Pdt. Weinata Sairin: “Post verba verbera. Sesudah kata-kata peringatan ada penindakan”.

0
337

 

 

 

 

 

Dalam kehidupan ini baik pada zaman baheula maupun pada zaman modern kita selalu memperoleh peringatan. Bentuk peringatan itu beragam : melalui kata-kata, secara verbal, secara tertulis, melalui tanda-tanda alam, melalui bunyi/suara atau juga serangkai kata yang tertulis pada benda yang kita miliki. Contoh yang amat jelas pada bagian yang disebut terakhir ini adalah dalam hubungan dengan handphone kita. Apabila HP itu sudah makin berkurang daya listriknya maka pada layar monitor HP akan muncul tulisan “low batt”. Itu berarti kita harus segera menyiapkan charger atau power bank sehingga kita tidak akan mengalami problem komunikasi apabila HP kita itu sudah drop sama sekali daya listriknya.

 

Pada waktu kita kecil biasanya ayah ibu selalu memberi ‘peringatan’ kepada kita terutama untuk hal -hal yang bisa membahayakan. Misalnya ayah selalu berpesan “jangan menuang bensin itu dekat kompor yang sedang menyala, bisa terjadi kebakaran nanti”. Atau ibu yang tak kurang perhatiannya kepada anaknya sering menyatakan “jika keadaan hujan pergi sekolah pakai payungnya agar tidak basah kuyup dan tidak sakit pilek kena air hujan”.

 

Peringatan, _warning_ itu perlu dan dibutuhkan agar kita bisa mempersiapkan segala sesuatu agar tidak ada hambatan dalam pekerjaan. Bayangkan jika kita dengan kendaraan mobil menuju daerah di pedalaman, kita abai terhadap warning tentang ketersediaan bensin di mobil itu, ketika tiba di pedalaman bensin di tanki mobil habis sama sekali, maka kita akan mengalami kesulitan besar. Peringatan juga bermakna agar kita tidak mengalami kesulitan yang lebih besar tatkala kita melakukan hal-hal yang akan berpotensi membahayakan. Dalam dunia ketenagakerjaan hal-hal yang berkaitan dengan _peringatan_ itu sudah diatur dengan sistemik. Misalnya kapan seseorang mesti diberi peringatan, berapa kali diberikan dan langkah apa yang mesti diambil sesudah peringatan itu tidak direspons sama sekali. Ke semua langkah-langkah itu, di dunia tenaga kerja, mengacu kepada ketentuan peraturan perundang-undangan.

Baca juga  PENDERITAAN

 

Sebenarnya kebiasaan dan atau pengaturan tentang peringatan itu khas manusia, mengingat bahwa manusia itu acap lupa, inkonsisten, suka terlanjur dan sebagainya, dan sebagainya. Agama-agama mengajarkan agar dalam kehidupannya manusia itu mengembangkan sikap saling bantu, tolong menolong, topang menopang, saling mengingatkan.

 

Dalam konteks membangun semangat persaudaraan sejati, maka memberi peringatan dan saling mengingatkan itu mesti difahami sebagai salah satu dari _kewajiban_ manusia. Kewajiban adalah tugas yang mesti dan tak boleh tidak harus dilakukan. Ketika Marcus Aurelius melantik pejabat di Praetorium ia memberi sebuah pedang dan berkata :

“Kau harus menggunakan pedang ini untuk menjaga hidupku selama aku setia pada kewajibanku. Bila aku gagal menunaikan kewajibanku kau harus menggunakanya untuk menghukumku. Ketahuilah bahwa kewajibanku adalah memberikan kebahagiaan kepada orang-orang Roma”.

 

Jika memberi ‘peringatan’/warning, dan atau ‘pengingatan’/reminder itu sudah difahami sebagai bagian dari kewajiban, maka akan banyak ‘keuntungan’ yang diperoleh dan juga banyak ‘kecelakaan’ dan ‘keterlanjuran’ yang bisa dicegah.

 

Mereka yang baru ada hasrat untuk merakit-rakit bom diperingatkan bahwa perbuatan itu tiada bermakna bahkan bisa berujung pidana; orang yang baru belajar sedikit-sedikit fly dengan “menyabu” diperingatkan untuk tidak melanjutkan aktivitas itu; orang yang baru mulai me-mark up pembelian pohon hias diperingatkan agar tidak berfoya-foya dengan fulus yang tak jelas; orang-orang yang jadi pejabat diingatkan agar segera membayar BPJS bagi karyawannya, dan sebagainya, dan sebagainya, maka sebuah kehidupan yang lebih baik akan bisa terwujud.

 

Sebagai pribadi, organisasi, komunitas, aktivitas *warning* dan *remind* agaknya sangat baik untuk dijadikan agenda rutin. Hanya yang harus di garisbawahi adalah pilihan kata dan cara mewujudkan aktivitas itu agar tetap dilakukan dengan elegan dan benar-benar mempertimbangkan aspek manusiawi. Pepatah kita menyatakan “sesudah kata-kata peringatan ada penindakan”. Sikap santun, elegan, penuh cinta kasih tetap diperlukan dalam kata dan tindakan.

Baca juga  Keajaiban Alkitab

 

Selamat berjuang. God bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here