PDT. WEINATA SAIRIN:  MEWUJUDKAN HIDUP YANG DIPENUHI KESALINGANwrt

0
244

_”Servire, carum habere, veniam. Saling melayani, saling menyayangi, saling mengampuni.”_

Kata “saling” sudah sangat lama dikenal oleh masyarakat kita; kata ini terutama sekali digunakan dalam bahasa tulis dan agak berkurang penggunaannya dalam bahasa lisan. “Saling” adalah perbuatan yang dilakukan secara berbalas-balasan oleh lebih dari satu orang. Dalam berapa kasus, kata _saling_ digunakan secara bergantian dengan kata _baku_; karena memiliki makna yang sama. Dalam sebuah komunitas, baik di lingkup keluarga maupun organisasi kata “saling” amat penting untuk diwujudkan dalam kehidupan praksis. Dengan “saling” maka kehidupan sebuah komunitas akan relatif lebih baik karena seluruh anggota komunitas secara bersama akan saling menopang, saling mendukung sehingga tujuan komunitas bisa lebih cepat dicapai dengan tingkat kualitas yang tinggi.

Sejatinya sebuah rumah tangga yang ideal, yang mampu survive ditengah berbagai turbulensi yang mengguncang kehidupan adalah rumahtangga yang mempraktikkan secara konsisten _kesalingan_, dan _ _kekitaan_. Kesalingan, kekitaan, kekamian, akan menjadi pilar utama yang memberi kekuatan bagi komunitas.

Sebuah komunitas pada level apapun minimal membutuhkan dua elemen mendasar dalam upaya mmperkuat komunitas, yaitu kerjasama dan kearifan. Dalam ‘kerjasama’ aspek kesalingan dan kekitaan mendapat ruang. Demikian juga dalam ‘kearifan’ nilai-nilai kesalingan, kekitaan, kekamian, akan makin memperkuat sebuah komunitas.

Seorang bernama Marcus Aurelius mengemukakan pemikiran tentang kerjasama dengan sangat konkret. Ia berkata sebagai berikut: “Kita harus saling bekerjasama seperti kaki dan tangan. Pertentangan satu sama lainnya berarti melawan kodrat”.

Dalam membangun sebuah komunitas dibutuhkan juga kearifan, sikap _wise_ dalam berkata, termasuk dalam memilih kata, dalam bertindak, dalam menyampaikan pemikiran. Seorang Herbet Hoover memberi pendapat tentang apa itu kearifan. Menurutnya kearifan tidak terdiri dari seberapa banyak kita mengetahui apa yang terakhir yang akan kita lakukan, melainkan mengetahui apa yang akan kita lakukan selanjutnya.

Baca juga  PENANTIAN MEMBUAHKAN PENGHARAPAN

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini berbunyi “saling melayani, saling menyayangi, saling mengampuni”. Ketiga keywords ini yaitu melayani, menyayangi, mengampuni ditambah dengan kata “saling”, memiliki makna yang amat fundamental bagi penguatan komunitas.

Kehidupan Keluarga, Masyarakat dan Bangsa akan jauh lebih baik kondisinya jika ketiga aspek, tiga keywords itu dijadikan dasar utama. Tiga kata kunci itu adalah kebutuhan dasar dan standar bagi setiap manusia di era manapun.

Seorang pelayan adalah seorang yang memberi dirinya untuk membantu orang.lain; ia adalah orang yang selalu mencari dan memfasilitasi orang lain. Menyayangi artinya mengasihi tanpa memperhitungkan keberbedaan orang lain ; mengampuni adalah sikap yang amat terpuji; kita harus mengampuni siapapun karena Tuhan sudah lebih dulu mengampuni kita.

Mari kita teruskan perjalanan kita membangun peradaban, mencipta.sejarah baru, merawat NKRI sambil mempraktikkan ketiga keywords tadi.

Selamat berjuang. God blessed.

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here