banner 728x250

Hari Doa Alkitab 2017

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

 

banner 325x300

 

Catatan Awal.

Pada setiap bulan September LAI melaksanakan acara Hari Doa Alkitab. Liturgi dan bahan pembacaan Alkitab disiapkan oleh LAI, Gereja-gereja melaksanakan kegiatan itu di jemaat masing-masing. Pada kebaktian di hari Minggu tsb dihimpun persembahan untuk LAI. HDA 2017 bertema : “Diciptakan Untuk Berkarya Cipta” ( *bdk* Yesaya 43:19a ).

 

HDA 2017 menggunakan liturgi Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi sebab itu LAI melaksanakan ibadah itu tanggal 24 September 2017 di Jemaat GKPPD Cililitan Jakarta pkl 10.00 – 11.30. Ibadah itu dilayani oleh Pdt IP Lambe Ketum LAI, dan dihadiri oleh Ketua LAI Pdt Weinata Sairin, Bendahara Umum Drs Moenir, Sekum  Harsiatmo Duta Pranowo, MBA Staf LAI, Majelis dan Jemaat GKPPD Cililitan. Menurut dokumen-dokumen LAI, HDA memiliki akar sejarah yang cukup panjang.

 

Di zaman dahulu kala, orang-orang Yahudi bersama orang bukan Yahudi yang takut kepada Tuhan, tiap tahun berkumpul di Pulau Faros di Laut Tengah guna menaikkan syukur atas tersedianya Alkitab dalam bahasa yang mereka mengerti. Demikian tulis Philo, sejarawan Yahudi kenamaan dari Aleksandria yang hidup pada abad pertama Masehi. Alkitab yang dimaksud adalah Alkitab Septuaginta, yakni Alkitab bahasa Yunani yang diterjemahkan dari bahasa Ibrani.

 

Orang-orang Yahudi di perantauan, di wilayah-wilayah sekeliling Laut Tengah, sudah tidak mengerti lagi bahasa Ibrani dan sudah memakai bahasa Yunani, baik dalam pergaulan sehari-hari maupun dalam komunikasi tertulis. Pembacaan Alkitab di rumah rumah ibadah Yahudi dilakukan dalam bahasa Ibrani, namun diterjemahkan secara lisan oleh seorang turgeman (band. kata “terjemah”) agar dimengerti jemaat. Terjemahannya pada mulanya dilakukan dalam bahasa Aram, seperti dapat kita baca dalam Nehemia 8:8 BIMK (pada Alkitab TB Neh. 8 : 9), tetapi di kemudian hari juga ke dalam bahasa Yunani.

 

Tak heran, bahwa Alkitab yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani tersebut disambut dengan sangat meriah, sebab umat Allah sekarang dapat membaca dan mendengar Firman Allah dalam bahasa yang dimengerti. Alkitab Septuaginta ini menurut legenda diterjemahkan atas perintah Raja Ptolomeus II pada abad ketiga sebelum Masehi untuk memperkaya khazanah perpustakaan Aleksandria yang termasyhur di dunia purba. Tujuh puluh penerjemah dikucilkan selama 70 hari, masing-masing dalam kamarnya sendiri, sehingga tidak dapat saling berkomunikasi. Setelah 70 hari mereka diperbolehkan keluar sebab mereka semua telah menyelesaikan seluruh Alkitab Ibrani, yakni kitab-kitab Perjanjian Lama, dan ternyata semua terjemahan yang dihasilkan sama persis isinya satu sama lain. Ini bukti, kata legenda, bahwa pekerjaan mereka diilhami Allah. Alkitab Septuaginta ini pun menjadi Alkitab orang-orang Kristen yang pertama. Mereka lebih menyukainya daripada Alkitab bahasa Ibrani. Dan kitab-kitab Perjanjian Baru, yang ditulis pada paruh kedua abad pertama dalam bahasa Yunani, sering mengutip ayat-ayat Perjanjian Lama bukan dari Alkitab Ibrani melainkan dari Septuaginta.

 

Sejak usaha penerjemahan di masa purba itu, Alkitab telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa di dunia. Seirama dengan menyebarnya agama Kristen, Alkitab diterjemahkan ke dalam bahasa Siria, Koptik, Latin, Armenia, Arab dan bahasa-bahasa Eropa. Salah satu terjemahan Alkitab yang terkenal dan sangat berpengaruh adalah Vulgata, sebuah terjemahan bahasa Latin yang dikerjakan oleh Hieronimus (331-420 M). Berabad-abad lamanya terjemahan ini di kalangan Katolik diterima sebagai satu-satunya versi yang otentik dan hal ini baru diubah pada tahun 1943 oleh Paus Pius XII.

