PDT. WEINATA SAIRIN: MEMBANGUN PERSAHABATAN SEJATI DAN ABADI

0
167

 

Oleh : Weinata Sairin

_”Solus omnino est qui sine amico est. Orang yang tanpa sahabat itu terasing dari segalanya”_

Setiap orang pasti mempunyai teman, kawan atau sahabat. Bahkan seseorang selalu memiliki kawan dekat, yaitu seorang kawan yang bisa dipercaya sehingga ia bisa curhat masalah-masalah pribadi yang dihadapinya kepada kawannya itu bahkan mendiskusikannya dan kemudian mencari solusi secara bersama.

Pada waktu kita masih mengikuti pendidikan di sekolah, mulai dari Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Atas maka kita biasanya membuat kelompok belajar bersama dengan teman-teman kita itu sehingga bisa membntu dalam proses pembelajaraan selain juga amat berharga dalam menjaga hubungan talisilaturahim.

Hal yang menarik adalah bahwa persahabatan yang kita bina sejak SD-SMA itu akan terus kita bina tanpa batas waktu, apalagi dalam waktu-waktu tertentu selalu ada program reuni dari sekolah-sekolah itu, dan melalui program reuni itu persahabatan kita dengan kawan-kawan makin ditingkatkan.

Kecenderungan manusia untuk membangun persahabatan itu selalu menguat oleh karena manusia itu pada dasarnya adalah “homo socius”. Ia adalah makhluk sosial, manusia yang hidupnya selalu berada dalam relasi. Manusia tidak betah hidup seorang diri dan menyendiri. Ia akan membuka hubungan, ia membangun jejaring, ia merintis networking, ia berkolaborasi, ia membangun aliansi strategis. Pada zaman baheula persahabatan itu dibangun tanpa sama sekali mempertimbangkan aspek sara, suku, agama, ras dan antar golongan. Akronim Sara diciptakan oleh Laksamana Soedomo di zaman Orde Baru yang kemudian tampil sebagai sebuah akronim yang cukup menakutkan karena bisa berujung pada pidana. Sara di zaman Orde Baru dijadikan semacam parameter untuk menilai sebuah kegiatan atau organisasi, apakah kegiatan atau organisasi itu bermuatan sara atau tidak. Kegiatan itu bisa tidak diberi izin, organisasi bisa dianggap negatif jika dari hasil kajian dianggap bermuatan sara.

Baca juga  PUNYA IMAN DAN KERENDAHAN HATI

Jika kita berfikir secara jernih dan berbasis logika, sebenarnya Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan itu memang identitas dan kekayaan dari NKRI. Indonesia, NKRI itu sebenarnya dipenuhi Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan. Bahkan itu salah satu kekayaan Indonesia. Jadi SARA, akronim ciptaan Laksamana Sudomo itu tidak boleh diberi konotasi negatif. Perlu ada pembaruan pemikiran dari kita sebagai bangsa untuk memahami SARA secara positif.

Menurut para ahli kata “sahabat” lebih bernuansa positif dibanding istilah “kawan” atau “teman”. Itulah sebabnya dalam membina hubungan antar negara selalu digunakan istilah “Lembaga Persahabatan….” dan tidak digunakan istilah “kawan” atau “teman”. Istilah “pertemanan” atau “perkawanan” acap dimaknai dalam konotasi negatif, yaitu semacam ‘persekongkolan’ sehingga jarang digunaknan.

Pepatah yang dikutip diawal bagian ini menyatakan “orang yang tanpa sahabat itu terasing dari segalanya”. Kesendirian, ketertutupan, ketiadaan relasi memang membuat orang terasing dari segalanya. Kita harus meninggalkan sikap eklusif, sikap ghettoistis hidup dalam kamar-kamar pengap yang kita miliki dan membuat moratorium dengan pihak lain. Kita harus terbuka. Kita mesti membuat akses dengan banyak orang dan banyak lembaga. Dalam berelasi dan berkomunikasi kita jangan hanya dengan yang se agama, se aliran, se ideologi, se almamater, se fraksi, se mazhab, sealiran, sedenominasi, sekampung, semarga. Persahabatan yang kita bina harus melewati dan menerobos keberbedaan itu. Keberbedaan harus kita hargai dan kita syukuri. Kira harus memberi ruang bagi perbedaan itu. Kita harus bisa hidup didalam perbedaan. Mari kita bangun persahabatan abadi dengan semua orang di semua level, dengan menghargai keberbedaan yang ada.

Selamat Berjuang. God Bless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here