat dari orang tua kita terhadap pembentukan pribadi dan kehidupan kita. Terlepas dari pertumbuhan kita melalui ASI atau non ASI pada masa kecil pengaruh kekuatan orang tua bagi kita tetap signifikan. Beliau mengajari kita mengucap kata, berjalan dan melangkah, mengenali warna dan angka, mengenalkan agama dalam tahap yang paling elementer. Dan banyak lagi proses pembelajaran yang dilakukan orang tua kita dengan berbagai cara, pola dan bentuk.

 

Hal penting dan mendasar dalam proses pembelajaran itu adalah bahwa orang tua kita mengajari kita dengan *kata dan akta*, dengan kata-kata dan tidakan keteladanan. Dalam sebuah keluarga Kristen misalnya tidak mungkin terjadi di suatu hari Minggu orang tua menyuruh anaknya pergi ke Gereja sementara mereka tinggal saja di rumah, membenamkan diri dalam kerutinan. Pasti orang tua akan ikut ke Gereja, memberi contoh dan teladan. Di lingkup agama-agama Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu pembelajaran agama kepada anak yang dilakukan para orangtua akan selalu menampilkan cara memberi contoh dan teladan. Dengan dasar itu kita bisa mengatakan bahwa peran orang tua, pengaruh dan powernya amat kuat bagi anak atau anak-anak mereka.

 

Hubungan anak-orang tua, “relasi kepengaruhan” orangtua dan anak berlangsung sepanjang hayat, tanpa interupsi. Sesudah anak-anak mandiri sebenarnya relasi itu terjadi _setara_ namun tetap tidak menghilangkan hubungan khas anak-orang tua. Dalam perkembangan selanjutnya seiring dengan perkembangan usia, intelektualitas ada banyak sosok dan figur lain yang juga berpengaruh dalam kedirian seseorang. Figur itu bisa negarawan, politisi, seniman, filsuf sastrawan, penyair, tokoh agama, komposer dan lain-lain. Mereka berpengaruh karena pemikirannya, pandangannya, buku yang ia tulis atau puisi atau lagu yang ia ciptakan. Seserorang bisa saja menjadi _epigon_ dari Chairil Anwar karena ia amat memuja puisi-puisi Chairil dan kemudian ia menulis puisi dengan gaya seorang Chairil bahkan menampilkan diri seperti layaknya seorang Chairil. Seorang yang terkena pengaruh Hamka atau Pramudya Ananta Toer bisa saja hafal sinopsis dari novel-novel mereka atau bahkan hafal gaya bahasa mereka. Sejauh figur, sosok, buku yang mempengaruhi seseorang itu adalah figur dan atau buku-buku yang di kategorikan “baik” tentu tidak akan muncul masalah. Namun jika figur atau buku-buku itu berbeda dari sesuatu yang standar dan mainstream, bisa saja terjadi masalah di suatu waktu.

Baca juga  Yang Diperkenan Allah

 

Seseorang bisa amat hobby atau bahkan ‘terbius’ dengan isi cerita gaya bahasa, atau pemikiran dari seorang penulis yang menjadi idolanya. Ia selalu menunggu buku baru yang terbit dari penulis pujaannya; ia mengoleksi buku-buku itu dengan penuh kebanggaan. Cinta, suka kepada sebuah buku (dan penulisnya) bisa berubah menjadi bookaholic. Ia kemudian menjadi “gila buku” yang selalu siap kontak online dengan Amazon, bukupedia, dan berbagai toko buku serta penerbit demi mendapat info buku terbaru yang terbit dan menjadi best seller.

 

Selain orang tua, buku (dan penulisnya) dan figur lainnya, uang, money adalah benda yang terbukti berpengaruh kuat dalam kehidupan manusia. Uang sebenarnya adalah alat transaksi manusia dalam aktivitas ekonomi. Namun kuasa uang ternyata dalam praktek tidak hanya sebatas alat transaksi. Power uang tidak hanya berada dalam dunia ekonomi, powernya berada hampir disemua sektor kehidupan. Seorang Jacob Nedleman dari San Fransisco mengingatkan adanya makna ganda pada uang. Di satu sisi uang merupakan alat bagi manusia mencapai kehidupan yang ideal sebagaimana yang diharapkan; pada sisi lain uang juga menjadi sumber frustrasi dan perpecahan.

 

Sebuah kata-kata emas religius menyatakan “akar segala kejahatan adalah cinta uang”. Kata-kata emas ini bukan lagi teori yang tidak terwujud dalam dunia nyata. Ruang publik kita sekarang dipenuhi dengan berita-berita tentang OTT, transfer pembelian narkoba, dugaan korupsi milyaran rupiah, penggelembungan nilai proyek, perjalanan kunjungan kerja fiktif, dugaan korupsi dana pencetakan kitab suci agama, program fiktif yang semua berkaitan dengan _uang_ dan dilaksanakan nyaris oleh para warga negara yang terhormat, yang semuanya _beragama_!

 

Realitas ini memang amat memprihatinkan dan sekaligus menyedihkan. Ambivalensi dan inkonsistensi kita sebagai manusia amat telanjang pada aspek ini. Kita sepenuhnya beragama namun pada saat yang sama kita juga adalah orang yang melawan syariat agama! Ambivalensi ini sudah terjadi berpuluh tahun dan menjadi _habitus_ (sebagian besar) warga bangsa.

Baca juga  Yang Diperkenan Allah

 

Bapak Soedharmono dalam kapasitas sebagai Wapres RI pernah berpidato “rumah-rumah ibadah semakin penuh dikunjungi umat untuk beribadah, namun penjara-penjara juga makin bertambah penghuninya”. Pidato puluhan tahun yang lalu ini bukan hanya menyinggung karakter manusia Indonesia tapi secara implisit sebenarnya mempertanyakan pola pembelajaran agama di sekolah-sekolah kita!

 

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini memberikan penyadaran cerdas bagi kita bahwa bertambah cinta akan uang semakin besar nafsu kita dalam mengeruk uang. Kata ‘mengeruk’ disini dari aspek rasa bahasa ada kesan berkonotasi negatif; berupaya sekeras-kerasnya tanpa mempedulikan ketentuan standar. Peringatan ini penting bagi kita dizaman ini ketika uang telah menjadi kuasa demonis yang merusak kedirian kita. Jadikan uang sebagai alat transaksi yang standar dalam kehidupan kita. Jangan memberhalakan uang sehingga kita bertekuk lutut dibawah kuasanya. Hindarkan hidup yang serakah, sikap iri hati dan perilaku konsumtif.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

Weinata Sairin.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here