PDT. WEINATA SAIRIN: *KEBAJIKAN DAN KEMASYHURAN SELALU AKAN MENGHIDUPKAN*

0
39

 

 

“Non moritus, cujus fama vivit.

Yang hidup dalam kemasyhuran, tidakan akan mati”.

 

Kematian, sebagai suatu peristiwa, kejadian, tetap menjadi sesuatu yang misteri bagi setiap orang. Tidak ada yang pernah tahu kapan sang maut akan datang merenggut nafas hidupnya. Seseorang selalu memohon agar kedatangan sang maut ini _dipending_, _diembargo_ atau _ditunda_ sampai batas yang tidak ditentukan. Banyak orang berobsesi ingin hidup lebih lama dari hitung-hitungan Angka Harapan Hidup. Orang-orang yang se fraksi dengan Chairil Anwar bahkan tanpa berhitung dan kalkulasi malah bicara lantang “aku mau hidup seribu tahun lagi”. Ya Chairil ingin menikmati MRT, ingin menyaksikan nasib Munir yang lebih jelas dan bermartabat dalam sebuah negara hukum, Chairil masih ingin menyaksikan pemimpin mana lagi yang kena OTT sambil tetap tersenyum walau harus mentransfer milyaran rupiah kepada negara; Chairil ingin melihat bagaimana tol laut, hutan-hutan hijau Papua bisa ditembus jalan darat tanpa kesulitan berarti, Chairil ingin benar-benar melihat bahwa aktivitas keagamaan manusia Indonesia jauh dari ungkapan kerutinan, pragmatisme, pola pikir *do ut des* tetapi sebuah pengejawantahan yang sungguh dari religiusitas sang makhluk kepada Sang Khalik.

 

Walau kedatangannya tak diharapkan, namun kematian banyak diangkat dan dijadikan tema dalam novel, film, puisi, lagu dan diuraikan dalam berbagai buku. D. Kemalawati seorang penyair Aceh terkenal dalam puisinya yang *puitis is* berkata tentang maut sebagai berikut.

 

*KEMATIAN*

 

“jika kematian hanya ranjang rebahkanlah tubuh lelah sambil menanti mimpi dalam lelap yang mawar”.

(Sumber :” Hujan Setelah Bara”, D. Kemalawati, Penerbit Lapena, Banda Aceh, 2012)

 

Manusia ingin hidup, ingin merajut karya terbaik dipentas zaman, di ruang-ruang sejarah. Manusia mendambakan kehidupan; mereka berusaha menghadang maut; mereka ke Penang, Mount Elisabeth Singapore, Tokyo atau kemanapun menghalau penyakit dari tubuhnya agar ia segar dan tetap eksis. D. Kemalawati mengasumsikan kematian itu sebuah  _ranjang_, tempat tidur yang biasanya menjadi sarana untuk membaringkan tubuh lelah. Ia mengingatkan kita tak usah risau dan takut kepada maut, rebahkan tubuh yang lelah (dan uzur); dalam lelap penuh harum mawar, mimpi indah datang.

Baca juga  TUHAN MENGASIHI KITA 

Hari maut yang indah. Tak sempat lagi berfikir tentang hari-hari kedepan, bagaimana menjawab pertanyaan malaikat, azab kubur, purgatorio dan sebagainya.

 

Oleh karena secara detil _maut_ itu pada dirinya amat rahasia dan tertutup maka seniman, komposer, penyair mencoba mengelaborasi inajinasi mereka seputar kematian berdasar sumber yang ada. Dalam konteks itu narasi-narasi yang ada dalam Kitab Suci tentang maut amat membantu. Maut terasa menjadi lebih akrab dan ‘familiar’ dengan narasi imajinatif yang dibuat oleh para penyair/seniman.

 

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menyatakan “yang hidup dalam kemasyhuran tidak akan mati”. Para tokoh, selebriti, pemimpin dunia, penulis, filsuf, para penemu, pejabat agama, semua mereka yang pernah hudup ditengah sejarah dan namanya termasyhur, mereka _tidak akan mati_; mereka akan hidup terus walau sudah mati.

 

Kita harus berjuang menjadi orang yang termasyhur, terkenal, populer dalam kriteria yang baik dan positif dan bukan karena melakukan perbuatan negatif yang bermuara pada pidana. Tetapi biasanya orang-orang yang melakukn berbagai kebaikan dalam banyak wujud, para penemu, para ahli, mereka yang memberdayakan orang kecil, pada awalnya mereka tidak mencari kemasyhuran, mereka hanya melakukan semua itu  sesuai dengan kompetensi, talenta, panggilan hidup mereka.

 

Jika kita berniat “tidak akan mati” lakukanlah yang terbaik dan positif dalam bidang kita masing-masing. Jauhilah perbuatan aib dan negatif. Patuhi dan taati perintah agama, taati hukum; sampai maut menjemput. Nama kita tidak akan mati tetapi akan tetap cemerlang mewarnai sejarah peradaban manusia.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here