Vietnam dan Alkitab Untuk Semua

0
491

Oleh Sigit Triyono (Sekum LAI) www.alkitab.or.id  IG:lembagaalkitabindonesia

Ada 7 persen penduduk Vietnam yang beragama Katolik, dan ada 2 persen yang Protestan dari 91,7 Juta total penduduk. Pergumulan yang dialami umat Kristen di Vietnam mirip dengan Indonesia, dalam arti banyak menghadapi berbagai tantangan dari luar. Gereja di Vietnam mendapat tantangan besar terutama dari pihak Pemerintah.

Negeri yang masih kental dengan ideologi Sosialis tetapi dalam keseharian di kota tidak berbeda dengan kota-kota kapitalis, tampak masih kurang bersahabat dengan pemeluk agama Kristen. Betapa tidak, saat ini pemimpin Gereja Katolik (Kardinal) di Saigon sudah pensiun, namun calon penggantinya tidak mendapat ijin dari pemerintah Vietnam. Seharusnya ada dua pemimpin Kardinal yang masing-masing di Saigon dan Hanoi, tetapi hanya di Hanoi yang “dibiarkan” oleh pemerintah.

Kontrol ketat pemerintah terhadap agama-agama, terutama agama Kristen, membuat Gereja Katolik terpecah menjadi dua: “Gereja Pemerintah” dan “Gereja Vatikan”. Akan tetapi jumlah umat “Gereja Pemerintah” jauh lebih sedikit dibandingkan “Gereja Vatikan.” Bapa Kardinal Pierre Nguyen Van Nhon di Hanoi mampu mempertahankan independensi dan sikap kritis terhadap pemerintah serta tetap setia kepada Vatikan.

Oleh karena kontrol ketat pemerintah jugalah yang membuat keberadaan “Lembaga Alkitab Vietnam” masih berbentuk perusahaan (seolah-olah berbisnis di bidang Alkitab). Karena bentuknya perusahaan komersil, maka pemerintah Vietnam memberikan ijin operasi karena (mungkin) lebih mudah mengontrol keberadaannya. Salah satu akibat dari kontrol ketat ini adalah upaya menerjemahkan Alkitab ke dalam Bahasa Vietnam masih terkatung-katung. Entah kapan akan selesai tidak ada yang tahu, karena masih menghadapi tantangan soal pengakuan dari Gereja dan terutama dari Pemerintah.

Kami perwakilan Lembaga-lembaga Alkitab dari  11 negara Asia Pasifik yang mengikuti rapat dua hari “Asia Pacific Catholic Affinity” di Hanoi, 17-18 Juli 2018, selalu diingatkan oleh panitia agar sangat berhati-hati dengan dokumen dan identitas yang berhubungan dengan acara rapat ini. Bahkan setiap break makan siang di restoran hotel dimana kami rapat, “name tag” kamipun perlu dilepas agar tidak terbaca identitas kami masing-masing.

Baca juga  Tuhan Raja Yang Kekal

Selama dua hari penuh kami membahas tentang berbagai tantangan dan peluang yang ada di Asia Pasifik sehubungan dengan optimalisasi pelayanan untuk umat Katolik. Masih ada beberapa Lembaga Alkitab Asia Pasifik yang  belum memiliki pengurus maupun karyawan dari unsur Gereja Katolik. Akibatnya banyak peluang pelayanan Alkitab kepada umat Katolik kurang dapat dimanfaatkan dengan baik.

Sebagai contoh, sejak dua tahun terakhir secara global Gereja Katolik menekankan perhatian kepada kaum muda.  Hal ini didorong oleh data keberadaan 30% penduduk dunia yang berusia di bawah 18 tahun. Sesungguhnya mereka juga sangat membutuhkan layanan dari Lembaga Alkitab agar lebih cinta dan menyatu dengan Alkitab dalam keseharian hidup. Perhatian kepada kaum muda ini kurang dimanfaatkan oleh Lembaga-lembaga Alkitab sehingga sangat sedikit program-program yang paralel dan seazas dengan semangat di atas.

Produk-produk yang khusus untuk memenuhi kebutuhan kaum muda haruslah segera dikembangkan oleh Lembaga-lembaga Alkitab. Proses kerja yang selalu melibatkan banyak pihak (terutama Gereja Katolik lokal) perlu selalu dioptimalkan. Selanjutnya kegiatan-kegiatan promosi harus memakai cara-cara “jaman now” agar kaum muda Katolik bersemangat dalam upaya menyatu dengan Alkitab.

Setelah dua hari rapat yang sangat padat ini, PR bertambah lagi untuk Lembaga Alkitab Indonesia. Hal ini menandakan bahwa peluang bertambah banyak demi mewujudkan Alkitab Untuk Semua. Terpujilah Tuhan. *#SalamAlkitabUntukSemua.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here