Pdt. Weinata Sairin: Tuhan Menempa dengan Aneka Cara agar Kita Kukuh Tangguh

0
494

 

 

 

“Quaestio aut provocatio gratia est. Pertanyaan atau tantangan itu adalah berkat”.

 

Dalam hidup ini kita entah sudah berapa kali mendapat “ertanyaan”.  Ya tiada terhitung banyaknya, sejak kita mulai pandai bicara hingga kita menjadi pejabat, bahkan ketika seseorang sudah menyatu dengan tanah. Waktu masih amat kecil kita acap ditanya oleh tamu atau tetangga, dengan berbagai pertanyaan “klise” : siapa namanya, umurnya berapa, sudah sekolah, kelas berapa, dan sebagainya, dan sebagainya. Bahkan pada seseorang belum bicara sepatah katapun, seorang ibu yang menimang-nimang anaknya acapkali mengungkapkan pertanyaan begini kepada sang bocah : “anak siapa nih?” Siapa sih ayahnya? “Siapa ibunya?” Dan sang bocah tentu tidak menjawab karena ia belum pandai berkata-kata, tetapi kadang-kadang bocah itu tertawa atau berteriak-teriak mendengar pertanyaan (klise dan berulang-ulang) dari ibunda terkasih.

 

Dalam hal “tantangan” juga agaknya sudah diperhadapkan kepada kita sejak kita masih kecil. Waktu seseorang baru mulai belajar berjalan maka ia “ditantang” untuk jalan cepat dan bahkan berlari baik oleh ayah maupun oleh ibunya bahkan oleh paman, om atau tante yang berkunjung ke rumah. Sesudah agak besar tantangan berbeda baik jenis maupun bobotnya.Kita diajak untuk melompati sungai kecil yang berada dipinggir sawah, misalnya. Atau ditantang untuk memanjat pohon rambutan saat buah rambutan jenis rapiah sedang berbuah lebat. Bahkan ada kalanya kita ditantang untuk memanjat pohon kelapa yang biasanya amat tinggi.

 

Pertanyaan dan tantangan itu makin besar, luas. _complicated_ seiring dengan bertambahnya usia dan makin mapannya kedudukan kita dalam organisasi, kantor; atau juga birokrasi. Setiap orang tentu saja berbeda-dalam merespons pertanyaan atau tantangan itu dalam kehidupannya. Orang yang tak mau pusing, dan ingin tetap nyaman di zona aman, biasanya menolak atau menjauhi tantangan itu. Bahkan ekstrimnya ia complain kepada orang lain atau Yang Diatas tentang tantangan yang ia hadapi itu. Ia merasa kenyamanannya terusik, terganggu dengan tantangan itu. Ia kuatir dapurnya tak bisa mengepul lagi dengan adanya tantangan itu. Ia merasa bahwa ‘in the long term’ tantangan itu bisa mengakhiri kedudukannya. Namun pada sebelah lain ada orang yang enjoy dengan tantangan. Ada seorang sahahat yang berhenti dan pindah dari kantornya karena ia merasa di kantornya itu tak ada tantangan. “Aku tak bisa berkreasi tanpa adanya tantangan!” katanya dengan serius.

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

 

Selama kita menjalani kehidupan ini kita akan tetap mengalami adanya “pertanyaan” dan juga “tantangan”. Kita tak usah takut, bimbang atau ragu menghadapi keduanya itu. Jika kita merenungkan lebih dalam sebenarnya pertanyaan dan tantangan yang diperhadapkan kepada kita sangat bermakna untuk memprrdalam wawasan kita dan meneguhkan kedirian kita. Pertanyaan kepada kita mendorong kita untuk berupaya mengetahui segala sesuatu, memperkuat kepribadian kita, meneguhkan kesiapaan kita, pertanyaan itu sekaligus juga sebuah dorongan untuk menampilkan diri dengan lebih baik, lebih berwibawa sehingga makin tercapai _trust_ dari publik kepada kita. Akan terjadi _distrust_ jika kita salah, atau tidak bisa menjawab atau kita sama sekali tidak mampu memberi jawab dengan baik.

 

Sangat menarik karena pepatah yang dikutip diawal bagian ini menyatakan bahwa pertanyaan atau tantangan itu adalah *berkat*. Kata “berkat” yang banyak sekali dijumpai dalam Alkitab, kitab suci umat Kristen dan Katolik, juga sangat populer di masyarakat luas. Seorang yang pulang dari pesta perkawinan (di kampung) biasanya membawa ‘berkat’ berupa makanan yang disiapkan oleh pengundang. Pesta-pesta pernikahan di hotel-hotel tidak lagi dibekali ‘berkat’ pada saat pulang, tetapi mendapat cendera mata, yang beragam jenisnya, biasanya diberikan pada saat tamu mengisi buku tamu, atau diambil pada saat pulang melalui kupon yang diberikan lebih dahulu.

 

KBBI memuat beberapa arti tentang kata _berkat_. ‘Berkat’ dimaknai sebagai “karunia Tuhan yang membawa kebaikan bagi manusia”; “doa restu dan pengaruh baik yang mendatangkan selamat dan bahagia dari orang yang dihormati”; “makanan yang dibawa pulang sehabis kenduri”. Berkat ( blessing, barakah/Arab, berakhah/ Ibrani) termasuk kata yang cukup populer dalam kehidupan masyarakat umum sebab itu cukup banyak kata itu digunakan oleh masyarakat. Dalam perspektif Kristen, _berkat_ itu dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia dalam beragam bentuk baik, jasmani maupun rohani sehingga manusia dapat melaksanakan tugas pelayanannya secara optimal. Dalam ibadah Kristen, pada hari Minggu atau hari-hari lain selalu pada bagian penutup ibadah diucapkan rumusan Berkat yang baku yang berasal dari Alkitab; dan dengan rumusan itu ibadah umat secara bersama/berjamaah,berakhir.

Baca juga  FIRMAN YANG MENJADI MANUSIA

 

Kita akan terus berhadapan dengan “pertanyaan” dan “tantangan” dalam perjalanan kita menuju masa depan. Bisa saja itu pertanyaan retorik; pertanyaan berbalut sinisme dan sindiran; pertanyaan yang bisa menimbulkan keraguan terhadap agama, ideologi, afiliasi politik kita. Kita juga akan menghadapi tantangan yang lebih riil dan besar dibanding dengan ‘pertanyaan’. Kita maknai pertanyaan dan tantangan itu sebagai _berkat_ yang menguatkan komunitas kita, mendewasakan dan mematangkan kedirian kita. Biarlah kedua aspek itu mengalir saja mewarnai kehidupan kita. Tak usah takut atau cemas, tak usah mesti menenggak Zanax atau Alprazolam atau obat apapun. Tuhan melatih kita untuk menjadi orang yang tangguh dan tepercaya melalui _pertanyaan_ dan  _tantangan_. Mari rangkul dan dekap penuh hangat dan sukacita.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here