Keinginan untuk Lebih Superior dari Orang Lain

0
780

Oleh: P. Adriyanto

 

 

“Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

“Lukas 14:11”

 

 

Pada tahun 1983, ketika saya masih bekerja di perusahaan consulting engineers (Persero), saya  mengadakan appointment dengan seorang konsultan dari Jepang (Mr. X) untuk mematangkan MoU kerjasama untuk proyek survey & investigation sampai penyiapan design dan construction supervision sebuah Proyek Bendungan Saguling dan Cirata di Jawa Barat.

Saya selalu berusaha datang in time. Jadi 10 menit sebelum waktu yang disepakati bersama, saya sudah tiba di hotel Pan Sari Pasific, Thamrin.

Saya langsung telepon di kamarnya, tapi tidak ada jawaban. Di loby saya melihat ada beberapa orang Jepang duduk- duduk dan saya tanyakan apa ada yang bernama Mr. X, namun mereka tidak ada yang mengenalnya.

 

Saya mulai jengkel, dan saya menuju ke counter receptionist dengan maksud minta bantuan bellboy untuk mencarikan Mr. X dengan tulisan nama di papan kecil yang diletakkan di atas tongkat dan kliningan.

Sudah lebih dari 5 menit saya dicuekin oleh 3 receptionist yang sibuk menulis dan ada yang terima telepon.

Saya jadi emosi ketika ada Jepang yang baru datang,  langsung dilayani. Saya jadi emosional dan memaki para receptionist tersebut dan langsung melaporkan kepada duty manager yang duduk agak jauh dari counter receptionist.

 

Ternyata Mr.X sedang makan di restaurant hotel. Kembali emosi saya memuncak, langsung tanpa berjabatan tangan,  saya langsung tegur dia. Perjanjiannya kan mau membahas draft MoU sambil lunch, tapi saya ditinggal.

Sambil mengatur nafas akibat emosi, saya tunggu apa dia akan memanggil waiter untuk memesankan makanan buat saya. Karena dia tidak bereaksi, saya panggil sendiri  waiter dan memesan US sirloin steak, coca cola dan mix fruit sebagai disert untuk diri saya sendiri. Pesanan saya jauh lebih mahal dibanding dengan nasi goreng yang dimakan oleh si Jepang. Pokoknya saya harus lebih superior di banding dengan dia.

Baca juga  Kebiasaan Hidup yang Membawa Kebahagiaan: Memilih untuk Bersukacita

 

Setelah selesai makan, saya langsung panggil waiter dan menyodorkan credit card yang pada waktu itu adalah American Express. Saya pikir walau nggak punya uang pokoknya sombong.

Ciri-ciri orang yang tinggi hati adalah menilai dirinya lebih hebat, lebih pandai, lebih kaya, lebih tampan/cantik, lebih penting dibanding orang-orang lain,  dan lebih-lebih yang lain.

Keangkuhan merendahkan orang lain, dan sikap-sikap di atas akan menjauhkan kita dari Tuhan karena sepanjang hidupNya di dunia, Kristus selalu memberikan keteladanan untuk bersikap rendah hati.

Yesus mengajak kita  untuk belajar dari-Nya tentang kerendahan hati yang adalah kunci untuk  ketenangan hidup.

*”Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah padaKu, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.”*

*Matius 11:28~29*

 

Alkitab mengatakan bahwa : *”Ganjaran kerendahan hati dan takut akan TUHAN adalah kekayaan, kehormatan  dan kehidupan”*

*Amsal 22:4*

Namun, nampaknya dunia semakin dikuasai oleh kesombongan dan keangkuhan.

*”Allah menentang orang-orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati, “*

*1 Petrus 5:5*

Apabila ada kasih Kristus dalam hati kita, maka kita akan selalu bersikap ramah dan tidak angkuh dengan alasan apapun.

Amin.

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here