PDT. WEINATA SAIRIN: *KETAATAN BERAGAMA ADALAH KEPENTINGAN TERPENTING*

0
486

 

_”Hostis aut amicus non est in aeternum; commoda sua sunt in aeternum. Lawan atau kawan itu tidak ada yang abadi, yang abadi hanyalah kepentingan”_

 

Penggunaan kata _kepentingan_ dalam vokabulari masyarakat kita, menduduki peringkat yang cukup tinggi, utamanya di lingkup birokrasi dan dunia politik. Dan sayangnya kata “kepentingan” pada lingkup itu cenderung berkonotasi negatif. Realitas itu bisa dicermati dari beberapa contoh berikut. Seorang Camat berpidato di depan sebuah pertemuan di lingkup Kecamatan : “Saudara-saudara kami meminta agar segera mengosongkan lahan itu karena perluasan pembangunan bandara segera dilakukan. Itu semua dilakukan demi *kepentingan* bangsa!”. Kepentingan ‘bangsa’ , kepentingan ‘pemerintah’ acapkali berada diatas segalanya dan ujungnya adalah kesediaan rakyat jelata untuk memikul penderitaan. Skema berfikir srperti ini sejak awal telah menjadi tema utama dari ideologi prmbangunan yang di beberapa bagian dunia telah menimbulkan resistensi yang amat kuat. “Untuk kepentingan pembangungan lapangan olahraga, maka dalam waktu sebulan kedepan rumah-rumah di lahan ini harus segera dipindahkan” demikian ungkapan seorang pejabat Pemda dalam pertemuan dengan warga.

 

Dari dua contoh itu amat jelas bahwa kata “kepentingan” nyaris selalu menjadi dalil utama yang diangggap paling sahih dan legitim untuk digunakan dalam mensukseskan proyek pembangunan yang di programkan pemerintah. Di lingkup kantor atau perusahaan; acap kita lihat juga penggunaan kata “kepentingan”, walau tidak terlalu terasa ‘powerfull’. Misalnya dipintu ruangan atau gudang  sering kita baca pengumuman yang ditempel yang berbunyi : “Yang tidak berkepentingan Dilarang Masuk”

 

Pada akhirnya kata “kepentingan” acapkali difahami dalam konotasi politis, dalam suasana “yang lebih berkuasa” menekan mereka yang berada dalam penguasaannya. Sebuah kata walau pada mulanya netral, pada tahap berikut tidak bisa lagi dirasakan netral pada saat kata telah menjadi sebuah jargon politik dan atau digunakan secara terus menerus dan atau berulang-ulang untuk sesuatu tindakan politik atau oleh partai politik bahkan.oleh pejabat tinggi sebuah partai politik. Kata “lanjutkan” misalnya pada awalnya adalah sebuah kata imperatif biasa. Tetapi pada saat kata itu digunakan oleh seorang tokoh politik dalam konteks pilpres maka imperatif itu sudah berada pada lorong politik tertentu. Kata “kerja, kerja, kerja” pada mulanya adalah sebuah kata, ajakan, imperatif biasa saja. Manakala seorang petinggi menjadikan kata itu sebagai jargon, _tagline_, yel dalam pidato, spanduk, banner, flyer dan sebagainya maka kata itu telah masuk dalam pusaran politik yang mendukung fan mengukuhkan kepemimpinan seseorang. Tidak ada yang salah dalam kasus seperti ini, namun dalam kehidupan sebuah bangsa yang kematangan berdemokrasinya belum mantap, hal itu agak mengganggu kenyamanan.

 

Kata “kepentingan” yang berangkat dari kata “penting” digunakan diberbagai tempat. Di rumah, di kantor, di ruang publik, bahkan di tempat ibadah; walau secara eksplisit kata itu tidak selalu muncul. Di tempat ibadah, misalnya pada ibadah hari Minggu, hampir selalu ada imbauan yang berbunyi “demi kepentingan bersama, mohon hp dimatikan atau dalam posisi silent”  atau imbauan dalam versi lain yang sejiwa dengan itu. Dalam kehidupan sebuah komunitas kata “kepentingan” sering digunakan demi terwujudnya kehidupan bersama yang lebih baik. Tentu saja kata “kepentingan” akan sedikit berbeda nuansa dan konotasinya jika itu digunakan oleh birokrat, dibandingkan jika digunakan oleh institusi non pemerintah.

 

Kata-kata “penting”, “kepentingan”, “yang penting” banyak digunakan dalam konteks politik dan birokrat yang menampilkan sikap powerfull dari pemimpin terhadap yang dipimpin, atau juga untuk menegaskan sikap akhir dari suatu partai politik. Misalnya contoh pada kalimat berikut. “Bagi kami _yang penting_ adalah pak Very menang.” Kalimat ini ingin menegaskan bahwa apapun yang terjadi, bagaimanapun peraturannya, berapapun costnya, ya pak Very harus menjadi pemenang. Memang ada nuansa konotasi yang ‘all out’ dan ‘pemaksaan’ dengan menafikan prosedur standard pada kata “yang penting”.

 

Dalam ruang lingkup lembaga keagamaan, kata-kata “penting”, “pentingnnya” atau “kepentingan” tidak digunakan dalam konteks individual, tetapi lebih kepada kebutuhan umat/komunitas, bahkan dalam konteks kehidupan di keakanan. Dalam wacana, kotbah, tausyiah misalnya arah dan fokus untuk concern pada _kepentingan_ dunia yang akan datang, kehidupan akhirat atau apapun istilah yang digunakan acapkali menjadi tema utama, agar umat tidak terpukau dan terpenjara pada realitas kekinian yang full sekuler dan bertabur _maksiat_ tapi membawa umat ke keakanan dalam sebuah dunia baru dalam tata kelola yang sama sekali baru.

 

Pepatah yang di kutip di bagian awal artikel ini yang amat poluler dalam dunia politik menggambarkan kepada kita betapa luhur dan mahalnya benda yang disebut *kepentingan*. Kepentingan menjadi segala-galanya; demi kepentingan kawan bisa berubah menjadi lawan dan sebaliknya. Tak ada soal moral atau agama. Mungkin, dari segi bahasa, pepatah itu juga ingin menyatakan bahwa demi kepentingan (sekuler) moral dan agama bisa ditinggalkan (sementara). Jika pengandaian itu benar, alangkah bahayanya!

 

Agama same sekali bukan pakaian, baju, jas hujan atau jas untuk pesta yang sewaktu-waktu bisa dibuka, dilepaskan dari tubuh kita. Agama/spirutualitas itu built in dan inhaeren dengan tubuh dan kedirian kita. Ajaran dan nilai luhur agama  harus menjadi nafas, roh, _ruach_ , spirit dan habitus dalam diri kita. Agama seharusnya tidak boleh di korbankan untuk kepentingan lain selain untuk kepentingan agama itu sendiri. Kita harus taat dan setia kepada agama kita demi *kepentingan* kehidupan baru pasca kematian. Semua hasrat, keinginan, -obsesi dan kepentingan mestinya _-tunduk_ dibawah kepentingan agama. Mari wujudkan sikap seperti itu demi keakanan yang ceria dan menjanjikan.

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here