PDT. WEINATA SAIRIN: UNGKAPKAN KATA ELEGAN BUKAN YANG LUKA MENYAKITKAN

0
522

“Laedere facile, mederi difficile.”

(Untuk) menyakiti hati itu mudah, tetapi (untuk) menyembuhkannya susah.”

Komunikasi dan relasi antar manusia terjadi dalam berbagai dinamika, sesuai dengan perkembangan, _mood_ dan berbagai faktor yang menyekitarinya. Dinamika itu bisa terjadi oleh karena sesuatu yang berkembang di lingkup internal, dan atau disebabkan berbagai hal yang terjadi pada level eksternal.

Tingkat relasi antar manusia yang menimbulkan kebahagiaan dan perasaan enjoy adalah tatkala kedua belah pihak yang berelasi itu benar-benar mampu mengembangkan diri dengan baik, saling bersimpati dan empati, saling mengucapkan “proficiat” atau “congratulation” pada saat-saat tertentu. Relasi yang kurang harmonis bahkan berada pada situasi konflik ketika terdapat pandangan yang berbeda diantara dua pihak tentang berbagai hal yang tidak bisa dicari jalan keluarnya.

Berdasarkan pengalaman empirik, ada banyak hal yang bisa membuat hubungan dan komunikasi antar manusia tidak berjalan dengan baik dan sempurna. Disana ada soal bisnis, soal afiliasi politik, soal agama dan atau aliran/sekte agama, soal warisan, soal hubungan antar keluarga istri suami., soal percintaan.

Bahkan hal-hal yang berkaitan hubungan antar keluarga, perceraian, putusnya cinta tidak hanya bisa menimbulkan konflik tetapi juga dapat menyebabkan rasa sakit hati. Rasa sakit hati seperti itu biasanya berlangsung cukup lama dan menjadi luka yang dalam, dan sukar disembuhkan.

Hubungan yang tidak harmonis antar manusia yang berujung pada konflik menahun dan melahirkan sakit hati yang sukar diobati terwujud karena jika terjadi sesuatu masalah tidak segera diselesaikan dan saling menyatakan permohonan maaf. Akibatnya masalah bertumpuk, kebencian bertambah menggunung sehingga perseteruan kedua belah pihak tak bisa dihindari.

Seharusnya budaya “mohon maaf” harus menjadi bagian integral dari kehidupan kita sebagai umat beragama. Saling memohon maaf tidak perlu menunggu hari raya, atau akhir tahun. Permohonan maaf harus segera kita lakukan secepat kita tahu dan sadar bahwa kita salah, bahwa kata-kata, sikap dan perbuatan kita telah membuat seseorang atau banyak orang sakit hati. Permohonan maaf dilakukan diantara orang per orang, suami-istri, anak-orang tua, menantu-orangtua, pemimpin-dan yang dipimpin, dan sebagainya.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

Harus juga digarisbawahi jangan sampai kebiasaan untuk memohon maaf dijadikan alasan untuk “mudah berbuat salah” atau “mengulangi perbuatan salah”. Sikap seperti itu akan membuat “imun” sebuah permohonan maaf dan menjadikan permohonan maaf tak lebih dari sebuah ungkapan verbalistik yang tidak berbuah bagi kedirian manusia.

Bagi kita umat beragama, memohon maaf bukanlah sesuatu yang asing dan “mewah”. Kita memohon maaf kepada sesama kita agar persahabatan kita tidak mengalami gangguan dan agar kita tidak lagi mengulangi kesalahan kita kepada siapapun. Kita juga memohon ampun kepada Tuhan oleh karena dosa yang kita perbuat. Istilah “pengampunan” dan “dosa” lebih berkonotasi telogis, dibanding istilah. “maaf” dan “kesalahan” yang dimaknai sebagai bernuansa sekuler. Dalam konteks pemilahan konotasi itu maka istilah “pengampunan pajak” tetap saja berada pada koridor sekuler.

Permohonan maaf atau juga pengampunan bukan hanya monopoli manusia modern. Orang-orang zaman baheula juga akrab dengan istilah itu. Ketika Jenderal Paultre-Lamotte sedang berjalan-jalan di kota Lyons Perancis ia bertemu dengan seorang prajurit yang sedang mabuk berat. Jenderal itu menempeleng prajurit itu tetapi ia juga meminta *maaf* atas apa yang sudah ia lakukan. Hari berikutnya ia memanggil prajurit itu dan bertanya : “Apakah kau masih ingat apa yang kulakukan kemarin?” “Ya Tuan”.  “Aku sudah berlebihan. Nah sekarang maukah kau kuberi 5 Franc?” “Aku tidak akan menerimanya!” “Sepuluh Franc?” “Tetap tak bisa kuterima!” “Tempelengan tak bisa diganti dengan uang” kata prajurit itu. “Kau benar. Aku akan memelukmu” kata Jenderal. “Ya Tuan mari kita saling berpelukan, saling memaafkan dan melupakannya.”

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini menyatakan bahwa menyakiti hati itu mudah, tetapi menyembuhkan itu susah. Dalam membangun relasi kita memang harus menghindar dari menyakiti orang baik dengan kata-kata maupun dengan perbuatan. Sikap arogan birokrat  dan ucapan-ucapannya seringkali melukai hati rakyat dan sang birokrat merasa paling benar dan merasa sangat berkuasa. Dalam masyarakat majemuk memang sikap, kata dan perbuatan kita harus sangat hati-hati kita ungkapkan agar tidak menimbulkan masalah. Terutama istilah-istilah agama, terutama yang bukan agama kita dan tidak kita kuasai, kita tidak  menggunakannya diruang publik, demi kebaikan bersama. Mari kita gunakan kata-kata positif, elegan, penuh cinta kasih. Jauhi ungkapan yang menyakiti hati dan mempersekusi demi terwujudnya kehidupan yang damai dan harmoni.

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

Selamat berjuang. God bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here