Berdosakah Bila Kita Merasa Tidak Puas?

0
420

 

 

Oleh: P. Adriyanto

 

 

“Janganlah hidupmu dikuasai oleh cinta akan uang; tetapi hendaklah kamu puas dengan apa yang ada padamu, sebab Allah sudah berkata, Aku tidak akan membiarkan atau meninggalkan engkau.”

*_Ibrani 13:5, BIS_*

 

 

Dalam segala aspek kehidupan, kita tidak boleh cepat puas bila ingin sukses. Kita tidak boleh menjadi *quitter* yakni orang yang punya kecenderungan menyerah dan terus mengeluh serta tidak punya daya juang.

Kita juga tidak boleh menjadi *camper* yakni orang yang cepat puas yang mudah terjebak dalam *comfort zone/zona kenyamanan.* Bila kita menganalogikan dengan pendaki gunung, baru berhasil memanjat sampai pada lereng gunung, kita sudah cukup puas sehingga mendirikan tenda untuk camping.

 

Sebagai anak Tuhan, kita harus punya daya juang yang tinggi, kita harus menjadi *climber* yakni pendaki sejati untuk berani berjuang sampai ke puncak gunung. Sebagai climber kita harus mampu menundukkan gunung setinggi apapun. Kita akan gagal total bila dalam pendakian ke puncak kita berjuang atas kekuatan sendiri, sebaliknya kita harus  berserah kepada-Nya dan minta campur tangan dan bimbingan-Nya.

¹ *”Bukan karena kemampuan kita sehingga kita beranggapan kita sanggup melakukan sesuatu yang berarti; tetapi Allah yang memberi kemampuan itu kepada kita.”*

*2 Korintus 3:5*

(Terjemahan dari King James Version)

 

² *”Kita tahu sekarang bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu yang untuk mendatangkan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”*

*Roma 8:28*

 

Jadi ketidakpuasan yang bagaimana yang tidak berkenan kepada Tuhan?

Bila kita tidak pernah bersyukur atas berkat-berkat yang telah Tuhan berikan, bila kita selalu mengeluh sebelum jadi kaya raya, bila kita dikuasai oleh hasrat  cinta akan uang dan siang-malam memburu uang (hidup berorientasi pada hedonisme) sehingga melupakan Tuhan, maka inilah ketidakpuasan yang dibungkus oleh dosa.

Baca juga  YESUS TETAP SETIA 

*”Mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging, mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena kainginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera.”*

*Roma  8:5~6*

 

Kita harus mampu mengendalikan hasrat dan keinginan kita. Kita harus banyak beribadah dan bila disertai rasa cukup, akan memberi keuntungan besar (Amsal 23:17~18). Kita harus selalu mencari Tuhan dan minta bmbingan-Nya agar tidak terjerumus pada ketidakpuasan yang mengarah pada keserakahan.

Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here