PDT. WEINATA SAIRIN: MINGGU ADVEN DENGAN : SEBUAH MOMENTUM*

0
1021

*REFLEKSI ALKITAB*
_MINGGU 2 DESEMBER 2018_

Oleh : Weinata Sairin

_”Aku tidak akan melaksanakan murkaKu yang bernyala-nyala itu, tidak akan membinasakan Efraim kembali. Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia, Yang Kudus ditengah-tengahmu dan Aku tidak datang untuk menghanguskan”_ (Hosea 11:9)

Tatkala angin sejuk bulan Desember hadir menerpa, mengaliri ruang waktu, di tingkah gerimis mengusap bumi, maka Gereja-gereja dan umat Kristen mulai memasuki minggu-minggu Advent. Minggu Advent (Latin : adventus = kedatangan) adalah rangkaian waktu selama 4 minggu sebelum tiba hari raya Natal, yang secara khusus dipersiapkan oleh Gereja-gereja, agar umat memasuki hari raya Natal dengan lebih terfokus dan penuh penghayatan. Liturgi, pembacaan Alkitab, tata ruang gedung Gereja ditata sedemikian rupa agar umat dikondisikan memahami Advent sebagai pintu untuk memasuki hari raya Natal.

Suasana Advent tahun 2018 ini makin terasa kekhasannya oleh karena bersamaan dengan hangatnya suhu politik di tanah air berkenaan dengan pileg dan pilpres 2019. Persoalan acap muncul dalam kehidupan masyarakat majemuk oleh karena agama direduksi menjadi istrumen politik praktis dan tidak difungsikan sebagai penuntun pads aspek etik.

Sesuai dengan Tahun Gereja, maka Minggu Advent pertama jatuh tanggal 3 Desember 2018 yang diakhiri dengan Minggu Advent IV tanggal 23 Desember 2018. Suasana adventus memang dibangun selama 4 minggu ini melalui liturgi, nyanyian gereja, pembacaan Alkitab dan ornamen Gereja sehingga pemaknaan advent, terasa bagi umat. Dari segi praktis dan pengalaman empirik ternyata ada beberapa lembaga Kristen (Protestan) yang sudah melaksanakan perayaan Natal bahkan sejak tanggal 1 Desember. Kondisi ini menghadirkan pemikiran yang distortif-kontradiktif dikalangan umat yang pada waktu-waktu mendatang tidak memiliki makna kontributif dalam mengembangkan sikap teologis umat yang sepatutnya.

Saudara-saudara umat Katolik telah sejak lama dengan konsisten merayakan Natal dimulai tanggal 25 Desember dan berlangsung sampai dengan minggu pertama bulan Januari. Ada baiknya PGI bersama lembaga-lembaga Gerejawi tingkat nasional berembug bersama untuk membicarakan hal ini, agar pada waktu mendatang umat dengan lebih fokus dan khusuk memasuki dan menghayati minggu-minggu Advent sebagai bagian dari pemantapan pertumbuhan spiritualitas mereka.

Sikap konsisten terhadap rangkaian Tahun Gereja seperti yang dilakukan oleh Saudara-saudara kita umat Katolik menjadi sesuatu yang penting baik dari segi teologis maupun dari segi praksis. Kita harus berupaya bersama untuk meniadakan dan atau memperkecil adanya semacam gap antara ‘yang teologis’ dengan ‘yang praksis’.

Sebenarnya terminologi _kedatangan_ pada kata advent tidak melulu mengacu pada pengertian kedatangan Yesus pada hari Natal tetapi juga menunjuk pada kedatangan Yesus yang kedua kali, yaitu *parousia*, yang diyakini iman Kristen sebagai akhir sejarah. Itulah sebabnya hal fundamental yang tak bisa diabaikan pada pemberitaan firman di minggu-minggu advent, adalah aspek ganda, _dualitas_, yaitu kedatangan dalam konteks Natal sekaligus kedatangan dalam konteks _parousia_.

Memang terdapat perbedaan signifikan kedatangan Yesus pada peristiwa Natal, dengan kedatangan Yesus dalam parousia, saat Ia datang kedua kali. Pada kedatangan pertama, Ia datang dalam kesederhanaan dan kehinaan : lahir di kandang domba, di desa kecil, tidak ada tanda kemewahan. Pada kedatangan kedua, saat parousia Ia datang dalam _kuasa_ dan tentang Yesus yang akan datang dalam *awan* dengan segala kuasa dan kemuliaanNya. Kedatangan dalam _awan_ menunjuk pada kemuliaan (Mat 24:30, Mrk. 13:26; Why 1:7). Pengertian awan yang menunjuk pada *kemuliaan* berakar dari Perjanjian Lama. Dalam Keluaran 19 diceritakan bahwa Allah turun dalam awan diatas gunung dan Musa bertemu Allah di gunung itu. Yehezkiel dan Mazmur juga bicara tentang kemuliaan Allah yang datang melalui awan. Kedatangan Yesus ketengah dunia tak bisa dipisahkan dari rencana keselamatan bagi umat manusia. Menarik sekali bacaan Kitab Hosea yang dikutip diawal tulisan ini menegaskan bahwa hakikat Allah itu adalah Allah yang mengasihi. Allah yang mengoreksi; mengubah sikapnya sehingga murkaNya yang bernyala-nyala itu tidak jadi dieksekusi. Alasannya ? “Sebab Aku ini Allah dan bukan manusia…” (ayat 9)

Masa-masa Advent adalah masa-masa penantian kedatangan Yesus Juruselamat, Allah yang mengasihi manusia seutuhnya tanpa mempertimbangkan siapa manusia itu : suku apa, fraksi apa, agama apa, eselon berapa, aliran dan denominasi mana, dan sebagainya.

Umat Kristiani selalu disegarkan dan dibangun spiritualitasnya melalui rangkaian Tahun Gereja. Minggu-minggu Advent ini harus menjadi momentum baru bagi umat untuk menampilkan kekristenan yang cantik, elegan, yang memuji dan berserah kepada Allah dan yang menjadikan Allah sebagai Penguasa Hidup kita.

Firman Allah dalam Kitab Hosea menyegarkan ulang spiritualitas kita bahwa Allah yang kita percaya adalah Allah yang mengasihi, Allah yang datang ke tengah sejarah, Allah yang menjadi manusia dalam Yesus Kristus.

Selamat memasuki Minggu Advent pertama. Godbless.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here