Dukacita Menjadi Sukacita

0
1990

“Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” (Yoh 16:21)

Pernahkah kita melihat video tentang bagaimana perjuangan seorang ibu dalam melahirkan anaknya, terutama ibu yang melahirkan dengan cara normal (bukan dengan operasi caesar)? Ketika melihat perjuangan dan rasa sakit yang dialami oleh ibu tersebut, saya saja sempat menitikkan air mata, karena memang perjuangan yang dilakukan oleh ibu yang sedang melahirkan itu adalah perjuangan antara hidup dan mati. Tapi, jika kita perhatikan, sesakit apapun penderitaan yang dialami oleh seorang ibu pada saat ia sedang melahirkan, ketika bayinya telah lahir maka segala rasa sakit tersebut seakan-akan lenyap, karena digantikan oleh sukacita dan kegembiraan karena sang anak telah lahir ke dunia ini dengan selamat.

Hal tersebut juga menjadi salah satu kiasan yang disampaikan Yesus kepada murid-muridNya (Yoh 16:21). Hal ini terkait dengan apa inti dari pengajaran tentang apa yang hendak disampaikan Yesus, yaitu ketika Ia tinggal sesaat saja berada bersama dengan murid-muridNya (Yoh. 16:16). Pada saat Yesus menyampaikan hal ini, murid-muridNya pun menjadi bingung karena tidak mengerti maksud dari perkataan Tuhan Yesus tersebut (Yoh. 16:17-18). Yesus pun tahu bahwa murid-muridNya sedang bingung dengan perkataanNya tersebut, oleh karena itu Tuhan Yesus menegaskan kembali, bahwa Tuhan Yesus akan segera berpisah dengan murid-muridNya (Yoh 16:19). Tuhan Yesus pun mengatakan bahwa mereka akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira (Yoh 16:20a). Hal ini tentang penderitaan dan kematian Yesus, dimana murid-muridNya akan menangis melihat kematian Yesus, tetapi justru orang-orang dunia (Ahli Taurat, orang Farisi, dan Imam-Imam Kepala) akan bergembira karena mereka merasa telah berhasil “menyingkirkan” Yesus. Murid-murid Yesus akan berdukacita karena kematian Yesus, tetapi selanjutnya dukacita mereka akan berubah menjadi sukacita dengan kebangkitanNya dan kenaikanNya ke surga (Yoh 16:20b).

Baca juga  PENGURAPAN MENUJU PENOBATAN: KASUS DAUD

Yesus mengatakan bahwa murid-muridNya akan berdukacita beberapa saat lagi karena kematianNya, tetapi ketika Yesus bangkit dan murid-muridNya dapat melihat Yesus yang telah bangkit tersebut, maka mereka akan bersukacita dan bergembira, dan tidak ada lagi yang dapat merampas kebahagiaan tersebut dari mereka (Yoh 16:22). Mengapa Yesus berkata bahwa mereka akan berbahagia? Tuhan akan memberikan kepada mereka apapun yang mereka minta kepadaNya di dalam nama Yesus (Yih 16:23). Kita sebagai anak-anak Allah tentu akan mendapatkan fasilitas kelas satu, ketika kita meminta sesuatu kepada Allah Bapa maka tentu saja permintaan kita akan dikabulkan, sepanjang kita minta di dalam nama Yesus dan sesuai dengan kehendak Allah Bapa. Bahkan Tuhan Yesus sendiri sampai “menantang” kita untuk meminta sesuatu dalam namaNya, dan berkata bahwa ketika kita meminta dalam nama Yesus, maka kita akan menerimanya, supaya sukacita kita menjadi penuh (Yoh 16:24).

Demikian juga dengan kita pada saat ini, apakah ada di antara kita yang sedang mengalami dukacita? Tentu dukacita yang dimaksud di sini adalah dukacita karena kita mengiring Tuhan. Mungkin saja ada di antara kita yang “dihambat” sehingga tidak mendapatkan promosi di pekerjaan kita karena kita mengiring Tuhan. Mungkin saja ada di antara kita yang sedang bergumul mendapatkan pasangan hidup yang seiman, atau sedang bergumul untuk menjadi hamba Tuhan full time dan melepaskan pekerjaan kita saat ini. Apapun itu, ingatlah perkataan Yesus bahwa ia akan memberikan sukacita ganti dukacita kita. Memang Tuhan sendiri tidak pernah mengatakan bahwa ketika kita mengiring Tuhan, maka tidak ada lagi dukacita yang kita alami. Selama kita di dunia ini, pasti kita akan merasakan dukacita, tetapi pada akhirnya nanti, ketika kita sudah berada di surga bersama Yesus, maka tidak akan ada lagi dukacita di sana, karena surga adalah tempat yang penuh dengan sukacita (Why 21:4). Apapun kondisi kita di dunia ini, sesulit apapun hidup yang kita jalani, tetaplah memandang jauh ke depan, percaya dengan iman bahwa ketika kita sudah berada di surga, maka kita tidak akan lagi merasakan dukacita. Sukacita sebagai pemenang akan menjadi milik kita. Amin. GBU

Baca juga  Kebiasaan Hidup yang Membawa Kebahagiaan: Memilih untuk Bersukacita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here