PDT. WEINATA SAIRIN: DI SURGA TERDAFTAR; MAJU BER-PI TAK GENTAR

0
297

_”Namun demikian janganlah bersukacita karena roh-roh itu takluk kepadamu, tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar di sorga”._ (Lukas 10:20)

Gagasan dan pemikiran Yesus acapkali paradoks dengan pemikiran para murid, bahkan dengan pemikiran yang berkembang di dalam masyarakat pada zaman itu. Realitas itu terjadi bukan karena soal kualitas intelektual yang berbeda, tapi lebih karena pemikiran (teologis) yang diungkap oleh Yesus adalah sesuatu yang sama sekali  baru yang berbeda bahkan bertentangan dengan pemikiran yang sudah ada, yang _establish_ yang terkadang sudah menjadi zona nyaman bagi segolongan orang. Keberbedaan pandangan itu acapkali muncul dan berulangkali terjadi. Misalnya Yesus yang mau makan bersama orang berdosa selalu mendapat kritik dari banyak pihak. Yesus yang dianggap pimpinan top dari suatu kelompok agama harus jaga image; jangan mau makan dengan orang berdosa, apalagi di tempat makan sejenis warteg bukan di restoran hotel berbintang. Orang se level Yesus harus steril dari kondisi seperti itu.

Tatkala muncul kritik dari pemuka agama dizamannya tentang Yesus yang mau makan dengan orang berdosa Yesus merespons dengan cukup argumentatif “Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Markus 2 : 17). Perbedaan faham terjadi juga tentang bekerja pada hari Sabat (Markus 2 : 23-28)

Orang-orang para penganut agama berbasis syariat sangat menekankan aspek hukum yang amat kaku dan ketat. Perintah hukum Taurat tentang hari Sabat dimaknai oleh mereka bahwa pada hari itu tidak boleh ada yang mengerjakan sesuatu. Menyembuhkan orang sakit pun tidak boleh dilakukan pada hari Sabat (Markus 3:1-6). Yesus memberi jawab yang amat tegas, edukatif dan pemikiran teologis yang sangat prospektif. Ia menyatakan “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan bukan manusia untuk hari Sabat (Markus 2 : 27).

Dalam sebuah perjalanan pelayanan, bertemulah rombongan Yesus dan murid-murid dengan orang yang buta sejak lahir. Pada zaman itu ada pandangan mekanis-matematis yang menyatakan bahwa “penyakit itu disebabkan (hukuman) dosa”. Yesus tidak mau terjebak pada pandangan seperti itu. Penyakit bisa terjadi karena organ-organ tubuh yang memang mengalami gangguan, ada juga faktor U (usia, uzur) dan faktor-faktor lainnya. Dalam kasus menjawab pertanyaan para murid “siapakah yang berdosa sehingga orang itu dilahirkan buta?” Yesus menjawab amat puitis-filosofis. Ia berkata “bukan dia dan bukan juga orang tuanya tetapi karena pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia. Kita harus mengerjakan Dia yang mengutus Aku selama masih siang; akan datang malam dimana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja” (Yohanes 9 : 3-4).

Bagian Alkitab Lukas 10 : 20 yang dikutip dibagian awal menampilkan pemikiran Yesus yang cerdas dan bernas yang out of the box, yang berbeda dari apa yang dipikirkan oleh para murid. Murid-murid amat bersukacita karena sukses yang telah dicapai tim 70 yang diutus untuk memberitakan kabar kesukaan ke berbagai wilayah. Mereka gembira karena ternyata setan-setan takluk kepada mereka karena nama Yesus. Apakah Yesus ikut tenggelam dalam eforia sukacita seperti itu??. Yesus ternyata melontarkan pemikiran yang berbeda. Ia tidak ikut menari dalam gendang yang ditabuh para murid. Yesus tidak menyanyikan lagu yang sama. Yesus mengajak para murid untuk menatap hal-hal yang lebih eskatologis, tidak terpukau silau oleh realitas kekinian.

Yesus mengingatkan hal yang lebih fundamental dan _eternal_ ketimbang sukses karena roh-roh itu takluk kepada mereka. Yesus menegaskan “tetapi bersukacitalah karena namamu ada terdaftar disorga”. Aspek itu yang luput dari fokus perhatian para murid, bahwa nama mereka  ada terdaftar di sorga.

Cukup menarik karena disini Yesus menggunakan istilah yang populer khususnya di dunia sekuler, yaitu kata *daftar*. Di dunia pendidikan tinggi istilah ini adalah istilah terendah dalam hal status lembaga perguruan tinggi, sebelum sebuah perguruan tinggi itu memperoleh status *disamakan* dan kemudian *diakui*. Ditahun politik istilah terdaftar sangat penting sekali; tanpa nama terdaftar seseorang bisa gagal mengggunakan hak pilih, bahkan gagal menjadi pimpinan daerah, anggota parlemen dan atau presiden/wakil presiden.

Kita sangat sadar bahwa “tata kelola surga” amat berbeda dengan sistem dan tata kelola dunia sekuler. Istilah yang Yesus gunakan “ada terdaftar di sorga” hanya ingin meyakinkan para murid dan kita semua bahwa perjalanan kita mengikut Yesus dan keberimanan kita yang kuat kukuh kepadaNya tidak sia-sia tetapi memiliki makna dengan terdaftarnya nama kita disurga.

Pernyataan Yesus yang jelas dan gamblang bahwa kita umat yang percaya kepadaNya *registered*, terdaftar, seharusnya mendorong kita sebagai umat dan Gereja untuk makin menampilkan kekristenan prima, yang menjadi nabi di zamannya, yang mengasihi semua orang, yang membalut luka dan hati pedih umat manusia, mereka yang tertatih-tatih melangkah lemah di dera kemiskinan, penyakit, uzur dan derita tiada akhir.

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here