Janji Iman

0
4269

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

Hakim-hakim 11:29-40
(29) Lalu Roh TUHAN menghinggapi Yefta; ia berjalan melalui daerah Gilead dan daerah Manasye, kemudian melalui Mizpa di Gilead, dan dari Mizpa di Gilead ia berjalan terus ke daerah bani Amon. (30) Lalu bernazarlah Yefta kepada TUHAN, katanya: “Jika Engkau sungguh-sungguh menyerahkan bani Amon itu ke dalam tanganku, (31) maka apa yang keluar dari pintu rumahku untuk menemui aku, pada waktu aku kembali dengan selamat dari bani Amon, itu akan menjadi kepunyaan TUHAN, dan aku akan mempersembahkannya sebagai korban bakaran.” (32) Kemudian Yefta berjalan terus untuk berperang melawan bani Amon, dan TUHAN menyerahkan mereka ke dalam tangannya. (33) Ia menimbulkan kekalahan yang amat besar di antara mereka, mulai dari Aroër sampai dekat Minit — dua puluh kota banyaknya — dan sampai ke Abel-Keramim, sehingga bani Amon itu ditundukkan di depan orang Israel. (34) Ketika Yefta pulang ke Mizpa ke rumahnya, tampaklah anaknya perempuan keluar menyongsong dia dengan memukul rebana serta menari-nari. Dialah anaknya yang tunggal; selain dari dia tidak ada anaknya laki-laki atau perempuan. (35) Demi dilihatnya dia, dikoyakkannyalah bajunya, sambil berkata: “Ah, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh dan engkaulah yang mencelakakan aku; aku telah membuka mulutku bernazar kepada TUHAN, dan tidak dapat aku mundur.” (36) Tetapi jawabnya kepadanya: “Bapa, jika engkau telah membuka mulutmu bernazar kepada TUHAN, maka perbuatlah kepadaku sesuai dengan nazar yang kauucapkan itu, karena TUHAN telah mengadakan bagimu pembalasan terhadap musuhmu, yakni bani Amon itu.” (37) Lagi katanya kepada ayahnya: “Hanya izinkanlah aku melakukan hal ini: berilah keluasan kepadaku dua bulan lamanya, supaya aku pergi mengembara ke pegunungan dan menangisi kegadisanku bersama-sama dengan teman-temanku.” (38) Jawab Yefta: “Pergilah,” dan ia membiarkan dia pergi dua bulan lamanya. Maka pergilah gadis itu bersama-sama dengan teman-temannya menangisi kegadisannya di pegunungan. (39) Setelah lewat kedua bulan itu, kembalilah ia kepada ayahnya, dan ayahnya melakukan kepadanya apa yang telah dinazarkannya itu; jadi gadis itu tidak pernah kenal laki-laki. Dan telah menjadi adat di Israel, (40) bahwa dari tahun ke tahun anak-anak perempuan orang Israel selama empat hari setahun meratapi anak perempuan Yefta, orang Gilead itu.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

Kisah dalam pembacaan ini mengharukan dan sekaligus mengagumkan. Sebelum Yefta memimpin bangsanya untuk maju berperang melawan bani Amon, ia membuat nazar di hadapan Tuhan. Isi nazarnya adalah, ia akan mempersembahkan bagi Tuhan apa pun yang lebih dulu keluar dari rumahnya untuk menyambutnya seusai perang. Dan apa yang terjadi ketika Tuhan memenangkan Yefta dan bangsa Israel dari bani Amon? Yefta pulang ke rumah dan lebih dulu disamput oleh anak perempuannya. Hal ini pasti tidak terbayangkan oleh Yefta sebelumnya, sehingga ia sangat sedih. Anak perempuannya juga sedih karena harus kehilangan masa-masa indah yang sedang dialaminya. Yefta sedih, anaknya juga, dan bahkan seluruh keluarga dan kerabat berada dalam kesedihan yang tak terperihkan.

Tapi biar bagaimana pun Yefta harus melakukan nazarnya kepada Tuhan. Dan seluruh bangsa Israel dirundung duka yang berkepanjangan. Mereka pun tidak bisa menghalangi pewujudan sebuah nazar, apalagi itu adalah nazar bagi Tuhan. Mereka tahu jika nazar itu dibatalkan mereka akan merasakan dampaknya yang sangat buruk.
Nazar bagi Tuhan adalah sebuah janji yang harus dipenuhi. Bak pepatah yang mengatakan “Janji adalah hutang”, maka janji harus dilunasi. Demikianlah nazar, harus dipenuhi. Nazar sekarang sudah jarang dipraktekkan dalam kehidupan beriman, karena Alkitab sendiri melarang orang mengangkat sumpah jika itu sifatnya palsu (tidak sanggup dipenuhi). Tetapi janji dalam kehidupan orang beriman tetap penting. Kehidupan kita dalam iman selalu diikat dalam perjanjian keselamatan Tuhan. Di hadapan Tuhan kita hidup dalam “Janji Iman” yang tercermin dalam baptisan, peneguhan sidi, pemberkatan nikah, dll. Karena janji adalah ‘hutang’, makan “janji iman’ adalah hutang iman yang harus dipenuhi.

Kita harus berusaha untuk mewujudkan setiap janji iman kita kepada Tuhan. Sebagaimana beban hidup yang kita hadapi tidak akan melampaui kekuatan kita, demikianlah isi janji iman kita bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Roh Kudus turut bekerja dalam diri kita untuk mewujudkannya.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here