“HOMO HOMINI SOCIUS: MANUSIA MENJADI SAHABAT BAGI SESAMANYA”

0
1365

Oleh: Pdt. Weinata Sairin

Manusia adalah titik sentral dari seluruh ciptaan Allah karena manusialah sebagai ciptaan Allah yang mulia yang mendapat mandat dari Allah untuk memelihara alam raya berikut isinya yang telah Ia ciptakan. Manusia selalu menjadi fokus, menjadi titik perhatian dari Sang Pencipta. Itulah sebabnya hidup manusia itu diatur oleh kaidah, norma yang secara spesifik diuraikan melalui ajaran agama sehingga manusia tidak kehilangan hakikat dirinya sebagai ciptaan Allah yang mulia. Manusia diperintahkan agama untuk hidup saling mengasihi dan menyayangi sehingga sebuah dunia yang aman, tenteram dan damai bisa dinikmati oleh manusia.

Sayangnya dalam kenyataan praktis ternyata manusia tidak hidup dengan saling mengasihi dan menyayangi tapi saling membenci bahkan muaranya bisa saling bunuh. Dalam realitas praktis yang populer adalah “homo homini lupus” -manusia menjadi serigala bagi sesamanya atau mengacu pada terjemahan bebas “manusia adalah *pemangsa*bagi manusia lain”. Ini bukan sekadar pernyataan tekstual tapi benar benar mewujud dalam sejarah kehidupan manusia.

Dari lembaran sejarah manusia dapat direkam dengan jelas hubungan antar manusia yang tidak selalu baik. Ada konflik pribadi, konflik komunal, perang antar suku bahkan ada perang antar bangsa dalam waktu yang cukup lama dengan membunuh jiwa-jiwa tak berdosa serta kerugian dalam berbagai bentuk yang amat besar nilainya.

Dalam zaman modern konflik antar manusia makin tajam dan rumit dengan latar belakang yang amat beragam. Ada faktor ekonomi, ideologi, hegemoni politik, budaya, pertahanan dan keamanan bahkan ada juga dimensi keagamaan dalam batas dan kadar tertentu.

Nilai dan hakikat manusia sebagai ciptaan Allah termulia nyaris tereduksi dan kehilangan makna. Dalam kondisi seperti ini peran agama-agama harus makin dominan dan fokus untuk mencerahkan spiritualitas umat agar mereka benar-bertobat menjadi manusia mulia.

Baca juga  TUHAN YESUS SATU-SATUNYA KEBAHAGIAAN

Dalam kapasitas seperti itulah manusia dapat memberi kontribusi optimal bagi pembentukan sebuah peradaban baru yang lebih maju, modern, adil, berkeadaban. Pepatah yang kita kutip diawal bagian ini mesti kita implementasikan dalam kehidupan kita agar hidup kita membangsa dan menegara makin berkualitas.

Selamat berjuang. God bless

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here