BIMBINGAN TUHAN 

0
334

Oleh: P. Adriyanto

 

*_”Tuhan akan menuntun engkau senantiasa, dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering dan akan memperbarui kekuatanmu;_*

*_Engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang yang tidak pernah mengecewakan.”_*
*_Yesaya 58:11_*

 

Tuhan adalah Allah kita untuk selama-lamanya. Kita serahkan hidup kita untuk di bimbing-Nya.
*_”Tuhan berkata, “Aku akan mengajar dan membimbing engkau sepanjang jalan yang paling baik bagi hidupmu. Aku akan menasehati engkau dan memperhatikan kemajuanmu.”_*
*_Mazmur 32:8 – FAYH_*

Karena kasih setia-Nya terhadap kita, Tuhan mengutus malaikat-Nya untuk membimbing kita.
*_” Sesungguhnya Aku mengutus seorang malaikat berjalan di depanmu untuk melindungi engkau di jalan dan untuk membawa engkau ke tempat yang telah Kusediakan.”_*
*_Keluaran 23:20_*

Oleh sebab itu kita harus mencari dan berdoa untuk selalu memperoleh petunjuk dan bimbingan-Nya.
*_” ¹ Beritahukanlah jalan-jalanMu kepadaku ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku.”_*
*_Mazmur 25:4_*

*_” ² Beritahukanlah aku jalan yang harus kutempuh sebab kepadaMulah kuangkat jiwaku.”_*
*_Mazmur 143:8_*

*_” ³ Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”_*
*_Amsal 3: 5~6_*

Dalam hidup saya, walaupun saya jatuh bangun dalam dosa yang tidak berkenan kepadaNya, tapi Tuhan selalu membimbing saya di jalan-Nya sehingga saya beroleh keselamatan.

Dimulai dari keterlibatan saya dalam dunia politik praktis sejak saya mahasiswa, perjalanan karir saya sampai pada urusan-urusan pidana di mana saya dijadikan sebagai saksi utama, Tuhan selalu membimbing saya dan menunjukkan jalan-Nya.
Biarlah Tuhan membimbing saya bahkan saya tidak tahu kemana saya harus pergi.

Kita harus mengandalakan bimbingan Tuhan sewaktu kita :

1 Merasa putus asa dan tanpa harapan- Mazmur 23:4 dan 142:4

2 Kita merasa tersesat – Yesaya 42:1

3 Berada dalam bahaya – Mazmur 27:11 dan 73: 43~52.

4 Kita berada di negeri asing- Mazmur 139: 9~10.
Saya tanpa malu ingin bersaksi bagaimana Tuhan senantiasa membimbing saya dan tim pada saat saya di luar negeri.
* Pertama kali saya dan tim pergi ke Jepang pada tahun 1971.
Hari 1: Bagaimana membuka pintu otomatis karena di Malang nggak ada. Saya melihat beberapa orang Jepang yang berdiri di depan pintu sambil berkacak pinggang. Sayapun meniru dan saya melihat ke empat teman saya melakukan hal yang sama
Hari kedua:
Kami hanya boleh menginap selama 1 malam di Daiichi Hotel dan kami harus pindah sementara di hotel lain. Ketika saya ingin memesan taxi, recepsionist hotel mengatakan wah nggak perlu it’s just five minutes walk.

Berangkatlah kami berlima dengan menyeret trawly dan kopor kami masing-masing dan menjadi tontonan bagi banyak orang karena kami seperti orang desa. Sudah hampir 15 menit kami berjalan, namun belum sampai juga. Ternyata five minutes walk memang benar bagi orang Jepang yang kalau berjalan seperti pesilat yang pakai ilmu ginkang/ meringankan tubuh.

Hari ke-empat:
Setelah kami kembali ke Daiichi Hotel, saya dan seorang teman saya Ir. Sunardi (alm) berjalan-jalan masuk ke dept.store besar. Setelah selesai berbelanja kami keluar dari pintu lain. kami lebih dari 2 jam tersesat, dan setiap kami menstop taxi, pengemudinya hanya geleng-geleng kepala. Untung kami bertemu dengan orang tua ex tentara Jepang yang bisa bahasa Indonesia. Memang hotel Daiichi sangat dekat.

Pada tahun 1994 untuk kedua kalinya saya ke Tokyo

Kami akan pergi ke Osaka dan naik Sinkanseng (KA cepat). Salah seorang dari teman saya salah naik tangga berjalan yang turun, padahal sebenarnya harus escalator yang naik. Kami semua takut ketinggalan KA dan teman saya dengan segala daya berusaha naik kembali escalator yang sedang turun. Sudah hampir sampai, dia kembali merosot turun sehingga jadi bahan tertawaan orang.

Semua pengalaman saya ceritakan kepada mereka agar mereka pintar sedikit.

Tetapi soal makan, saya hanya tahu satu macam yakni Yakiniku ( semacam sate ayam yang murah) ketika waiter bertanya kepada teman-teman saya yang lain, mereka semua menjawab “the same”??!.

Tahun ,1985 saya dan teman saya Ir. Sumarto (alm) ke Jerman. Setiba di bandara Frankfurt, kami menemui kesulitan bagaimana naik escalator dengan membawa trawly besar dan kopor besar. Bulenya sih badannya gede gede sehingga tidak jadi masalah bagi mereka. Namun saya melihat ada nyonya tua yang dengan enak naik lift. Ternyata trawlynya dilepas dan akan ngerem sendiri.

Hari kedua kami naik taxi ke Stuttgart.
Disinilah terjadi kekonyolan-kekonyolan. Dari hotel kami harus naik KA listrik ke head quarter Fichtner Gmbh. Walaupun sudah diberi petunjuk,kami masih bingung sehingga 3 putaran, padahal bila tidak membayar ticket kami bisa ditangkap polisi.

Kami dari Stuttgart harus ke Munchen naik KA. Karena tidak tahu, kami duduk berhimpit-himpitan dengan penumpang lain dan ketika kondektur meminta ticket kami, dia tertawa dan mengatakan bahwa kami di VIP class. Ada penumpang yang bertanya dari mana asal kami.

Di Munchen kami makan pizza di tepi jalan karena banyak bule yang juga makan. Kebetulan ada semacam drum besar dan saya letakkan pizza di atasmya dan ternyata itu adalah tempat sampah.

Tuhan mengasihi dan mempedulikan kita. Tangannya yang penuh kasih selalu menopang kita. Tangan-Nya selalu membimbing kita.
Amin.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here