Aku ini Hamba-Mu!

0
692

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

 

Lukas 1:26-38

(26) Dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, (27) kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud; nama perawan itu Maria. (28) Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata: “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.” (29) Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. (30) Kata malaikat itu kepadanya: “Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. (31) Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. (32) Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, (33) dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.” (34) Kata Maria kepada malaikat itu: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?” (35) Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah. (36) Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu. (37) Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.” (38) Kata Maria: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggalkan dia.

 

Baca juga  PERDULI AKAN KEBUTUHAN ORANG LAIN

Ketika Malaikat menemui Maria untuk memberitahukan rencana Allah yang akan melibatkan dirinya, Maria memberikan respon yang positif dan tepat. Memang, pada mulanya ia cemas dan takut bahkan terkesan ingin menolak tapi akhirnya ia menerimanya. Dengan merendahkan hatinya Maria menjawab: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataan-Mu itu” (ayat 37).

Maria memberikan tanggapan positif terhadap rencana Allah. Sikap positif ini penting, karena Allah tidak mau bekerja sendiri. Ia menginginkan agar manusia (yang adalah “gambar”-Nya itu) terlibat dalam rencana-Nya. Kita harus menyadari bahwa rencana Allah selalu berisi tujuan-tujuan baik bagi manusia. Tidak ada yang tidak baik. Tapi mengapa manusia selalu menolak untuk dilibatkan-Nya? Karena manusia menilai dirinya menurut apa yang dipikirkannya. Bukankah ini yang memenuhi pikiran Maria sebelum memberikan kepastiannya? Bukankah ini juga yang memenuhi pikiran jemaat ketika diminta untuk menjadi pelayan? Ada perasaan tidak pantas dan tidak layak “dipakai” oleh Tuhan. Hal ini wajar, karena memang kita tidak pantas dan tidak layak bagi Tuhan. Tapi ada penjelasan bagi Maria, bahwa Tuhan menginginkannya dan akan menyertainya. Jika Tuhan yang menginginkannya, berarti Ia melayakkannya. Penjelasan ini adalah jaminan yang tidak harus membuat dirinya mengelak lagi. Maria menerimanya.

Seperti Maria begitu juga kita. Wajar bila kita merasa tidak layak. Tapi jika Tuhan memang memanggil kita, mengapa kita ragu? Mengapa banyak orang menunda dan berkali-kali berjanji tapi tidak kunjung siap melayani-Nya, meskipun sudah dijelaskan panjang lebar bahwa Tuhan akan menyertainya? Menjadi pelayan Tuhan bukanlah paksaan. Kita harus rela karena menyadari bahwa kita yang tidak layak ini dipanggil dan dipakai oleh Tuhan. Tetapi juga kita jangan terus memaksa diri untuk menolaknya, sebab jika Tuhan memanggil itu berarti ada hal yang sangat positif yang diinginkannya dari kita. Menolak terus panggilannya, berarti kita menolak tujuan positif-Nya bagi kita. Mengapa orang menolak panggilan Tuhan? Karena dia menilai panggilan Tuhan dari diri dan kesenangannya. Kalau sudah terjun dalam pelayanan, saya tidak akan mampu. Saya tidak akan ‘bebas’ lagi, banyak kesenangan saya yang akan hilang. Hal ini tentu keliru. Sebab, pertama, kita tidak melayani menurut kemampuan kita. Tuhanlah yang turut bekerja dalam diri kita. Kedua, kesukaan dan kebahagiaan dalam pelayanan sangat melimpah. Orang yang melayani tidak berarti kurang kebahagiaannya, malah semakin bertambah. Ada kebahagiaan yang dulu tidak pernah dirasakan, kini dirasakan dalam pelayanan. Maria benar-benar merasakan kebahagiaan itu sampai akhir hidupnya.

Baca juga  LAKUKANLAH HAL YANG KUDUS

Selain merespon rencana Tuhan secara positif, kita juga harus menempatkan diri kita di dalamnya dengan tepat. Dalam rencana Tuhan kita adalah ‘hamba’. Status seorang hamba bergantung pada tuannya. Ia tidak mungkin menolak kehendak tuannya. Kualitas dirinya dinilai dari ketaatannya kepada tuannya. Demikianlah kita di hadapan Tuhan, kita bergantung sepenuhnya kepada-Nya. Eksistensi kita bukan ditentukan oleh dunia tapi oleh Tuhan yang menciptakan kita. Karena eksistensi kita ditentukan oleh Tuhan, maka kita harus berada dalam hubungan dengan Tuhan. Putus hubungan dengan Tuhan, maka habislah eksistensi kita. Untuk itu, sepantasnyalah kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Jika kita dipakai (dilibatkan) oleh Tuhan dalam rencana-Nya, bukankah ini merupakan ‘kehormatan’ bagi kita? Itu adalah kehormatan kita sebagai ‘hamba’. Jika kita taat sang ‘Tuan’ akan senang dan akan menyambut kita sebagai hamba-Nya yang setia.

Maria sangat tepat menempatkan dirinya dalam panggilan Tuhan dengan berkata: “Aku ini hamba-Mu!” Dia tidak merasa lebih dari yang lain ketika menerima tugas dari Tuhan. Dengan menyebut dirinya hamba, ia sadar bahwa dia juga harus siap menerima segala resiko kehambaannya. Menjadi hamba banyak dukanya, tapi ia yakin Tuhan yang memilihnya akan menyertainya. Itulah cara Maria menjawab panggilan Tuhan untuk mewujudkan karya Tuhan yang sangat besar bagi dunia. Tanpa sifat kehambaan, tentu akan sulit bagi Maria untuk menjalankan perannya sebagai Bunda Yesus.

Kita akan meneruskan tugas kehambaan Maria di zaman kita masing-masing. Rencana Allah (melalui Yesus) bagi dunia ini belum selesai. Kita dipanggil terlibat di dalam rencana itu. Untuk itu, mari kita katakan kepada Tuhan: “Aku hamba-Mu, Tuhan. Jadilah padaku menurut apa yang Kau kehendaki. Amin!”

Baca juga  Saling Mengasihi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here