PDT. WEINATA SAIRIN: *KITA DAN NEGARA HARUS CEPAT MENANGKAL YANG NAKAL.*

0
189

_”Obsta principiis. Tangkallah sejak dari permulaannya.”_

Kata “tangkal” digunakan oleh pengguna bahasa Indonesia dan juga oleh para pemakai bahasa Sunda dalam arti yang, tentu saja berbeda. Anak-anak di Cileunyi Bandung atau di Malangbong Garut dan diberbagai wilayah lainnya yang banyak penutur bahasa Sunda acap berucap ” Hayu urang ka kebon, diditu aya tangkal buah.” Dalam bahasa Sunda kata “tangkal” berarti “pohon” dan kata “buah” berarti “buah mangga”. Dalam bahasa Indonesia kata “tangkal” diberi arti “menolak”, “mencegah”. Ada banyak kata yang bisa dihubungkan  dengan kata “menangkal”. Misalnya : menangkal penyakit, menangkal bala, menangkal _roh halus_, menangkal bencana. Kita tahu bahwa gedung-gedung tinggi harus dilengkapi dengan alat yang disebut “penangkal petir”. Alat ini berguna untuk menghindarkan sebuah gedung dari sambaran petir. Alat ini biasanya memiliki tiga benda utama, yaitu batang penangkal petir, kawat konduktor dan tempat pembumian. Alat penangkal petir cukup mahal harganya, wujud alat ini berupa rangkaian jalur yang difungsikan sebagai _jalan_ bagi petir menuju ke permukaan bumi tanpa merusak benda-benda yang dilewatinya.

Cukup banyak benda yang bisa ditangkal, ditolak. Di zaman baheula para petani sangat pandai dalam menangkal tanaman padinya dari gangguan hama, misal hama wereng. Cara penangkalan itu bisa dengan memilih jenis padi yang tahan wereng, bisa dengan bahan-bahan kimia yang dikhususkan untuk itu atau bisa juga dengan cara-cara lain yang merupakan warisan nenek moyang di zaman baheula. Tidak saja tanaman padi yang bisa diserang hama sehingga mengakibatkan panen mengalami _puso_, gagal panen, tetapi petani buah-buahan juga acap mengalami hal yang sama sehingga berbagai bentuk penangkal dari yang konservatif hingga modern harus disiapkan dengan baik dan tepat.

Dari beberapa pengalaman terakhir obyek penangkalan malah bertambah meluas. Bapak Kapolri dalam sebuah video conference di Jakarta 5 Juni 2018 sebagaimana dilaporkan oleh media menyatakan bahwa ideologi teroris harus ditangkal dengan langkah khusus sebab ideologi itu sama seperti virus yang dapat merasuk siapa saja. Menurut Kapolri akar masalah ini harus dilakukan dengan langkah khusus, tak bisa dihadapi dengan senjata. “Ideologi harus ditutupi dengan ideologi lain”. Pernyataan Bapak Kapolri sebagai seorang akademisi yang mengkaji tentang terorisme lewat studi strata 3 ini memang sangat penting dijadikan dasar dan referensi bagi kita sebagai bangsa khususnya bagi lembaga yang menangani terorisme di Indonesia.

Penyakit, hama, pemikiran (sesat dan menyimpang dari agama dan Pancasila), ideologi bahkan seseorang secara pribadi berdasar pengalaman empirik bisa _ditangkal_ agar jangan pengaruhnya itu merasuki dan meracuni kehidupan masyarakat. Pemikiran filsafat, ideologi, berbagai macam aliran yang tidak sesuai dengan pemikiran the founding fathers bangsa tak usah dibawa ke ruang publik, yang bisa menimbulkan polemik dan kegaduhan. Cukup hal itu di diskusikan secara akademik di ruang-ruang perkuliahan atau dalam sebuah studium generale, kuliah umum sehingga warga bangsa, para akademisi tidak tertinggal dalam memahami perkembangan iptek di dunia global.

Dalam vokabulari dunia imigrasi dikenal istilah “Cekal”, singkatan dari cegah tangkal yaitu larangan bagi seseorang untuk melakukan perjalanan keluar negeri sebab ia sedang berada dalam proses hukum. Ketentuan perundangan mengatur tentang Cekal itu agar proses hukum yang tengah dijalani seseorang berjalan lancar sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.

Pepatah yang dikutip dibagian awal tulisan ini menegaskan “tangkallah sejak dari permulaan”. Waktu kita kecil orangtua bergerak cepat jika suhu badan kita agak panas, ada yang memberi sejenis paracetamol, obat sirup Tempra atau dengan obat tradisional : bawang, minyak kayu putih; dan atau langsung membawa ke dokter anak jika kita tinggal di kota. Itu menangkal sejak awal dengan cepat. Para petanipun bergerak cepat jika tanamannya diserbu hama. Ada yang menaikkan doa, mencari obat penangkal dan sebagainya. Anak-anak yang gemar merokok sebenarnya bisa ditangkal sejak awal, di ingatkan, dinasihati, diganti rokoknya dengan permen, _dipastoral_, dipantau; jika sehari ia bisa menghabiskan 5 bungkus rokok tanpa peduli separuh paru nya sudah flek, ya sudah sulit untuk dinasihati lagi. Kegemaran akan gadget bagi anak-anak juga sejak awal bisa ditangkal dengan banyak cara.Walau di medsos dishare pandangan para ahli tentang bahaya gadget bagi anak, bahkan dengan gambar yang seram namun sang anak malah makin cinta gadget. Ia bisa main game, buka aplikasi tiktoklah, lihat you tube dan bermacam-macam lagi. Dan itukah kualitas generasi milenial?

Soal filsafat, ideologi, aliran yang menyimpang dari mainstream sangat berbahaya jika tidak ditangkal sejak awal. Perangkat perundangan kita harus _firm_ menghadapi itu semua dan penegakan hukum harus dijalankan. Kita tak bisa abai dan menutup mata terhadap orang-orang yang di latih di LN dan mungkin juga otaknya sudah _dirinsokan_ dan lalu pulang melatih anak-anak muda kita dihutan-hutan negeri kita. Sebagai bangsa, kita mesti menangkal ini semua dan pemerintah berada di garda terdepan. Soal dasar negara ini per 18 Agustus 1945 sudah final. Tak bisa lagi ada pemberontakan atau parlemen jalanan atau gerakan apapun yang ingin mengganti dasar negara. Jika memang ada yang lebih baik dari Pancasila ya dibicarakan dengan tenang dan _agamis_ lalu lakukan secara konstitusional. Semua pemikiran, gerakan yang bernuansa mengganti dasar negara, dan atau mengganti yang belum waktunya diganti harus diredam, didekati secara hukum dan jangan biarkan menjadi besar dengan membonceng istilah “demokrasi”.

Kita sebagai bangsa yang majemuk harus makin bersatu-menyatu untuk menyaksikan dan mengabarkan kepada Dunia bahwa dibawah Pancasila kita mampu bertahan didera persoalan internal, digoyah turbulensi tak pernah sepi. Kita harus makin bersyukur kepada Tuhan atas anugerah sebuah NKRI yang majemuk, yang kaya alamnya, berkeadaban, dan warga bangsanya saling hormat menghormati.

Selamat Berjuang. God Bless.

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here