Tuhan adalah Gembalaku

0
929

 

 

Oleh: Pdt Martunas P. Manullang

 

Selamat siang dan salam damai sejahtera bagi kita semua.

 

Inilah salah satu pokok pikiran yang menjadi pengakuan iman (berdadarkan pengalaman) orang-orang percaya, sepanjang zaman.

 

Lebih hebat lagi kalau kita mengetahui, bahwa kata atau ungkapan ini menjadi pengakuan iman seorang penggembala ternak yang kemudian menjadi penggembala manusia (pemimpin di pemerintahan: raja). Dialah orang yang bernama Daud.

 

Mari kita baca yang tertulis pada Mazmur 23:1: “TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”

 

Memang, bagaimana TUHAN menjadi seorang gembala bagi Daud, tidak usah lagi diragukan.

 

Tetapi pada hari ini, aplikasi atau pengenaan ayat renungan ini mestinya berhubungan atau kita hubungkan dengan pengalaman kita masing-masing.

 

 

Boleh mengikuti pengalaman Daud yang digambarkannya pada ayat 2-6 pada Mazmur 23 ini.

 

Misalnya: TUHAN, Gembala kita, benar-benar memberi makan dan memimpin kita.

 

Sang Gembala itu “benar-benar mencarikan dan menyediakan hal-hal (unsur-unsur) penting bagi kehidupan kita”. Saat kita mengikuti-Nya, kita benar-benar merasakan bahwa “kebutuhan sehari-hari kita tercukupi”.

 

Dan juga, pada masa lampau, dalam pengalaman hidup kita, “saat kita ingin mengetahui jalan mana yang harus kita tempuh”, TUHAN, Sang Gembala itu “menunjukkan kita jalan yang benar”, “bahkan Dia sendiri bersedia berjalan di depan kita”, “menunjukkan jalan itu dan agar kita mengikuti serta meneladani-Nya.”

 

Pernah juga, dalam saat-saat tertentu, saat kegelapan menyelimuti diri kita, atau perasaan kita sedang berada di tempat yang berbahaya, bagaikan lembah kekelaman, sepertinya ada bayang-bayang maut; namun kita juga rasakan dan alami kehadiran-Nya yang nyata. DIA menuntun kita, dengan penuh kasih, kebijaksanaan dan kelemahlembutan-Nya. Akhirnya kita dituntun dan benar-benar dapat melalui/melewatinya. Penyertaan-Nya, pemeliharaan-Nya, yang luar biasa dalam hidup kita? Ya, demikianlah adanya dan sesungguhnya.

Baca juga  SUKACITA DI SORGA

 

Bukankah semuanya ini, dan banyak hal lainnya lagi, yang tidak dapat kita tulis atau daftarkan di sini, menunjukkan bagaimana DIA, GEMBALA AGUNG itu memelihara dan menyelamatkan kita?

 

Jika demikian, bukankah kita boleh mengikuti Daud, untuk mengaminkan kata berikutnya : “Aku tidak akan kekurangan”, atau “takkan kekurangan aku.”?

 

Termasuk, saat kita mengalami kehidupan yang sulit, seperti: kehilangan orang yang dikasihi; ditinggalkan orang yang kita cintai, sakit penyakit, putus hubungan kerja, blm dpt pekerjaan, masalah keluarga, suami-istri, orangtua-anak, persahabatan yg terganggu, komunikasi yang tdk lancar, lingkungan kerja dan masyarakat yg tdk kondusif, dan berbagai penderitaan hidup lainnya; tentulah semua ini tidak akan dapat memengaruhi kita untuk mengurungkan niat mengikuti-Nya.

 

Sebaliknya, justru dalam semuanya ini, kita semakin sungguh dan bertekun mengikuti TUHAN, Gembala itu.

 

Mengapa? Karena kita yakin dan percaya, DIA tidak akan pernah menuntun kita ke tempat di mana Dia akan menelantarkan kita begitu saja. Tidak. Tidak.

 

 

Justru sebaliknya, DIA akan tetap menuntun kita ke tempat, di mana pun, yang terus akan memelihara kita. Bahkan, rasa sakit dan luka kita pun disembuhkan. Jiwa kita yang letih dan lesu, disegarkan. Dan banyak hal lainnya lagi.

 

 

Itulah artinya, kalau pada saat ini pun, kita sudah dapat mengulang atau mengikuti Daud, dengan mengungkapkan iman percaya kita, seperti pada ayat renungan hari ini: “TUHAN adalah Gembalaku, takkan kekurangan aku” (Mazmur 23:1).

 

 

Benar, TUHAN, hanya Dialah Gembala bagi kita. Bagi Anda dan saya. Bukankah begitu?

 

Selamat beraktivitas di hari ini. Tuhan Yesus memberkati. Amin.

 

Pdt Martunas P. Manullang

Baca juga  CARILAH TUHAN MAKA KAMU AKAN HIDUP

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here