Belajar dari Esau dan Yakub

0
15586

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

Kejadian 25:19-34
(19) Inilah riwayat keturunan Ishak, anak Abraham. Abraham memperanakkan Ishak. (20) Dan Ishak berumur empat puluh tahun, ketika Ribka, anak Betuel, orang Aram dari Padan-Aram, saudara perempuan Laban orang Aram itu, diambilnya menjadi isterinya. (21) Berdoalah Ishak kepada TUHAN untuk isterinya, sebab isterinya itu mandul; TUHAN mengabulkan doanya, sehingga Ribka, isterinya itu, mengandung. (22) Tetapi anak-anaknya bertolak-tolakan di dalam rahimnya dan ia berkata: “Jika demikian halnya, mengapa aku hidup?” Dan ia pergi meminta petunjuk kepada TUHAN. (23) Firman TUHAN kepadanya: “Dua bangsa ada dalam kandunganmu, dan dua suku bangsa akan berpencar dari dalam rahimmu; suku bangsa yang satu akan lebih kuat dari yang lain, dan anak yang tua akan menjadi hamba kepada anak yang muda.” (24) Setelah genap harinya untuk bersalin, memang anak kembar yang di dalam kandungannya. (25) Keluarlah yang pertama, warnanya merah, seluruh tubuhnya seperti jubah berbulu; sebab itu ia dinamai Esau. (26) Sesudah itu keluarlah adiknya; tangannya memegang tumit Esau, sebab itu ia dinamai Yakub. Ishak berumur enam puluh tahun pada waktu mereka lahir. (27) Lalu bertambah besarlah kedua anak itu: Esau menjadi seorang yang pandai berburu, seorang yang suka tinggal di padang, tetapi Yakub adalah seorang yang tenang, yang suka tinggal di kemah. (28) Ishak sayang kepada Esau, sebab ia suka makan daging buruan, tetapi Ribka kasih kepada Yakub. (29) Pada suatu kali Yakub sedang memasak sesuatu, lalu datanglah Esau dengan lelah dari padang. (30) Kata Esau kepada Yakub: “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah.” Itulah sebabnya namanya disebutkan Edom. (31) Tetapi kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu.” (32) Sahut Esau: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (33) Kata Yakub: “Bersumpahlah dahulu kepadaku.” Maka bersumpahlah ia kepada Yakub dan dijualnyalah hak kesulungannya kepadanya. (34) Lalu Yakub memberikan roti dan masakan kacang merah itu kepada Esau; ia makan dan minum, lalu berdiri dan pergi. Demikianlah Esau memandang ringan hak kesulungan itu.

Yakub adalah seorang gembala dan Esau adalah pemburu. Pada suatu kali Esau pulang dalam keadaan lapar, sebab ia tidak berhasil menangkap apapun. Ketika ia melihat Yakub memasak sesuatu, berkatalah ia kepada Yakub: “Berikanlah kiranya aku menghirup sedikit dari yang merah-merah itu, karena aku lelah” (ayat 30). Mendengar permintaan kakaknya itu, Yakub melihat peluang untuk mendapat keuntungan. Kata Yakub: “Juallah dahulu kepadaku hak kesulunganmu” (ayat 31). Ternyata Esau lebih tertarik pada makanan daripada hak kesulungannya. Itulah sebabnya dia berkata: “Sebentar lagi aku akan mati; apakah gunanya bagiku hak kesulungan itu?” (ayat 32). Jadi Esau siap memberikan hak kesulungannya asal dapat makan. Tetapi Yakub mau supaya keputusan kakaknya itu tidak berubah di kemudian hari. Kepada kakaknya ia berkata, “Bersumpahlah dahulu kepadaku” (ayat 33). Setelah Esau bersumpah, barulah Yakub memberikan makanannya.

Cerita ini memang menarik. Kita tidak dapat mengatakan bahwa yang benar adalah yakub dan yang salah adalah Esau. Kedua-duanya salah. Kedua-duanya tidak bertindak ksatria.
Pada satu pihak, Esau terlalu meremehkan hak kesulungannya dan menjualnya (dengan harga yang sangat murah pula!). Hak kesulungan adalah anugerah dan tidak boleh dijual. Barangsiapa menjualnya berarti meremehkan pemberian Tuhan. Sama halnya dengan orang Kristen, kita telah diberikan hak “anak”, bahkan hak “ahli waris” oleh Allah. Sungguh bernilai bukan? Tetapi lihat, berapa banyak orang Kristen yang ‘menjual’ kekristenannya hanya untuk memperoleh sesuatu yang memuaskan tubuh?

Pada pihak lain, Yakub memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Ia bertindak keji karena menuntut sesuatu yang terlalu tinggi pada saat saudaranya lengah. Kita tidak mungkin berkata bahwa tindakan Yakub adalah benar. Yakub bertindak curang dan membuat keluarga menjadi rusak. Kalau kita menganggap tindakan Yakub benar, maka kita pun akan menganggap wajar tindakan-tindakan orang yang berlaku curang.

Baik Esau maupun Yakub tidak memberikan teladan yang baik untuk kita ikuti. Namun, mengapa Yakub dipilih Allah sebagai hamba-Nya untuk melasanakan rencana-Nya bagi dunia ini? Jawaban atas pertanyaan ini adalah: karena anugerah. Ya, Yakub memang bersalah, bahkan jauh lebih bersalah dari Esau, tapi dia dipilih dan dipanggil Allah untuk melayani-Nya. Ini adalah anugerah!
Dalam Alkitab, kita melihat bagaimana Allah memilih hamba-hamba-Nya dari orang-orang yang dianggap berdosa dan tidak layak (bandingkan 1 Korintus 1:27-29). Ini berarti, walau kita merasa berdosa, terbatas dan tidak pantas, Allah tetap membuka diri-Nya untuk menyambut kita. Sama seperti kepada Yakub, Allahpun memanggil kita untuk menjadi hamba-Nya. Ia ingin hidup kita menjadi bermakna dalam panggilan-Nya.
Hal lain yang dapat kita pelajari dari Esau dan Yakub adalah pilihan yang mereka ambil. Esau mementingkan sop merah, sedangkan Yakub mementingkan hak kesulungan. Sop merah mendatangkan keuntungan nyata dan segera, sedangkan hak kesulungan mendatangkan keuntungan yang baru nyata pada saat nanti (di masa depan). Dengan kata lain, Sop merah membawa kepuasan sesaat, sedangkan hak kesulungan membawa manfaat yang panjang.
Masing-masing pilihan mencerminkan karakter orangnya. Esau tidak sabar, ia lebih memilih sop merah karena langsung memuaskan seleranya. Sementara hak kesulungan? Masih lama, dan faedahnya tidak dapat dipastikan kapan terjadi. Yakub, walaupun ia juga butuh makan, tapi lebih memilih hak kesulungan walaupun ia harus menanti dalam waktu lama untuk merasakan manfaatnya.

Allah memilih Yakub, karena Ia membutuhkan kualitas hamba yang sabar menunggu. Hamba yang mementingkan sesuatu yang jauh lebih bermanfaat ketimbang memilih kenikmatan sesaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here