PEKA PADA TEGURAN ALLAH

0
364

Oleh: Pdt. Andreas Loanka

 

 

BGA dari Keluaran 9:8-12

 

Pada saat orang-orang Mesir tidak mau tunduk dengan tulah kelima, yaitu penyakit sampar pada ternak, maka Tuhan mendatangkan tulah keenam, yaitu barah pada manusia dan binatang di seluruh tanah Mesir.   Tulah keenam ini jauh lebih berat dari tulah kelima. Tulah penyakit  sampar hanya terjadi pada ternak milik mereka, tetapi tulah barah terjadi pada tubuh mereka juga.  Orang-orang Mesir beserta binatang piaraan mereka kena penyakit  barah, yakni semacam bisul yang menyakitkan dan sangat gatal, yang menggelembung di tubuh mereka dan kemudian memecah (Kel. 9:10).   Oleh karena Firaun dan orang-orang Mesir tidak mau disadarkan dan bertobat melalui hukuman yang lebih ringan, maka Tuhan mendatangkan hukuman yang lebih besar.

 

Menghadapi Tulah keenam ini ahli-ahli sihir Mesir tidak berdaya. Ahli-ahli sihir itu tidak dapat tetap berdiri di hadapan Musa, sebab mereka  itupun kena barah juga sama seperti semua orang Mesir (Kel. 9:11).  Seharusnya para ahli Mesir dan juga Firaun segera sadar bahwa mereka sedang berhadapan dengan Allah yang Mahakuasa, sehingga mau bertobat dan berbalik pada jalan-Nya. Namun hal itu justru tidak terjadi.

 

Menghadapi tulah keenam, yaitu teguran Allah yang lebih keras, Firaun masih tetap mengeraskan hati dan tidak mau memperhatikan kehendak Allah. Ia tidak peduli kepada Allah dan tidak mau menuruti kehendak Allah seperti yang difirmankan-Nya kepada Musa (Kel. 9:12). Karena Firaun mengeraskan hatinya, maka Tuhan membiarkan dirinya dikuasai oleh hatinya yang keras itu.  Ia membiarkan Firaun menuruti hawa nafsu dagingnya dan mengikuti kemauan Iblis.

 

Hendaklah umat ciptaan Allah senantiasa waspada dan peka terhadap teguran Tuhan.  Ia senantiasa mengajar,  menegur, memperbaiki dan mentransformasi umat-Nya melalui Firman-Nya (2Tim. 3:16). Tetapi adakalanya Tuhan mengijikan umat-Nya mengalami penderitaan jasmani sebagai teguran agar mereka segera sadar dan bertobat: “Sebab dukacita menurut kehendak Allah menghasilkan pertobatan yang membawa keselamatan dan yang tidak akan disesalkan”(2Kor. 7:10a). Tetapi apabila umat ciptaan-Nya tetap mengeraskan hati dan tidak mau mempedulikan setiap teguran-Nya, maka Allah pun menyerahkan mereka kepada keinginan hati mereka akan kecemaran (Rm. 1:24), hawa nafsu mereka yang memalukan (Rm. 1:26), dan pikiran-pikiran mereka yang terkutuk (Rm. 1:28). Hal ini tentu akan mendatangkan celaka bagi diri mereka.  Oleh karena itu, umat ciptaan Allah hendaklah senantiasa mau membuka hati pada-Nya dan peka pada peringatan-Nya.

 

Salam dari

Pdt. Andreas Loanka

GKI Gading Serpong

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here