FITNAH BERTENTANGAN DENGAN KARAKTER UMAT BERAGAMA

0
85

Oleh: Weinata Sairin

_”Audacter calumniare, semper aliquid haeret. Memfitnah secara gegabah selalu (akan) menggoreskan sesuatu (yang buruk)”._

Interaksi antar umat manusia dalam kondisi-kondisi tertentu diwarnai oleh fitnah. Kamus Umum Bahasa Indonesia yang disusun Badudu-Zein (1996) mengartikan _fitnah_ itu sebagai “perkataan atau pembicaraan yang sengaja disebarkan untuk menjelek-jelekkan orang agar orang mempunyai kesan buruk terhadap orang yang difitnah itu”. Fitnah secara sengaja dilakukan oleh pribadi dan atau kelompok ketika ada konflik sehingga koflik itu makin berlarut-larut dan berlangsung dalam waktu yang lama. Konten fitnah sudah bisa diduga yaitu hal-hal yang amat sensitif dan “laku dijual” dan “garing jika digoreng”. Misalnya kasus hubungan pria-wanita, kasus korupsi, kasus suap atau ijazah dan gelar palsu, dan isu pindah agama.

Apapun alasannya, bagaimanapun buruknya relasi kita dengan seseorang, kondisi apapun yang kita hadapi dalam hidup ini, tindakan memfitnah adalah tindakan tak elok dan tidak terpuji bahkan sebuah tindakan yang bertentangan dengan nilai luhur ajaran agama.

Agama-agama mengajarkan kepada kita umatnya agar kita saling mengasihi, saling menghormati, saling tolong menolong diantara sesama manusia tanpa menghiraukan keberbedaan yang ada. Harus terus menerus ditumbuh-kembangkan semangat persahabatan diantara sesama yang pada gilirannya dapat menghadirkan suasana damai dan sejahtera dalam kehidupan masyarakat luas.

Sayangnya ajaran agama yang melarang umat untuk tidak melakukan fitnah kurang diperhatikan dan bahkan tidak dilaksanakan sepenuhnya dalam kehidupan praktis oleh umat beragama itu sendiri. Dalam berbagai organisasi keagamaan termasuk dalam parpol berbasis agama, bahkan dalam organisasi keagamaan acap kita baca kisah tentang berbagai gelombang fitnah yang digoreng disitu pada saat-saat terjadi pemilihan pengurus baru.

Ajaran agama semestinya telah menjadi bagian padu dari kedirian umat beragama; tak boleh ada sikap ambivalen dan paradoks dalam kehidupan beragama. Keberagamaan kita semestinya keberagamaan yang utuh penuh, yang _kafah_ dan bukan yang parsial, yang kita praktekkan sewaktu-waktu jika dibutuhkan.

Baca juga  Tuhan Raja Yang Kekal

Kedepan, dalam sebuah dunia yang keras hubungan antar manusia harus dibangun dalam basis persahabatan, dan tidak dalam konteks membesarkan _fitnah_.

Kisah Abraham Lincoln di zaman baheula cukup menarik untuk disimak dalam konteks pentingnya persahabatan. Pada zaman dulu Lincoln sering menerima permohonan maaf yang jumlahnya ribuan dari para prajurit yang terlibat dalam pelanggaran disiplin militer. Tiap-tiap permohonan maaf itu biasanya didukung oleh rekomendasi dari orang-orang yang berpengaruh. Pada suatu hari diterima olehnya permohonan maaf dari seorang prajurit yang tidak mempunyai teman untuk memberi rekomndasi kepadanya.

Lalu Lincoln bertanya “Apakah orang ini.tidak mempunyai seorang sahabatpun?” “Tidak pak, tidak ada seorangpun !” kata ajudannya. “Jika begitu, akulah yang akan jadi sahabatnya!” kata Lincoln.

Sikap Lincoln dengan kesediaannya menjadi _sahabat_ agar prajuritnya itu mendapatkan rekomendasi sangat terpuji. Realitas seperti itu yang ditunjukkan oleh seorang presiden menjadi teladan yang sangat positif bagaimana relasi antar manusia dibangun tanpa mempersoalkan pangkat, jabatan dan status.

Jika dimensi persahabatan lebih dikedepankan dalam relasi antar manusia disemua level, termasuk pada aras global maka sejarah manusia akan tampil dalam wajah yang sama sekali lain.

Manusia telah terpenjara dalam sebuah kehidupan yang didalamnya kompetisi yang tidak sehat terjadi; ada konflik, amuk, pertikaian, teror, mungkin juga ada genocide; fitnah, pembunuhan berencana dan sebagainya. Menurut pepatah yang dikutip diawal, fitnah menggoreskan sesuatu yang buruk dalam sejarah. Fitnah laku keras mungkin di zaman barbar, tetapi fitnah bukan gaya dan prilaku manusia modern yang menghormati fakta dan realitas. Mari bersemikan tunas persahabatan dalam ruang-ruang sejarah; fitnah, irihati; dendam dan kebencian adalah kelampauan yang harus sudah terkubur bersama zaman yang berlalu. Umat beragama yang taat beribadah pasti menjauhi fitnah, hoax,provokasi.

Baca juga  NAMA TUHAN : NAMA YANG MENYELAMATKAN

Selamat berjuang. God bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here