Digital vs Kolonial

0
153

Oleh Sigit Triyono (Sekum LAI)
www.alkitab.or.id IG: lembagaalkiatbindonesia

Tanggal 15-16 Februari 2019 telah berlangsung lokakarya penyusunan “peta jalan” layanan LAI di bidang digital. Tidak kurang 20 orang berpartisipasi dalam forum ini baik internal maupun para mitra pendukung LAI.

Hari pertama diskusi berlangsung dari pagi sampai tengah malam. Hari kedua mempertajam hasil diskusi yang melahirkan Visi, Misi, nilai-nilai budaya kerja, strategi, inisiatif-inisiatif implementasi dan rencana operasional. Benwr-bemar kerja marathon.

Disepakati bersama visi layanan digital LAI menuju tahun 2030 adalah: *”Penyedia Kabar Baik Otentik Digital dengan Layanan Prima.”*

Visi di atas mengandung makna komitmen untuk memberikan konten-konten yang otentik hasil karya LAI bersama Gereja-gereja di Indonesia. Otentisitas ini penting karena di era serba digital terlalu mudah untuk mengubah konten dan menyebarkannya semau selera.

Layanan prima mengandung aspek: mudah diakses, bermakna secara personal, tepercaya dan membawa manfaat bertemu dengan Tuhan sang Juruselamat.
Singkatnya penjelasan visi di atas adalah:
“LAI menjadi pusat pelayanan Kabar Baik tepercaya (trustworthiness) bagi semua orang untuk dapat bertemu dan berinteraksi dengan Allah dalam bahasa dan media yang mereka pilih (personalize), mudah diakses pada waktunya serta pada tempatnya (accessible).”

Dengan visi yang begitu bernas diharapkan era digital dapat sungguh-sungguh menjadi anugerah bagi LAI untuk menyebarkan Firman Allah ke seluruh pelosok negeri.
Kecepatan dan inisiatif menjadi ciri utama era digital. Tidak ada lagi cerita berleha-leha sambil menunggu sesuatu. Nilai-nilai kerja di era digital memiliki perbedaan yang sangat signifikan dibandingkan era cetak-mencetak.

Tanpa terobosan-terobosan dan keberanian untuk melangkah dengan cepat, gambaran jaman kolonial kembali mewarnai secara dominan.

Layanan digital tidak meninggalkan layanan cetak. Semua saling melengkapi sebagai sarana menyebarkan Kabar Baik ke seluruh negeri yang masih membutuhkan keduanya.
Semua harus disinergikan secara kreatif. Inovasi menjadi keniscayaan yang tidak dapat ditawar-tawar dan harus berlangsung terus.

Dengan semangat Sehati, Antusias dan Fokus, LAI akan jaya di era digital, dan tak akan kembali ke era kolonial.
*#SalamAlkitabUntukSemua*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here