PDT. WEINATA SAIRIN: *MENGAKTIFKAN KESALEHAN SEBAGAI WUJUD KEBERAGAMAAN*

0
304

 

_”Vicit iter durum pietas. Kesalehan telah mengalahkan jalan yang sulit”._

Dalam sebuah masyarakat Indonesia yang amat kental keberagamaannya, banyak istilah agama, minimal dari 6 agama di Indonesia, amat populer dan telah menjadi bagian dari vokabulari masyarakat. Para warga masyarakat saling belajar dan memberi informasi tentang istilah-istilah khusus, istilah teknis (“terminus tehnikus”) yang dimiliki oleh masing-masing agama sehingga warga masyarakat memiliki pengertian dan pemahaman yang tepat tentang makna sesuatu istilah (agama) sehingga bisa membantu menghindarkan diri dari kesalahfahaman.

Selain memahami nama hari-hari raya keagamaan, warga masyarakat, apalagi para aktivis dan pegiat lintas agama, juga memahami berbagai istilah agama dari 6 agama itu sehingga semakin erat talisilaturahim diantara para warga bangsa. Kata ‘saleh’ misalnya yang sudah menjadi kosa kata bahasa Indonesia, sudah cukup lama dikenal masyarakat. Akhir-akhir ini dikalangan “anak gaul” dikenal tentang istilah “anak saleh” yaitu orang baik, rajin sholat dan mengamalkan ajaran agama dengan setia. Istilah “anak saleh” menjadi ungkapan yang amat populer. Seorang kawan yang tiba-tiba mendapat kiriman buku baru dari sahabatnya, lalu ia menyatakan itu hadiah untuk “anak saleh”.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang beragama, dan mengacu pada arti istilah “saleh” pada Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu setia dan taat dalam menjalankan perintah agama, maka dapat dikatakan bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang saleh.

Semua umat beragama di negeri ini, yang diasumsikan melaksanakan ajaran agama, adalah orang-orang yang saleh yaitu orang-orang melaksanakan agama secara teratur dan konsisten, orang-orang yang memegang teguh ajaran agama.

Ditengah-tengah kondisi dunia yang makin sekuler, makin memfokus kepada hal-hal kebendaan, hal-hal duniawi, maka pengembangan kesalehan itu amat penting. Hal itu tidak dalam arti mewujudkan sesuatu yang paradoks : ada yang sekuler, ada yang sakral/saleh. Tetapi bagaimana arus sekuler itu mesti diimbangi dengan pengembangan hal yang berdimensi kesalehaan sehingga negeri in tidak jatuh menjadi negeri sekuler yang tidak sejalan dengan ajaran agama-agama.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

Kesalehan tidak mesti membuat orang memusuhi dunia atau menolak dunia sebagai “lembah dosa”. Kesalehan tidak membuat seseorang merasa amat suci dan merasa paling dekat ke surga sambil menghakimi orang lain sebagai orang berdosa dan “pewaris neraka”. Kesalehan adalah spiritualitas baru yang dibutuhkan manusia modern di era digital agar ia setiap saat bisa mengcounter bahkan melawan roh sekularisme dalam wajah modern yang setiap detik mengganggu kediriannya dengan dahsyat.

Kesukaran, kesulitan yang dialami manusia dalam hidupnya bisa dikalahkan dan ditundukkan oleh kesalehan. Kesalehan yang berbasis ajaran agama menjadi energi baru dalam melawan kesulitan, derita, sengsara, bahkan melawan kuasa dosa dan perbuatan a moral dan a historis yang menggerogoti kehidupan kita. Mari kembangkan kesalehan dan spiritualitas baru di bumi NKRI demi kehidupan yang lebih baik.

Selamat berjuang. God bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here