Desember bulan yang indah, bulan yang penuh Sukacita dan yang membuat tiap hati suci bergembira. Bulan yang penuh semarak dan membahagiakan setiap insan, karena getaran Ilahi mulai terasa di hati. Kesibukan menyongsong Natal indah mulai kuat terasa, pohon-pohon Natal mulai disiapkan dan baju-baju baru mulai diburu beli. Pernik-pernik beraneka warna terasa menghias hampir setiap sudut Mall dan ruang-ruang Toko.
Anak-anak Sekolah Minggu, Guru-guru Sekolah Minggu dan Paduan-paduan Suara mulai berlatih kidung-kidung pujian Natal. Panitia sibuk mencari dana, ibu-ibu agak pusing membagi diri dan sedikit agak sewot antara membagi dana untuk keluarga dan berbagai permintaan sumbangan yang kadang sudah antre. Ini semua bagian menarik dari pesona Natal yang tiap tahun dirayakan oleh umat yang mencintai Tuhan-Nya di satu sisi, dan “nikmat yang agak memusingkan” disisi yang lain karena kebutuhan yang agak bertambah.
Belum lagi tawaran tawaran “discount menggiurkan” dari Super-super Market dan Mall-mall kelas bawah dan menengah sampai Mall-mall mewah sekelas Mall Indonesia, Grand Mall Ambassador, La Piaza dan sejenisnya yang terus bertaburan. Inilah sisi gemerlap duniawi yang kadang menyilaukan mata, menggugah sukma, menggoda hati dan juga menohok jiwa yang haus kenikmatan. Semua ini sangat-sangat manusiawi dan sangat wajar, karena hidup memang membutuhkan banyak hal untuk memuaskan dirinya, sebab kita masih tinggal didunia ini yang penuh dengan rupa-rupa tuntutan.
Namun sebagai anak-anak Tuhan, kita harus lebih tenang dan menguasai diri agar tidak kehilangan orientasi dalam hidup ini sehingga mudah terbawa arus zaman yang kencang menggoda ini. Dalam minggu-minggu Adventus ini kita terus bertanya pada diri kita, apakah ini “kesiapan diri yang berkualitas”, apakah ini semua yang Tuhan tuntut dari kita dalam menyongsong perayaan-perayaan Natal kita. Disaat kita bersiap diri dengan dana-dana perayaan Natal yang akan dihabiskan mungkin belasan sampai puluhan juta untuk makan minum dan memuaskan hasrat serta libido duniawi , kita diingatkan bahwa ada hal-hal yang lebih mulia untuk mereka yang lapar dan papa serta miskin dan perlu pertolongan.
Apa yang kamu perbuat untuk mereka yang miskin dan hina ini, kamu sudah perbuat untuk Aku. Kata-kata Tuhan ini harus terus mengingatkan kita, agar nilai ibadah-ibadah Natal kita menyenangkan Tuhan dan banyak orang. Natal itu untuk sesama bukan hanya untuk diri kita, karena Dia datang untuk mencari manusia.
Selamat menikmati Desember indah! Gb. jm. 021217.
















