PDT.WEINATA SAIRIN: *HIDUP KITA, HIDUP YANG BERJALAN BERSAMA TUHAN*

0
387

*REFLEKSI ALKITAB*

_”Berhala itu sama seperti orang-orangan di kebun mentimun, tidak dapat berbicara; Tetapi Tuhan adalah Allah yang benar, Dialah Allah yang hidup dan Raja yang kekal. Bumi goncang karena murkaNya, dan bangsa-bangsa tidak tahan akan geramNya;_ (Yer. 10:5a; 10:10)

Pertarungan yang cukup lama yang terjadi hampir di semua episode Perjanjian lama adalah pertarungan antara kuasa ilahi dengan kuasa non ilahi. Pertarungan antara eksistensi Allah dan eksistensi dewa/berhala, apakah kekuatan keduanya itu.seimbang, atau berat sebelah.

Israel sebagai umat pilihan Allah tidak mampu memerankan dan menampilkan dirinya secara utuh penuh sebagai umat pilihan. Israel tidak mampu menarik bangsa-bangsa lain untuk datang dan percaya kepada Allah. Israel gagal mengajak bangsa-bangsa lain itu meninggalkan ilah mereka, dewa/berhala mereka. Malahan Israel sendiri yang acap tergoda, main mata, back street, selingkuh dan ikut memuja ilah-ilah lain yang dipercaya bangsa-bangsa pada zaman itu. Israel membutuhkan Allah yang kasat mata, Allah yang _phisical_ yang secara fisik bisa dilihat, bukan Allah yang absurd, Allah yang ada dalam “dunia ide”.

Yeremia adalah seorang nabi yang dipanggil dalam usia yang relatif muda; kemudaan itu juga yang kemudian ia jadikan alasan untuk menolak panggilan Tuhan. Dalam Yeremia fasal 1 negoisasi tentang panggilan itu diuraikan agak jelas. Pada akhirnya Yeremia menerima panggilan itu dan Tuhan berjanji untuk terus melengkapinya. Yeremia adalah anak Hilkia keturunan imam dari Anatot, lokasinya 7 km disebelah utara Yerusalem. Ia bekerja mulai tahun 626 pada masa pemerintahan Yosia.

Yeremia menghadapi persoalan yang sulit di zamannya. Pengalaman pahit, derita, ancaman pembunuhan ia alami pada zaman itu. Ia bahkan dijebloskan kedalam penjara karena tugas kenabian yang ia lakukan dengan setia dan konsisten.

Baca juga  Mari Bersaat Teduh Setiap Malam Bersama Revivo

Yeremia sebagai manusia terkadang mengungkapkan keluhan dan atau complain kepada Tuhan. Ia bertanya mengapa ia harus menghadapi sengsara. Sebagai kulminasi dari semua pergumulannya dalam menjalankan tugas ia sampai mengutuki hari kelahirannya sendiri (20:14-18). Namun Yeremia tetap seorang nabi yang berintegritas, ia setia kepada panggilannya. Ia sadar betul bahwa ia dipanggil untuk merubuhkan dan membangun (1:10)

Bagian Alkitab yang dikutip diawal tulisan ini cukup menarik oleh karena dalam konteks sikap Israel yang acap mendua kepada Tuhan, ayat ini mempersandingkan secara amat signifikan beda *berhala* dengan *Tuhan*. Tuhan tidak pernah bisa dicari kesamaan dan kesetaraannya dengan apapun. Tuhan itu sesuatu yang definitif dan eksklusif. Yang Ilahi, Yang Transenden tak pernah berada dalam frame of reference manusia. Yang Sakral dan Yang Diatas, The Ultimate Concern itu tidak bisa masuk dalam frame ruang dan waktu yang dicipta manusia. Ia berada diluar waktu. Kitab Yeremia menggambarkan kenaifan cara berfikir orang-orang di zaman itu dengan menyamakan berhala itu dengan “orang-orangan di kebun mentimun” yang tak punya potensi dan nir kompetensi (10:3-5). Berhala itu bodoh dan dungu. Kata “dungu” yang digunakan berbarengan dengan kata “bodoh” sebenarnya hanya sebuah tautologi dan repetitio saja karena kedua kata itu memiliki makna yang sama. Artinya bahwa berhala itu sangat sangat sangat goblok(maaf!) bagaimana bangsa-bangsa (dan Israel) bisa percaya kepada berhala!

Ungkapan Yeremia diabad ke-6, 7 yang cukup keras dan lugas itu tetap memiliki makna bagi kita di era digital, di era Post Truth seperti sekarang ini. Kita diingatkan ulang agar hati dan seluruh kedirian kita diarahkan kepada Tuhan, Allah yang kita panggil Bapa dalam Yesus Kristus. Kita harus menyerahkan diri kepada Allah, bukan kepada allah (10:11) atau kepada kuasa apapun. Jangan terkecoh atau terperdaya oleh berhala, yang seolah bisa mengatur hidup kita. Berhala-berhala modern juga ada disekitar kita. Setiap benda yang berpotensi mereduksi kualitas relasi kita dengan Allah, maka benda itu adalah berhala. Kita tidak boleh tunduk kepada berhala, termasuk berhala modern!

Baca juga  Mari Bersaat Teduh Setiap Malam Bersama Revivo

Selamat Merayakan Hari Minggu. God bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here