BERPIKIR DAN MENGUASAI DIRI DALAM IMAN. 

0
333

Oleh:Pdt Martunas P Manullang

Selamat pagi dan salam damai sejahtera bagi kita semua.

Inilah yang ditekankan dalam ayat renungan hari ini.

Selengkapnya dapat kita baca : “Berdadarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memijirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.” (Roma 12:3).

Rasul Paulus memaparkan suatu pengajaran Alkitabiah, yaitu: Pertama, Apa yang benar. Kedua, Bagaimana kebenaran itu dilakukan.

Dengan kata lain ia memunculkan satu hal dalam dua sisi yang tidak dapat dipisahkan, yaitu: Apa yang harus dipercayai dan bagaimana menerapkan kepercayaan itu.

Ajaran dan penerapan atau pelaksanaannya. Yang dia maksudkan adalah, bahwa orang Kristen adalah orang yang memiliki (menganut) kepercayaan (sesuatu yang dipercayai) dan berperilaku atau bertindak sesuai dengan yang dipercayainya.

Dengan kata lain, kepercayaan yang membentuk perilaku.

Kepercayaan yang nyata (kelihatan) dari tindakan atau perbuatan.

Pada ayat sebelumnya, ay.1-2, digambarkan bahwa pikiran yang sudah dibaharui (dirubah) akan mendorong seseorang/individu untuk membuat suatu perubahan.

Dan ini hanya mungkin, kalau tubuh, di mana pikiran berada, juga diserahkan sepenuhnya kepada Tuhan.

Roh Tuhan akan membarui roh manusia, dan manusia itu pun akan melakukan perubahan sesuai tuntunan dan arahan Roh yang ada di dalam dirinya.

Pada ayat 3 ini, rasul Paulus menjelaskan hubungan manusia itu dengan dirinya sendiri.

Menurut Paulus, setiap orang menerima karunia dari Tuhan.

Karunia itu, yang diterima dengan kerendahan hati dan rasa syukur, dipakai untuk melayani sesama, membantu dan melayani sesama dengan saling mengisi dan melengkapi.

Baca juga  FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

Dengan demikian, setiap orang menilai dirinya sendiri dengan apa yang Tuhan karuniakan kepadanya dengan proporsional.

Artinya, tidak boleh sombong dan angkuh dengan apa yang dia miliki, tetapi sebaliknya dengan kerendahan hati dan rasa syukur akan digunakan atau dipakai bersama-sama dengan orang lainnya dalam satu persekutuan, untuk membangun persekutuan itu sendiri.

Artinya, setiap orang agar melihat, bahwa berfungsinya karunia yang dia tetima atau miliki adalah bila dikaitkan atau dihubungkan dengan orang lain dengan masing-masing karunia yang diterima dari Tuhan.

Itu sebabnya dikatakan, janganlah berpikir lebih tinggi dari apa yang diperoleh; atau juga berpikir lebih rendah dari apa yang diterima dari Tuhan.

Yang baik adalah, berpikir sesuai dengan iman masing-masing, dengan menyadari sepenuhnya kesalingbergantungan dengan orang lain.

Tidak boleh sombong atau tinggi hati dengan apa yang dimiliki, tetapi menggunakannya dengan kerendahan hati untuk melayani Tuhan dan sesama. Inilah yang dimaksud dengan berpikir dan menguasai diri dalam iman.

Selamat beraktivitas hari ini. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

Pdt Martunas P Manullang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here