PDT.WEINATA SAIRIN: TUHAN MENERANGI MATA AGAR KITA MAMPU BERKARYA

0
542

_”Illumina oculos meos, Domine. Tuhan terangilah mataku”._

Dalam menempuh perjalanan dan atau melakukan sesuatu pekerjaan, maka penglihatan yang jelas, mata yang terang sangatlah penting. Bisa dibayangkan apa yang terjadi jika dalam kondisi penglihatan yang tidak jelas, karena menderita katarak atau ada masalah dengan mata, harus membaca atau melakukan tugas yang membutuhkan penglihatan yang benar-benar jelas. Membaca buku, membacakan SK, membaca dokumen hukum, atau membaca Kitab Suci dalam ibadah tidak bisa terlaksana dengan baik karena kondisi mata yang tidak sehat.

Mata yang tidak terang bisa disebabkan banyak hal. Ada kalanya seseorang menderita sakit mata; pada tahun 50-an banyak orang terjangkit sakit mata, sehingga poliklinik cukup penuh. Pada zaman itu pasien yang sakit mata diobati obat tetes mata, yang harganya tidak terlalu mahal. Biasanya dalam waktu seminggu, jika rajin memberikan obat tetes mata, maka mata akan sembuh.

Di zaman ini sudah banyak obat tetes mata antara lain cenfresh yang tahun 50-an itu belum dikenal. Mata tidak terang bisa juga karena faktor usia, dan pada usia 60 tahun keatas seseorang biasanya diserang ‘katarak’ yang sangat mengganggu penglihatan. Obyek yang kita pandang kelihatan buram, tidak fokus dan tidak menghadirkan kenyamanan bagi kita. Sesudah dilakukan operasi katarak, apalagi untuk kedua mata, maka penglihatan akan kembali normal. Seorang rekan anggota Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) pernah memberi testimoni yang sungguh luar biasa ketika kedua matanya mengalami operasi katarak. “Sesudah operasi katarak penglihatan saya menjadi sangat jernih. Yang menakjubkan bagi saya, istri saya terlihat lebih cantik dengan mata pasca operasi katarak”.

Mata yang sehat, menghasilkan penglihatan yang jelas yang pada gilirannya sangat membantu bagi setiap orang yang bekerja di bidang apapun juga. Itulah sebabnya kesehatan mata harus dipelihara dengan baik sehingga fungsi mata dapat dilaksanakan secara optimal.

Joko Pinurbo penyair muda kelahiran Sukabumi 1962 menyanyikan tentang “mata” dalam puisinya.
*”Kepada Mata”*
“Kaulah matahari malam
yang betah berjaga menemani saya
dan kata tetap bisa menyala
di remang redup cahaya”
(Sumber : “Malam Ini Aku Akan Tidur Di Matamu”, sehimpun puisi pilihan, Joko Pinurbo, Penerbit PT Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta 2016)

Puisi Joko Pinurbo ini menempatkan _mata_ sebagai benda amat penting dalam kehidupan manusia. Mata adalah benda yang selalu menjadi alat penerang dalam kehidupan manusia. “Mata” adalah matahari malam yang terus hadir dalam hidup sang penyair. Oleh karena “mata” maka kata, word, tetap bisa menyatakan ungkapan kuat, walau cahaya redup!

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini adalah sebuah permohonan “Tuhan, terangilah mataku!” Memiliki mata sebagai salah satu panca indera, bukanlah segala-segalanya. Artinya, mata yang ada pada kita bisa saja tidak berfungsi optimal tatkala kita _membutakan diri_ terhadap mereka yang miskin, yang mengalami diskriminasi, yang berpuluh tahun tak bisa ibadah di rumah ibadah, yang hak-hak politiknya direnggut, dan sebagainya, dan sebagainya. Mata yang ada pada kita tidak berfungsi dengan baik jika kita menganggap bahwa tidak ada kemajuan apapun yang dicapai bangsa kita dalam 4 tahun terakhir. Mata sehat yang ada pada kita juga tidak berguna jika mata itu kita gunakan untuk “melirik” hak milik orang lain, untuk mengintai celah-celah agar bisa menyuap dan melakukan korupsi, untuk bisa membobol ATM, untuk bisa membunuh orang lain yang pernah menyakiti.

Kita sebagai umat beragama memohon kepada Tuhan agar Ia menerangi mata kita, sehingga mata kita dapat kita gunakan secara optimal untuk melakukan hal-hal positif dalam hidup kita : membaca ayat-ayat Kitab Suci, membaca buku-buku bermutu, melihat anak-anak yang ada di Panti Asuhan, melihat orang-orang yang bergumul dengan berbagai penyakit berat di Rumah Sakit; para lansia di Panti Werdha.

Kita memohon Tuhan menerangi mata kita agar kita mampu meneruskan perjalanan ziarah kita dilorong-lorong dunia, dan tiba di “terminal penghabisan” dengan selamat dan dengan iman yang teguh kukuh.

Selamat berjuang. God bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here