Damai Sejahtera di Bumi di antara Manusia

0
678

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Lukas 2:8-20

(8) Di daerah itu ada gembala-gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam. (9) Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. (10) Lalu kata malaikat itu kepada mereka: “Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: (11) Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. (12) Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.” (13) Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Allah, katanya: (14) “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (15) Setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” (16) Lalu mereka cepat-cepat berangkat dan menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. (17) Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. (18) Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. (19) Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya. (20) Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah karena segala sesuatu yang mereka dengar dan mereka lihat, semuanya sesuai dengan apa yang telah dikatakan kepada mereka.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

Ada seorang pria, usianya sudah menjelang senja. Kesejahteraan hidupnya lumayan. Perusahaan di mana dia bekerja memberinya gaji yang tinggi. Dia mempunyai rumah permanen yang antik. Dia mempunyai kendaraan roda empat milik pribadi. Dia tinggal berdua saja dengan ibunya yang sudah lanjut usia. Satu hal yang luar biasa pada pria ini ialah bahwa dia masih membujang, belum beristri. Ibunya sudah sering mendesak mencari wanita untuk menjadi istrinya. Pemuda itu selalu juga menjawab, “Terlalu repot, tidak ada waktu”. Selain menyebut-nyebut nama wanita yang terkenal sebagai kembang kota, ibunya sering mengundang dia dengan sengaja ke rumah wanita-wanita yang dianggap sepadan dengannya dan pantas menjadi istrinya. Tetapi anaknya tidak pernah memberikan tanggapan.

 

Lalu mengapa dia tetap saja membujang? Dia melihat terlalu banyak risiko kalau menjadi bapak keluarga. Jangan sampai selagi anak masih kecil dia atau istrinya mati. Jangan sampai wanita yang dipilihnya tidak cocok dengan dia, belum apa-apa pernikahan sudah terbengkalai. Kasihan anak-anak. Jangan sampai pekerjaannya bisa terhambat karena kehadiran istri atau anaknya sehingga prestasi yang sudah dicapainya menurun. Jangan sampai, jangan sampai…, begitu banyak ‘jangan sampai’ di dalam kepalanya, sehingga dia mengambil keputusan untuk tidak menikah.

 

Ketakutan akan risiko yang dibayangkan membuat pria itu takut menikah. Takut risiko bisa saja melanda siapa saja dan kapan saja. Marilah kita melihat para gembala di padang Efrata pada malam Natal. Siapakah mereka itu? Mereka adalah orang sederhana yang setiap hari bergaul dengan kawanan ternak di padang rumput. Mereka tinggal jauh dari keramaian kota Yerusalem. Mereka bukanlah orang-orang terpandang sesuai dengan ukuran pada waktu itu. Mereka tidak memiliki ilmu seperti para ahli taurat. Mereka bukan pula orang yang terhormat. Mereka adalah rakyat jelata tanpa pengaruh dan kuasa. Para gembala adalah kelas masyarakat yang tidak diperhitungkan dalam banyak hal.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

 

Para gembala adalah kelompok masyarakat yang berjalan dari padang ke padang, dari satu sumber air ke sumber air yang lain, sambil mengiring kawanan ternak. Bagi mereka kawanan ternak adalah segala-galanya. Kehidupan mereka tergantung seluruhnya pada ternak. Karena itu ancaman binatang buas atas ternak mereka merupakan ancaman atas kehidupan mereka juga. Adalah mustahil bagi para gembala untuk meninggalkan kawanan ternak begitu saja. Tetapi aneh, pada waktu Malam Natal itu, tatkala para malaikat muncul, tanpa diskusi panjang para gembala itu berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.. Lalu mereka berangkat cepat-cepat.

 

Apakah para gembala itu tidak gegabah, meninggalkan kawanan ternaknya, penunjang hidupnya begitu saja? Apakah mereka tidak takut ternaknya akan terancam oleh binatang buas apalagi pada waktu malam? Tidakkah para gembala itu membayangkan jangan sampai nanti sekembalinya dari Betlehem kawanan ternak sudah disikat habis oleh binatang buas atau dibawa lari oleh para pencuri?

 

Di sinilah letak kehebatan para gembala yang sederhana itu. Walaupun mereka kecil dan sederhana mereka sanggup mengambil satu keputusan yang besar dan menentukan. Lebih-lebih lagi, keputusan yang mereka ambil adalah keputusan yang tepat. Keputusan yang dibuat dalam waktu yang sekejap. Memilih antara bertahan mendampingi kawanan ternak atau pergi melihat sang Juruselamat. Orang-orang sederhana itu langsung melihat nilai yang amat berbeda. Satu nilai yang abadi dan sempurna dalam diri Sang Juruselamat dan nilai yang fana dalam kawanan ternaknya. Inilah pula yang menyebabkan ketakutan akan risiko menjadi sirna.

 

Pada malam Natal ini marilah kita memetik hikmah dari keberanian para gembala itu. Mereka terlalu sederhana kalau dibandingkan dengan kita. Kita toh tidak perlu menjadi sederhana seperti mereka. Tetapi yang perlu ialah: kita berani seperti mereka, berani mengambil keputusan dan bertindak. Mengapa para gembala bisa memiliki keberanian sehebat itu?

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

Karena mereka tahu, berjumpa dengan Yesus adalah berjumpa dengan sumber damai sejahtera. Inilah hal yang sangat berharga dalam hidup ini. Yesus adalah Allah yang menjadi manusia yang akan membawa manusia masuk ke dalam Kerajaan Damai-Nya. Bersama Yesus kita akan mampu menghadapi setiap kemungkinan yang terjadi dalam hidup ini, termasuk menyikapi resiko-resiko yang ada.

 

Dari sekian banyak krisis yang menimpa dunia, kita sering menjumpai krisis yang satu ini, yaitu: krisis keberanian untuk bertindak, krisis mental yang selalu diliputi oleh rasa takut menanggung risiko. Ada banyak sekali masalah yang bisa timbul justru karena berpangkal pada krisis ini.

 

Para gembala tidak takut risiko asal bisa melihat bayi Yesus, berjumpa dengan kebenaran. Dan Yesus sendiri adalah Allah yang menjadi manusia yang tidak takut akan risiko yang bakal dihadapi-Nya asal rencana Allah terlaksana.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here