Allah Selalu Mendahului Kita

0
1806

Oleh: Pdt. Pinehas Djendjengi

 

 

Keluaran 13:17-22

(17) Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: “Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir.” (18) Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir. (19) Musa membawa tulang-tulang Yusuf, sebab tadinya Yusuf telah menyuruh anak-anak Israel bersumpah dengan sungguh-sungguh: “Allah tentu akan mengindahkan kamu, maka kamu harus membawa tulang-tulangku dari sini.” (20) Demikianlah mereka berangkat dari Sukot dan berkemah di Etam, di tepi padang gurun. (21) TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. (22) Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu.

 

Dalam kisah perjalanan umat Israel menuju tanah perjanjian, kita membaca beberapa kali mengenai ‘tiang awan’ dan ‘tiang api’ dengan fungsinya. Tiang awan sering muncul dan diam dia atas kemah suci sebagai tanda kehadiran Allah saat mereka beribadah. Dalam bacaan ini tiang awan dan tiang api berfungsi sebagai ‘penuntun’. Tiang awan pada siang hari dan tiang api pada malam hari. Tuntunan Tuhan melalui tiang awan dan tiang api menjelaskan kepada kita beberapa sifat Tuhan.

Pertama, Tuhan sangat aktif dalam kehidupan manusia. Tuhan tidak pernah pensiun dalam berkarya. Adalah keliru jika kita berpikir bahwa pekerjaan-pekerjaan besar hanya dilakukan Tuhan pada masa lampau. Sekarang Dia tinggal jauh dan kurang bertindak lagi. Tidaklah demikian. Tuhan terus bertindak. Ia berjalan di depan manusia dan terus mewujudkan karya-karya terbaik-Nya.

Kedua, Tuhan memelihara umat-Nya dalam kesetiaan-Nya. Namun, manusia cenderung berpikir bahwa Tuhan tidak meperhatikannya lagi, ketika penderitaan mendera kehidupannya. Seperti pengakuan seorang bapak yang berkata: “Dulu saya sangat rajin bergereja, tetapi setelah istriku meninggal dunia, saya kehilangan iman. Tuhan tidak memelihara saya.” Anggapan ini tentu salah. Tuhan Yesus pernah berkata: “Bukankah burung pipit dijual dua ekor seduit? Namu seekor pun daripadanya tidak akan jatuh ke bumi di luar kehendak Bapamu … Sebab itu janganlah kamu takut, karena kamu lebih berharga daripada banyak burung pipit” (Matius 10:29-31). Tuhan selalu memelihara dan menuntun kita.

Ketiga, Tuhan membimbing umat-Nya menuju tujuan yang jelas. Tujuan kita bukanlah bagi dunia ini, sekalipun kita berada di dunia ini. Ia selalu datang dalam firman-Nya agar kita dapat melangkah dengan tepat menuju tujuan itu. Firman Tuhan adalah terang bagi jalan kita.

Tapi sayang kita sering tidak menyadari pimpinan Tuhan ini. Pandangan kita terlalu terfokus kepada penderitaan yang dialami sehingga kita tidak dapat lagi menghayati karya Tuhan bagi kita. Paulus banyak mengalami penderitaan dalam hidupnya, tapi dia terus bersyukur karena merasakan kehadiran Tuhan dalam hidupnya. Ia yakin dengan sepenuh-sepenuhnya akan firman yang berkata: “Dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”

Jika kita sedang bergumul, mintalah pimpinan Tuhan, maka Ia akan menyatakannya. Mintalah … sambil kita tetap melakukan kewajiban-kewajiban iman kita.

Sekarang ini kita mungkin tidak melihat lagi pimpinan Tuhan dalam bentuk tiang awan atau tiang api, tetapi jelas Tuhan tetap membimbing dan berjalan di depan kita. Dia mempunyai banyak cara untuk membimbing kita. Tidak usah kuatir, teruslah berjalan mengikuti-Nya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here