PDT. WEINATA SAIRIN: *JANGAN ADA LUKA MENGANGA DI DADA*

0
345

_”Tacitum vivit sub pectore vulnus. Luka yang terpendam didada tetap masih hidup”_

Kata “luka” dalam arti yang biasa atau dalam arti kiasan amat sering kita temui baik dalam percakapan maupun dalam naskah tertulis. Ada beberapa kamus bahasa Indonesia yang menjelaskan luka sebagai “belah, lecet pada kulit karena terkena benda tajam”, ada juga yang memaknainya dengan “cacat”. Pada waktu kita kecil kita sering mengalami luka, ya luka fisik dan riil. Misalnya ketika kita tidak hati-hati menginjak atau memegang pecahan kaca. Pecahan itu acap melukai tangan atau kaki kita. Lalu orang tua dengan sigapnya, tahun 60-an itu, mengobatinya dengan obat luka : jodium tincture yang ketika dioleskan melalui kapas terasa perih pada luka itu. Di masa kini luka seperti itu biasanya diobati dengan obat merah Betadine, dan selesai.

Diksi “luka” amat kuat terasa pada puisi penyair Angkatan 45 Chairil Anwar dalam puisinya berjudul “Aku”. Ini penggalann puisinya itu :

” ..Biar peluru menembus kulitku Aku tetap meradang, menerjang.

Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi”
(Sumber :”Chairil Anwar Pelopor Angkatan 45, HB Jassin, Penerbit Narasi; Yogyakarta, 2018)

Lepas dari adanya pendapat bahwa karya Chairil Anwar “Aku” terkena pengaruh puisi Marsman berjudul “In Memoriam P.M.S, yang dibantah oleh HB Jassin, paus sastra Indonesia, kata “luka” dalam puisi Chairil ini merepresentasikan seorang yang energik, gagah berani, yang tidak meratap atau menangis karena luka akibat terjangan peluru; bahkan ia terus berlari dan berlari hingga hilang pedih peri. Orang sejenis Chairil tak bisa tunduk oleh peluru, oleh luka. Itulah karakter seorang binatang jalang yang diakhir puisinya mendeklarasikan kata-kata yang “fantastis eskatologis” : “Aku mau hidup seribu tahun lagi”. Ia berontak. Ia berfikir out of the box. Pemikirannya melintasi zamannya karena ia concern dengan manusia dan peradaban.

“Luka” yang dialami seorang Chairil dalam Akunya itu adalah luka fisik, yang bisa diselesaikan dengan Betadine di zaman modern. Luka Chairil bukan luka hati yang tak bisa disembuhkan secara cepat. Luka hati terjadi oleh banyak hal yang terkait dengan hati dan perasaan: cinta yang ditolak, kehilangan orang terkasih, mengalami diskriminasi, di persekusi tanpa alasan, kehilangan segalanya karena bencana dan sebagainya. Renungkan puisi pendek Rosni Idham berjudul “Pengaduan” yang menggambarkan luka hati karena Tsunami Aceh 2005.

” Tuhan,
Atas izinMu
Akan kuteruskan
pengembaraan ini
Walau terseok-seok
Terus dan terus
melangkah merajut puing
Walau hati terasa berkeping”

Meulaboh, 1 Maret 2005
(Sumber :”Ziarah Ombak, sebuah antologi puisi, D Kemalawati, Sulaiman Tripa, Penerbit Lapena, Yogyakarta 2005)

Luka fisik memang sangat berbeda dengan luka hati. Luka fisik dan luka hati keduanya menimbulkn pedih dan perih, namun kualitas dan bobotnya jauh berbeda. Luka hati banyak terjadi dalam ruang lingkup relasi antar manusia yang diakibatkan oleh banyak hal. Bisa karena faktor sara; diskriminasi dalam rekrutmen SDM di lembaga/ birokrasi, soal perkawinan, soal warisan dalam sebuah keluarga besar dan lain-lain.

Dalam sebuah masyarakat yang majemuk, dalam lembaga keluarga, kasus “luka hati” banyak terjadi. Hanya saja tidak semua kasus itu terekspose ke luar; ketengah-tengah ruang publik. Kasus-kasus KDRT misalnya tidak semua bisa terungkap keluar oleh karena berbagai sebab.

Dalam masyarakat beragama seperti yang kita hidupi di Indonesia, kasus “luka hati” seharusnya.bisa diminimalisasi. Kita harus benar-benar dapat menjaga agar perkataan dan perbuatan kita tidak melukai hati siapapun. Andaikata sempat terjadi luka hati dalam relasi kita maka kita harus segera menyelesaikannya dengan memohon maaf dan saling mengampuni. Dengan cara itu bisa terhindar adanya luka yang terpendam dalam sebuah komunitas.

Luka yang terpendam di dada tetap masih hidup kata peribahasa. Luka hati yang biasanya membuat dada pedih dan perih tidak boleh terus hidup dalam diri siapapun. Kita harus hidup dengan hati penuh syukur, damai dan sukacita. Jangan ada hati yang luka. Jangan ada tubuh yang luka. Jangan ada luka menganga dalam tubuh manusia Indonesia.

Selamat Berjuang. God Bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here