 

Begitu besar pengaruh Hieronimus sehingga Federasi Internasional Penerjemah tiap tahun memperingati Hari Penerjemahan Internasional pada tanggal 30 September, bertepatan dengan Hari Raya Santo Hieronimus. Ketika pada abad-abad yang lampau terjadi gerakan misioner yang besar, Injil tersebar ke seluruh penjuru bumi dan Alkitab diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Dewasa ini Alkitab telah diterjemahkan ke dalam lebih dari 2400 bahasa di seluruh dunia.

 

Ucapan Syukur atas Terbitnya Alkitab Terjemahan Baru

 

Khusus untuk lingkungan keluarga besar LAI, Badan Pengurus LAI pada masa itu menetapkan bulan November 1975 sebagai Hari Doa Syukur Alkitab sebab Alkitab Terjemahan Baru dengan Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan (EYD) telah terbit dan digunakan bersama oleh seluruh umat Kristen di Indonesia, baik Kristen/Protestan maupun Katolik. Dalam brosur yang ditulis LAI untuk peringatan Hari Doa Syukur 1975 disebutkan : Kasih karunia dan anugerah Allah yang besar telah memungkinkan pencetakan Alkitab Terjemahan Baru, hikmat dan kuasa Allah telah mendorong usaha penerjemahan dan semua pekerjaan dalam mempersiapkan dan menerbitkannya.

 

Dengan terbitnya Alkitab Terjemahan Baru dengan ejaan yang baru (EYD), Lembaga Alkitab Indonesia mengajak Gereja-gereja di seluruh tanah air untuk mengadakan Kebaktian Khusus dan menaikkan doa syukur kepada Tuhan atas kasih karunia-Nya yang besar itu. Sehubungan dengan maksud ini kepada Gereja-gereja serta Jemaatnya LAI menyebarkan sekitar satu juta seleksi dengan permintaan agar mereka juga berpartisipasi dalam pelayanan LAI dengan memberi kolekte atau persembahan pribadi pada kebaktian tersebut.

 

Hasilnya ternyata sangat menggembirakan, bukan karena besarnya jumlah sumbangan yang diterima, tetapi dari nama penyumbang/gereja yang mengirim dukungannya, ternyata bahwa kesadaran tentang pentingnya pekerjaan penyebaran Firman Tuhan telah mulai bersemi di hati sebagian umat Kristen, baik di Gereja-gereja yang besar di kota maupun sampai kepada jemaat-jemaat miksin di desa- desa. Dalam rangka Hari Doa Syukur yang pertama ini Sekretaris Umum LAI (pada masa itu adalah Pdt. W.J. Rumambi) mengisi siaran di radio dan televisi untuk memberi penjelasan kepada masyarakat tentang Alkitab Terjemahan Baru Ejaan Baru tersebut. Hal ini penting sekali untuk mencegah adanya pemikiran yang salah di kalangan masyarakat yang berpendapat bahwa terjemahan ini mengubah isi Alkitab. Padahal yang sebenarnya adalah bahwa tanpa sedikitpun mengubah isinya. Firman Allah diterjemahkan dari bahasa aslinya (yaitu PL dalam bahasa Ibrani dan PB dalam bahasa Yunani) ke dalam bahasa Indonesia yang lebih sederhana dan mudah dimengerti.

 

Hari Doa Alkitab yang pada mulanya berlangsung pada bulan Oktober, pada tahun 1977 disesuaikan dengan Bulan Kitab Suci Nasional umat Katolik yang jatuh pada bulan September (mengikuti tradisi yang dimulai di Pulau Faros). Melanjutkan tradisi yang telah dimulai di Faros berabad-abad lalu dan mensyukuri terbitnya Alkitab Terjemahan Baru yang dipakai seluruh Gereja di Indonesia, Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) mengadakan ibadah syukur memperingati Hari Doa Alkitab, sebagai ucapan syukur atas tersedianya Alkitab dalam bahasa yang kita mengerti.

 

Pada tahun 2017 ini HDA diarahkan untuk mendukung program penerjemahan Alkitab Formal Pakpak Dairi dengan biaya Rp.3.108.367.763. Dukungan potensi krstiani dan seluruh warga Gereja bagi program ini amat diharapkan. Bahasa adalah alat komunikasi efektif untuk menyampaikan kabar kesukaan. Bahasa-bahasa daerah yang menjadi kekayaan NKRI harus dilestarikan agar dapat menjadi wahana dalam mewartakan kabar kesukaan. Bahasa sebagai media komunikasi tidak menjadi milik suatu kelompok, itulah sebabnya penerjemahan Alkitab kedalam bahasa-bahasa daerah di Indonesia memiliki dasar yang legitim. Kiranya Tuhan memberkati LAI dan Gereja-gereja di Indonesia dalam menunaikan misi besar di negeri ini.

 

Jakarta, 25 September 2017. Weinata Sairin.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *