PDT. WEINATA SAIRIN: *SAMBUT KEMATIAN DENGAN MEMOHON PENGAMPUNAN TUHAN.*

0
226

 

_”Debemur morti, nos nostraque. Kita harus mati, itulah kita, dan itulah milik kita.”_

Umat manusia dari segala abad, dari segala bahasa, percaya atau tidak percaya kepada Tuhan, beragama atau tidak beragama; adalah orang-orang yang tengah berjalan dari ‘jalan kehidupan’ menuju ‘jalan kematian’.

Mereka, umat manusia, diutus oleh Tuhan untuk berkarya ditengah dunia dalam kisaran waktu hingga usia 70-80 tahun. Memang mereka acap lupa dengan tugas akbar yang Tuhan perintahkan, mereka menjadi manusia sekuler-profan sepenuhnya, menyimpang dari ajaran agama, melakukan perbuatan melawan hukum yang menyebabkan mereka terkena OTT dan membawa mereka kedalam penjara.

Mereka yang bekerja keras, merajut karya terbaik dalam hidup, atau mereka yang menjalankan ‘filsafat mumpungisme’ yaitu mumpung masih hidup dan punya jabatan top memperkaya diri sebanyak-banyaknya, acapkali melupakan kematian. Mereka seolah lupa bahwa kematian itu ada, bahwa kematian itu adalah ujung dari kehidupan.

Milan Dedinac, penyair Yugoslavia yang lahir 1902, dalam puisinya melantunkan sepinya mereka yang mati.

“Alangkah Sepi Mereka Yang Mati”
“Alangkah sepi mereka yang mati, Kawan !
Disini dimana orang mati sendiri

Betapa suram mereka menyeret diri
Pelahan,
Masuk hari penuh bencana

Maut disini kejam, Kawan !
Dimana padang terlalu lapang
Dimana langit tinggi
tinggi diluhur

Disini dimana kita sekelumit
Begitu sengsara ditinggal
Diatas padang hitam
Dibawah langit
Dimana yang satu menerjuni medan
Yang lain diam diambang pintu
Dimana masuk rumput dan padang
Jalanan lesu menuntun kita”.

(Sumber : “Puisi Dunia I, M. Taslim Ali, Dinas Penerbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1961).

Mati adalah sepi yang membelit dan membelenggu. Mati adalah mati. Tiada gerak. Tiada suara. Mungkin ada desah angin dan harum mawar.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

Cukup menarik pepatah yang dikutip diawal bagian ini “kita harus mati, itulah kita, dan itulah milik kita”. Mati sebagai keharusan, sebagai identitas dan milik dari kita sebagai manusia adalah hal yang menarik. Mungkin banyak orang tidak menyadari hal itu. Penyair Yugo yang dikutip diatas memahami kematian itu sepi. Sepi. Nir gerak. Tanpa suara. Mungkin hanya desah angin mengguncang pohon bambu. Sebab itu kematian tidak populer bahkan dijauhi, dipending dan diembargo. Kita akan dan harus mati sesuai dengan rancangan Allah. Namun sebelum kematian datang, lakukan kebajikan, amal saleh, melakukan yang terbaik sesuai dengan perintah agama bagi sesama bagi bangsa dan negara. Sambut kematian dengan sukacita, dengan peningkatan spiritualitas tinggi, dengan makin berserah kepada Tuhan dan percaya kepada KasihNya yang mengampuni dan menyelamatkan.

Selamat Berjuang. God Bless.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here