Pdt. Weinata Sairin: Memimpin itu Membayar Mahal Resiko

0
597

 

 

“I don’t know the key to success, but the key to failure is to try to please everyone”. (Bill Cosby).

 

Seorang ahli psikologi pada tahun 60-70 memberi kuliah psikologi bagi mahasiswa sebuah sekolah tinggi teologi di Jakarta. Kuliah-kuliahnya cukup menarik, terutama karena acapkali sang dosen mengaplikasikan ilmunya itu dengan kenyataan konkret yang dialami mahasiswa dilapangan. Masih tetap terekam dalam ingatan bagaimana pak. Dosen memberi penjelasan tentang teori kepribadian dari GW Alport. Hal yang menarik bahwa menurut pak Dosen, sikap Alport terhadap manusia adalah *positif*, manusia mampu memahami dirinya sendiri sebagai mahkluk yang baik dan memiliki pengharapan. Alport yang lahir tahun 1897 di Indiana, memahami kepribadian sebagai ‘organisasi dinamis’ didalam individu sebagai sistem psychopsis yaitu menentukan cara khas dalam menyesuaikan diri dan lingkungan sekitar. Disebutkan sebagai “organisasi dinamis” karena menurut Alport realitas kepribadian itu berkembang dan berubah dari waktu ke waktu meskipun pada dasarnya ada komponen penting yang mengikat dan menghubungkan dari berbagai komponen dalam kepribadian itu sendiri.

 

Melalui sebuah diskusi hangat pak Dosen secara meyakinkan menyatakan bahwa dalam sebuah komunitas, tidaklah mungkin seorang pemimpin disenangi semua orang dalam komunitas itu, yang memiliki berbagai keragaman. Jika kita sebagai pemimpin menyenangkan semua orang dalam komunitas itu, pastilah ada yang _salah_ dalam kepribadian kita. Ungkapan seperti itu dari seorang psikolog, tentu amat menarik di masa itu, dan sebab itu amat membekas hingga sekarang.

 

Semua orang dalam hidupnya pasti memiliki cita-cita; dan tentu saja ia ingin sukses dalam menggapai dan mewujudkan cita-cita itu. Ada kiat-kiat khusus yang dimiliki seseorang dalam rangka ia mewujudkan cita-cita itu. Dan kiat-kiat itu, yang diperoleh dari pengalaman empirik dan dari  berbagai sumber, amat berbeda satu sama lain. Seorang sahabat karena dukungan finansial yang memadai, ia pandai, ayahnya seorang pengusaha yang berhasil maka ia nyaris tidak mengalami hambatan dalam mencapai cita-citanya. Bahkan karena ia pandai maka ia bisa setahun lebih cepat, merampungkan studinya. Beda dengan kawan yang lain. Ia harus berhenti dulu kuliah, untuk bekerja beberapa tahun menghimpun dana, sesudah itu baru meneruskan lagi kuliah.

Baca juga  ALDERSGATE DAY

 

Memang perjalanan untuk mewujudkan cita-cita itu bukanlah sebuah perjalanan yang mudah dan sederhana. Darah dan peluh bisa tercurah disana, airmata dan duka bisa hadir menyinggahi jalan terjal penuh bukit batu. Adalah David Sarnoff pemimpin perusahaan Radio Amerika, pada awal periode karirnya ia harus menghadapi berbagai kompetitor. Pada saat ia mengingat masa-masa itu ia berucap : “Tetapi aku sangat berterimakasih kepada musuh-musuhku. Dalam perjalanan jangka panjang menuju kemajuan, sebuah tendangan di pantat melemparkanmu lebih jauh dibandingkan sebuah jabat tangan yang bersahabat.

 

Semangat, motivasi, optimisme, pengurbanan adalah hal-hal yang perlu dikedepankan dalam upaya seseorang mewujudkan cita-citanya. Sebuah dedikasi dan pengurbanan baik dalam mewujudkan cita atau dalam melaksanakan tugas pelayanan, harus benar-benar di agendakan. Disitulah sebenarnya terletak _kemuliaan manusia_ yaitu tatkala ia memberikan seluruh kediriannya untuk mengukir karya terbaik dalam hidupnya.

 

Ada cerita menarik tentang Mahatma Gandhi. Pada suatu hari di tahun 1916 Gandhi sedang menulis, sementara Kaka Kaleikhar, seorang pengikut Baphu yang setia, duduk disampingnya sedang membaca Omar Khayyam dalam versi yang ditulis oleh Fitzgerald. Gandhi lalu bertanya kepadanya “Apa yang sedang kau baca?”. Kalekhar lalu memperlihatkan buku yang sedang ia baca. Ia menghela nafas panjang. Gandhi lalu bicara dengan kesedihan yang dalam : “Aku juga pernah sangat menggemari puisi-puisi Inggris. Tetapi kemudian aku meninggalkannya. Kupikir aku bahkan tak tahu banyak mengenai bahasa Sanskrit sebagaimana yang seharusnya. Jika aku punya banyak waktu luang, mengapa aku tidak memanfaatkannya untuk mencoba menjadi seorang penulis Gujarat yang lebih baik.

