Pdt. Weinata Sairin: Menyatakan Kemuliaan Allah di Ruang-ruang Sejarah

0
364

 

 

_”Caeli enarrant gloriam dei. Langit menyatakan kemuliaan Allah.”_

 

Semua warga bangsa Indonesia adalah warga yang percaya, beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Mereka para warga bangsa, seluruhnya menganut agama-agama, juga menganut Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Menurut Pemerintah RI sehubungan dengan kondisi kekinian dan realitas yang ada, maka Pemerintah baru bisa _melayani_ enam agama yang ada, dan Kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang dalam catatan ada sekitar 300an. Urutan dan nomenklatur 6 agama dalam perspektif Pemerintah adalah : Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha dan Khonghucu. Penegasan bahwa setiap warga negara RI adalah warga yang menganut agama/kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa terutama sekali dilatarbelakangi oleh sejarah hitam pemberontakan G.30 S/PKI tanggal 30 September 1965, tragedi pembunuhan terhadap putra terbaik bangsa, yang diikuti dengan pembunuhan warga bangsa, yang kesemuanya di fahami sebagai tindakan biadab dari orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, orang-orang yang tidak menganut bahkan melawan agama.

 

Berdasarkan latarbelakang historis itu, yang hingga kini masih tetap menjadi bagian dari memori kolektif warga bangsa maka telah ‘jelas’ dan dianggap ‘selesai’ posisi dari mereka yang ateis, yang secara sadar menolak adanya kuasa Transenden dalam kehidupan umat manusia. Seluruh warga bangsa (harus) beragama, harus percaya dan beriman kepada Tuhan Yang Maha Esa. Diskusi diseputar narasi itu, termasuk mengaitkannya dengan HAM tidak lagi mendapat ruang.

 

Hal yang harus diwujudkan dalam kehidupan kolektif warga bangsa dengan kemajemukan agama-agama adalah bagaimana secara internal keagamaan mereka solid, memiliki kedalaman spiritualitas, memahami kemajemukan yang ada dalam konteks internal agama masing-masing. Pada tahun 1970an Menteri Agama H.Alamsjah Ratu Perwira Negara merumuskannya dengan istilah “kerukunan intern” umat beragama.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Sebagaimana kita ingat Menag Alamsjah Ratu Perwira Negara (1978-1984) menggagas konsep Tri Kerukunan tahun 70an yaitu Kerukunan intern umat beragama, Kerukunan antar umat beragama, Kerukunan antara umat beragama dengan Pemerintah. Dalam jiwa Tri Kerukunan itulah Menag Alamsjah membuat berbagai SE yang mencoba mengatur dan menjabarkan konsep pemikiran tersebut dalam bentuk regulasi. Memang tidak mudah dan sederhana misalnya dalam konteks aturan penyiaran agama, bantuan untuk lembaga keagamaan. Semua agama pada prinsipnya adalah _agama dakwah_ atau _agama misioner_ yang sudah dinyatakan dalam Kitab Suci. Pengaturan hal itu dalam sebuah legislasi pemerintah memang bukan sesuatu yang mudah. Demikian juga tentang bantuan LN untuk lembaga keagamaan ada hal yang mesti dilihat dengan cerdas karena bantuan itu kebanyakan bukan G to G tapi dari komunitas keagamaan di LN kepada komunitas di Indonesia sebagai manifestasi aspek universalisme agama dan aspek berbagi.

 

Hal yang cukup diberikan catatan kritis dari konsep Tri Kerukunan oleh beberapa tokoh dan lembaga agama adalah tentang ” Kerukunan antara umat beragama dengan Pemerintah”. Narasi ini seolah menempatkan Umat Beragama dan Pemerintah dalam posisi frontal Head to Head, dan berseberangan. Padahal yang disebut Pemerintah itu juga dalam perspektif yang lain adalah juga ‘Umat beragama’. Dalam kenyataan empirik tak ada benturan atau ketidakrukunan Umat beragama dengan Pemerintah. Bahwa umat beragama suka menyatakan kritik terhadap policy pemerintah dibidang agama ya itu bagian dari demokrasi.

 

Refleksi dan pengingatan ulang terhadap kebijakan Menag Alamsjah tahun 70an itu menjadi penting agar penyusunan dan konten legislasi yang berkaitan dengan kehidupan beragama dimasa mendatang harus lebih cerdas dan benar-berangkat dari kebutuhan umat beragama sendiri. Hal-hal yang sudah rutin dijalankan oleh umat beragama dan berjalan baik tidakusah lagi dibuat legislasi. Pembuatan dan penyetujuan sebuah legislasi akan banyak dipenuhi dengan “jualan politik”  apalagi menjelang pemilu. Dalam konteks ini kestimewaan hahikat agama dalam pembahasan legislasi keagamaan di ruang parlemen akan tergerus dan tereduksi oleh tarik menarik jumlah suara yang pro dan kontra terhadap legislasi itu.

Baca juga  Intip Pasar Indonesia, Protech Tawarkan Produk Ramah Difabel

 

Tugas besar umat manusia yang dipandu oleh ajaran agama adalah bagaimana menampilkan sikap, prilaku, gagasan dan pemikiran yang mengekpresikan ‘kemuliaan Allah’. Pepatah yang dikutip dibagian awal artikel ini menyatakan ” Langit menyatakan kemuliaan Allah”. Kepada kaum ateis yang tetap ragu tentang adanya Tuhan bahkan tidak percaya kepada Tuhan maka kepada mereka ditunjukkan langit dengan bintang, bulan, matahari dan benda-benda langit lainnya. Biasanya sang ateis akan datang dengan argumen ‘ilmiah’, bagaimana benda-benda langit itu ada dilangit. Tentu sang ateis menolak keras bahwa itu karya Tuhan.

 

Untuk mengekpresikan adanya Tuhan dan kemuliaan Tuhan, kita umat manusia, pembentuk peradaban bisa berbuat banyak. Dengan talenta, bakat, profesi, kemampuan, kompetensi, sikap dan perbuatan kebajikan, kita bisa menyatakan adanya Tuhan dan kemuliaan Tuhan. Sebagai khalifah Allah dibumi dan sebagai *imago dei* (the image of God) maka perbuatan kita yang positif, kebajikan, amal baik kita, menjalankan Ibadah Puasa,  *menghormati orang yang berpuasa* adalah salah satu wujud mengekspresikan adanya Allah, sekaligus menyatakan kemuliaan Allah.

 

Pada tanggal 17 Mei 2018 ini Saudara-saudara kita umat Muslim memulai Ibadah Puasa sebulan penuh. Bagi kita semua umat beragama Ibadah bukanlah sebuah kerutinan tanpa roh, tanpa jiwa dan makna. Ibadah itu sendiri menandakan adanya kepercayaan kepada Kuasa Transenden, Tuhan YME, Allah SWT, adanya _ketundukan_ kita kepada Allah (surrender to God).

 

Puasa berarti menundukkan diri sepenuhnya kepada kuasa Allah, dan melawan kuasa diri sendiri yang cenderung penuh nafsu dan negatif. Puasa adalah juga wahana untuk menahan lapar, memahami mereka yang acap dililit kelaparan sistemik dan struktural akibat keserakahan dan ketamakan individual.

Baca juga  DUNIA TERANCAM RESESI

 

Mari kita mengekspresikan kemuliaan Allah melalui keteladanan kita dalam berpuasa, dalam menghormati mereka yang berpuasa, dalam menggunakan medsos, dalam interaksi kita dengan sesama, di rumah, di kantor, di ruang publik dan dimanapun dilakukan interaksi.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here