Sebab Segala Sesuatu adalah dari Dia

0
2774

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

Roma 1:36

Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya!

 

Kata-kata “segala sesuatu dari Dia, oleh Dia dan kepada Dia” tidak asing bagi masyarakat dan jemaat yang mendengar firman ini. Karena pada waktu itu masyarakat termasuk orang-orang Kristen telah biasa dengan rumusan tersebut. Dalam kehidupan sehari-hari mereka dipengaruhi oleh pandangan hidup yang berasal dari filsafat Stoa. Filsafat stoa berasal dan diajarkan oleh Zeno dari Citium (k.l. 300 SM).

Pengaruh filsafat ini masih terasa pada saat Paulus tampil sebagai pemberita Injil maupun sesudah kematiannya. Sekitar 100 tahun sesudah Paulus filsafat itu masih berpengaruh, misalnya dalam kata-kata kaisar Marcus Aurelius (beragama Kristen) yang memerintah antara tahun 161-180 M, berbunyi: Semuanya dari-Mu, segalanya dalam-Mu dan segalanya juga kepada-Mu.

Bunyi kata-kata itu mirip dengan apa yang diungkapkan oleh Paulus, tetapi sejujurnya maknanya berbeda. Ungkapan itu dalam filsafat stoa membentuk sikap pasrah yang pasif dari manusia terhadap keadaan yang diterimanya. Marcus Aurelis sendiri pernah menyampaikan pikirannya sebagai berikut: jika maut datang menjemput Anda, maka Anda hanya perlu pasrah saja, bahkan jika Anda dibuang dari dunia ini Anda pun hanya patut berpasrah saja, karena memang begitulah diatur Tuhan melalui alam ini.

Kepasrahan ini dapat dimengerti karena filsafat stoa mengajarkan orang supaya tidak memiliki perasaan reaktif atas apa pun yang terjadi atasnya. Jika peristiwa itu menyenangkan, kita tidak perlu bergembira. Sebaliknya, jika peristiwa itu mendukakan, kita tidak perlu bersedih.

Kata-kata “semuanya dari Dia, segalanya di dalam Dia dan segalanya juga kepada Dia”, mau menjelaskan bahwa Tuhan adalah sumber segala sesuatu, dan Tuhan ada dalam segala sesuatu dan segala sesuatu menuju kepada-Nya. Karena semuanya bergantung dari Tuhan, maka kita hanya dapat berpasrah saja. Kita tidak perlu bersedih kalau ada yang susah dan tidak perlu bergembira kalau ada yang menyenangkan karena itu dibuat oleh Tuhan melalui alam ini.

Baca juga  Jangan Takut. Allah Selalu Hadir bagi Kita

Kata-kata di atas diucapkan juga oleh Paulus secara hampir sama, dengan perbedaan pengertiannya sebagai berikut ini.

Pertama, segala sesuatu dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia, tetapi ada perbedaannya. Filsafat stoa mengatakan semuanya dari Dia, sama dengan Paulus segala sesuatu dari Dia. Dua-duanya mengakui bahwa segala ciptaan berasal dari Tuhan. Tetapi dalam filsafat stoa, ciptaan yang berasal dari Tuhan itu bertumbuh dan mengalami perubahannya sendiri. Dalam Paulus tidak demikian, ciptaan yang berasal dari Tuhan itu, termasuk manusia, bertumbuh dan mengalami perubahannya dalam bimbingan Tuhan.

Kedua, filsafat stoa mengatakan segalanya di dalam Dia, Paulus mengatakan segala sesuatu oleh Dia. Filsafat stoa mengidentikkan Tuhan dengan segala sesuatu, sehingga kalau sesuatu menyebabkan perubahan (atau bencana, misalnya banjir) dianggap dilakukan oleh Tuhan. Paulus tidak demikian, ia mengatakan segala sesuatu adalah oleh Dia. Artinya, dalam penanganan Tuhan. Ada perubahan yang disebabkan oleh sesuatu tapi belum tentu itu dilakukan oleh Tuhan.

Ketiga, filsafat stoa mengatakan bahwa segalanya tertuju kepada Dia, Paulus juga mengatakan sama. Maksud filsafat stoa berkata seperti itu bahwa otomatis segala sesuatu masuk kepada Allah. Paulus tidak demikian, karena untuk sampai kepada Bapa kita harus taat. Kesatuan kepadaTuhan adalah sebuah pengharapan yang diisi dengan ketaatan. Dalam ketaatan itu kita mewujudkan ibadah kita dan berbuat hal-hal yang baik kepada sesama.

Terakhir, Paulus tidak mengajarkan sikap berpasrah saja atas apa yang terjadi. Jika kita mengalami peristiwa menyenangkan maka layaklah kita memuliakan Tuhan. Itulah yang disampaikan pada akhir ayat tadi: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here