Pekerjaanku hari ini adalah untuk melayani Bharat. Itulah kemampuan terbaikku, sebab itu aku harus mendedikasikan segenap waktuku untuk mengembangkan kemampuanku dalam melayani”. Setelah berhenti sejenak ia melanjutkan “Aku bisa dikatakan sudah benar-benar meninggalkan apapun demi melayani kepentingan bangsaku. Kutinggalkan hasratku pada kesusasteraan Inggris dan walaupun karierku berkembang disitu dan aku mencintai kesusasteraan Inggris. Namun bila aku memutuskan meninggalkannya maka aku meninggalkannya”.

Baca juga  Tetap Semangat!

 

Komitmen yang kuat terhadap tugas pelayanan, spirit untuk mewujudkan cita-cita acapkali membawa kita untuk menetapkan pilihan-pilihan. Dan itu memang harga yang harus dibayar untuk sebuah komitmen dan atau perwujudan sebuah cita-cita. Gandhi, lepas kita setuju atau tidak, telah memberikan teladan yang cerdas dan bernas.

 

Dalam pengalaman empirik kita juga bertemu dengan banyak orang yang meninggalkan basis keilmuannya atau bahkan tugas pokoknya karena ia _terpanggil_ atau berkomitmen kuat untuk mendedikasikan dirinya di bidang yang sama sekali lain. Ada seorang senior yang sudah mapan dan berhasil dalam studinya di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogya, ia meninggalkannya dan berkiprah di bidang teologi, yang menggeluti kehidupan baru di akhirat nanti. Ya soal “keterpanggilan” apalagi yang berdimensi vertikal dan sakral, siapa sanggup melawannya? Di suatu komunitas keagamaan ada juga kasus-kasus yang terjadi ketika seseorang merasa menerima “penglihatan”, atau “wahyu” atau “wangsit” atau apapun namanya (ketiga istilah itu tidak setara!) lalu meninggalkan tugas pokoknya dan ia menjadi “gembala jemaat”. Pengalaman-pengalaman empirik seperti itu yang tidak semuanya bisa dibedah dari perspektif sebuah disiplin ilmu, menyatakan bahwa cita-cita, atau tujuan hidup itu amat “subyektif”, non-standard, dan membutuhkan cost yang amat mahal.

 

Menarik tatkala membaca pernyataan Bill Cosby sebagaimana dikutip diatas “aku tak tahu kunci menuju sukses, tetapi kunci menuju kegagalan adalah ketika berupaya menyenangkan setiap orang”. Cosby yang lahir di USA 12 Juli 1937 kita kenal lewat penampilannya dalam komedi situasi “The Cosby Show” (1984-1992) yang ditayangkan stasiun TV beberapa tahun yang lalu Pemeran Dr Huxtable itu memang bermain sangat bagus, ungkapan yang cerdas dalam sebuah keluarga yang memotret realitas keluarga di negeri adi daya, dalam kurun waktu tertentu.

Baca juga  JUJUR DAN TERBUKA DI HADAPAN TUHAN

 

Memang siapapun kita, dalam kapasitas apapun kita, aktor, comedian stand up comedy, penceramah, pemimpin negara, pemimpin daerah, pemimpin RT, pemimpin jemaat, pemimpin umat, tidak (akan pernah) bisa memuaskan dan menyenanngkan setiap orang dari komunitas yang kita pimpin. Seperti yang dikatakan ahli psikologi diawal bagian ini, ada masalah dalam kepribadian kita jika kita bisa menyenangkan _setiap orang_ yang kita pimpin. Dan itu ia nyatakan dalam konteks menjelaskan teori kepribadian Alport.

 

Pernyataan Bill Cosby secara implisit mengajak kita untuk mewujudkan tugas pelayanan kita sesuai dengan tupoksi/tusi, visi misi, ketentuan peraturan perundangan, etik dan moral agama (al. jujur, kerja keras, anti korupsi, anti suap, non-diskriminasi, mengasihi semua warga).

 

Bahwa ada orang yang tidak suka dan tidak senang dengan pola kerja dan gaya kepemimpinan kita yang pro UU dan memberlakukan keadilan dan kebenaran, ya itu hak dan pilihan setiap orang. Tetapi jangan kita berubah dan memperlemah sikap kita demi menyenangkan dan menyukakan semua orang. Sikap seperti itu memang mesti dibayar mahal oleh kita dan keluarga kita. Dan itulah resiko seorang pemimpin.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

*Weinata Sairin*.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here