PDT. WEINATA SAIRIN: *HIDUP YANG DIBERKATI DAN MEMBERKATI*

0
514

 

 

“Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk. Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, lakukanlah apa yang baik bagi semua orang”. (Roma 12:14;17)

 

Kekristenan hingga kini masih tetap eksis dan unggul ditengah ruang-ruang sejarah dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Walau ia hadir dan mewujud dalam ratusan denominasi, dengan “truth claim” sendiri-sendiri, namun pada sisi tertentu kesemua denominasi itu *menyatutubuh* dalam sebuah kekristenan yang powerfull, yang diperhitungkan dan disegani banyak orang. Di negeri ini kekristenan yang datang ko-insiden dengan datangnya kolonialisme, acapkali oleh oknum dan kelompok tertentu kekristenan telah di cap sebagai agen kolonial. Cap stigma tersebut resonansinya masih tetap muncul dalam mindset umat di akar rumput, yang kontra produktif di era digital sekarang. Ketakutan dan bahkan resistensi terhadap kekristenan di negeri ini acapkali juga muncul karena beban sejarah, pengaruh internasional, penulisan buku-buku dengan data historis tak imbang, dan atau oleh karena pikiran-pikiran mereka yang dielu-elukan sebagai tokoh kerukunan tetapi yang hatinya dan hasrat politiknya samasekali paradoks dengan kerukunan itu sendiri. Belum lama ini umat kristen merasa tidak nyaman tatkala seorang tokoh mengungkapkan dalam forum nasional seolah ada percepatan pertambahan jumlah orang kristen dan realitas itu dihubungkan dengan makin maraknya radikalisme. Lontaran pemikiran seperti itu agaknya merepresentasikan adanya ketakutan dan kekuatiran terhadap makin kuatnya kekristenan di negeri ini.

 

Kekristenan yang sejak awal kehadirannya mengalami aniaya, hambatan, persekusi, pembunuhan biadab dan kejam *tidak akan pernah* bisa meruntuhkan kekistenan yang berbasis Injil, _eu anggelion_ yang adalah *dunamos Allah* (cf Roma 1:16). Benar jika Paulus menyatakan dalam Roma 1:16 itu bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya.

 

Mengapa kekristenan tetap eksis dan survive ditengah dinamika zaman? Pada waktu kekristenan di gugat, diprtanyakan bahkan oleh kaum elit politik dan agama para Rasul di interogasi serta di jebloskan kedalam penjara, seorang Gamaliel tampil dengan wisdom yang amat dalam. Menurut Gamaliel jika apa yang dilakukan para Rasul itu dari manusia maka akan *lenyap* tetapi jika brasal dari Allah maka mereka tidak bisa dilenyapkan ( KPR 5 : 26-42)

 

Kita memahami benar bahwa banyak elemen dasar yang membuat kekristenan itu kuat dan mampu bertahan walau mengalami gempuran hebat disepanjang sejarah. Beberapa hal yang bisa disebut :

 

a. Kekristenan itu bukan “produk manusia” tetapi  “produk ilahi” Mengacu pada pemikiran Gamaliel dalam KPR 5, jika kekristenan itu buatan manusia maka kekristenan sudah selesai, kini hanya tinggal nama. Allah lah yang “mendisain” kekristenan itu karena kasihNya kepada umat manusia, sekaligus Ia mengutus Yesus Kristus ketengah dunia untuk menyelamatkan umat manusia.

 

b. Kekristenan itu berfokus dan berbasis kepada Yesus Kristus. Yesus itu “vere deus, vere homo”, benar-benar Allah dan benar-benar manusia. Ia bukan “hakikat paruh waktu” yang separuh manusia dan separuh ilahi. Ia  *sepenuhnya* Allah dan sepenuhnya manusia. Tindakan sepenuhnya itu terjadi dalam kontrol Allah Sang Bapa : Ia mennghidupkan orang  mati, performance ilahi, Ia nangis dan haus, ini performance Allah.

 

Pada kedirian Yesus kita menyaksikan secara sempurna kasih kepada sesama dan kasih kepada Allah; gerak melayani (diakonia) yang tiada terbendung, satunya kata dan perbuatan : perhatian dan solidaritas bagi rakyat jelata.

 

c. Kekuatan kekristenan berada pada ajaran dan nilai luhur yang diberikan : keselamatan oleh iman, pengampunan dosa, mengasihi musuh. Dalam bagian Alkitab yang dikutip di bagian awal tulisan ini kita semua diingatkan ulang agar kita “bertindak paradox” yang membedakan kita dari dunia luas.

 

Kita harus memberkati mereka yang menganiaya kita, dan bukan mengutuk atau membalas dengan menganiaya kembali. Itulah antara lain kekuatan dan keunggulan kekristenan yang harus terus di demonstrasikan ditengah sejarah manusia.

 

Mari wujudkan kekristenan  sejati dalam kehidupan masyarakat majemuk; kekristenan yang mengasihi, kekristenan yang elegan dan simpatik,yang diberkati dan memberkati.

 

Selamat merayakan hari Minggu. God bless

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here