FIRMAN ALLAH BEKERJA.

0
551

Selamat pagi dan salam damai sejahtera bagi kita semua.

Oleh: Pdt Martunas P. Manullang

 

Inilah yang ditekankan pada ayat renungan hari ini.
Kita baca pada 1 Tesalonoka 2:13: “Dan karena itulah kami tidak putus-putusnya mengucap syukur juga kepada Allah, sebab kamu telah menerima firman Allah yang kami beritakan itu bukan sebagai perkataan manusia, tetapi – dan memang sungguh-sungguh demikian – sebagai firman Allah yang bekerja juga di dalam kamu yang percaya”.

Alkitab (LAI) membuat pembagian pasal 2 ini dengan dua bagian (perikop).
Pertama, ay.1-12 dengan judul: Pelayanan Paulus di Tesalonika.
Kedua, ay.13-20: Sukacita atas jemaat.

Membaca bagian pertama, 1 Tesalonika 2:1-12 memberi suatu kesan terhadap rasul Paulus, adanya klarifikasi atas pelayanan yang dia (dan mereka) lakukan, yang bernada pembelaan. Misalnya, saat ia menjelaskan bahwa ia dan teman-temannya tidak pernah berpikir untuk mengambil keuntungan dari yang mereka layani, entah untuk hidup maupun pengganti transport (perongkosan).

Sebaliknya, mereka (Paulus dan temannya) justru sudah membuktikan, siang dan malam mereka bekerja juga untuk mendapatkan nafkahnya. Selain itu, mereka pun aktif atau giat memberitakan kabar baik bagi jemaat Kristen di sana. Bekerja siang dan malam, inikah yang membedakan Paulus serta temannya dari kebanyakan orang pada waktu itu, yang mengaku pembawa agama, tetapi tidak menunjukkan suatu keteladanan hidup. Kepada jemaat yang di Tesalonika, Paulus selalu msnghimbau atau mengajak mereka supaya hidup sesuai dengan kehendak Allah, yang memanggil mereka ke dalam kerajaan-Nya.

Telah terbukti, jemaat yang baru bertobat itu, memang layak bertahan dalam menghadapi berbagai penghinaan, cercaan bahkan penganiayaan yang muncul pada waktu itu kepada orang Kristen sebagai kelompok minoritas. Dalam semuanya itu, satu hal yang memang tidak dapat dilepaskan dari mereka adalah keyakinan yang teguh akan panggilan Allah yang memercayakan Injil itu kepada mereka, untuk diberitakan.

Dan untuk hal itulah (untuk pemberitaan Injil), Paulus benar-benar mau menunjukkan tanggung jawabnya.

Ada pergumulan bagi Paulus, yaitu ia sering dituntut untuk menyesuaikan pemberitaannya, agar menyenangkan mereka yang menerimanya. Tetapi dia tidak mau melakukannya, karena baginya, memberitakan firman harus secara murni dan konsekwen.

Artinya, bahwa firman itulah yang murni diberitakan, bukan keinginan pikiran manusia.

Dengan demikian, nyatalah kesungguhan jemaat yang memang benar-benar rindu akan kebenaran firman Tuhan yang akan membarui hati, pikiran dan jiwa mereka.

Mengapa?

Karena memang jemaat di Tesalonika memiliki rasa lapar akan firman Allah. Rasa lapar ini menolong mereka untuk bertumbuh. Artinya, firman Allah bekerja dalam diri mereka.

Saat mereka mendengar firman Allah itu diberitakan, mereka sungguh-sungguh menyambutnya dan demikian juga mereka segera menerapkannya dalam kehidupannya.

Itulah sebabnya Paulus mengatakan rasa sukacitanya, karena jemaat menyambut apa yang mereka beritakan, bukan seperti perkataan manusia, tetapi sebagai firman Allah.

Bagaimana dengan kita, jemaat Kristen yang hidup pada zaman ini?
Apakah kita dalam mendengar firman Allah menunjukkan rasa lapar yang sungguh, sehingga firman itu bekerja dalam diri kita?

Marilah kita menyambutnya dengan sungguh-sungguh, agar kita merasakan dan mengalami bahwa firman Allah itu adalah benar-benar kabar baik dari Allah bagi kita umat manusia.

Selamat beraktivitas di hari ini. Tuhan Yesus memberkati. AMIN.

Pdt Martunas P. Manullang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here