Pdt. Weinata Sairin: Dalam Keterbatasan, Manusia Merajut Karya Tak Terbatas

0
1572

 

 

“Sebab : ‘Semua yang hidup adalah seperti rumput dan segala kemuliaannya seperti bunga rumput, rumput menjadi kering, dan bunga gugur, tetapi firman Tuhan tetap untuk selama-lamanya’. Inilah firman Tuhan yang disampaikan Injil kepada kamu”. (1 Petrus 1 : 24-25)

 

Hidup yang Tuhan anugerahkan kepada kita umat yang beriman harus kita syukuri terus menerus baik secara verbal maupun dalam wujud tindak karya positif ditengah-tengah sejarah. Kita harus syukuri karena hidup yang Tuhan anugerahkan itu adalah sebuah *privilege*, sesuatu yang amat istimewa. Ia hembuskan nafas hidup kepada kita agar kita berkarya, berbuah dan melalui karya-karya yang kita torehkan ditengah sejarah banyak orang boleh _mengenal_ dan bahkan _percaya_ kepadaNya.

 

Manusia menurut kesaksian Alkitab adalah makhluk yang dicipta; manusia adalah ciptaan agung dari sang Pencipta. Itu berarti bahwa manusia adalah makhluk yang fana, yang terikat pada _kesementaraan_, yang berdimensi _waktui_ (istilah dosen Filsafat STT Jakarta tahun 1970an Dr Lindert Oranje).

 

Kesementaraan, kefanaan manusia secara eksplisit ditegaskan dalam Alkitab, yaitu bahwa ia dicipta, ia berada dalam kerangka waktu; ia juga memiliki keterbatasan usia, ia akan _mati_ pada Hari H yang ditetapkan oleh Allah, Sang Pencipta. Walaupun batas usia manusia itu tidak diketahui secara pasti oleh setiap orang namun yang menarik bahwa dalam Doa Musa seperti yang diuraikan dalam Mazmur 90 : 10, usia manusia berada dalam rentang waktu 70-80. “Masa hidup kami tujuh puluh tahun dan jika kami kuat, delapan puluh tahun, kebanggaannya adalah kesukaran dan penderitaan, sebab berlalunya buru-buru dan kami melayang lenyap”.

 

Musa yang juga menulis narasi bentuk Mazmur sebagaimana dimuat dalam Keluaran 15 dan Ulangan 32 secara spesifik dalam Mazmur 90 menyebutkan tentang kisaran usia manusia antara 70-80 walaupun diberi catatan usia seperti itu akan di balut oleh _kesukaran_ dan _penderitaan_ dan bahkan kedua hal itulah yang menjadi kebanggaannya.

Baca juga  TINGGAL DALAM KRISTUS

 

Alkitab dalam beberapa kali sesuai dengan konteks dan kepentingannya memberikan _reminds_, pengingatan bahwa manusia itu fana, terbatas, bahkan makhluk yang amat _fragile_ tidak tahan banting. Pengingatan itu amat penting agar manusia _sadar_ akan dirinya, fisiknya dan juga sadar akan _waktu_. Sadar diri dalam arti ia bukan superman, ia adalah manusia lemah yang pada usia tertentu daya tahan fisiknya menurun, walau pun di _doping_ dengan banyak obat dan vitamin. Ia tak boleh arogan, takabur, seolah amat kuat menanggung dan menggarap semua hal.

 

Usia 50 tahun keatas itu orientasi manusia harus lebih fokus pada hal-hal yang surgawi, transendental tidak lagi _ngoyo_ untuk hal-hal sekuler. Waktu manusia itu amat terbatas 70-80 tahun bahkan bisa leih cepat dari kisaran angka yang diungkap Musa dalam Mazmur 90. “Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia selama masih siang karena akan datang malam ketika tidak ada seorangpun yang dapat bekerja” ( vide Yoh 9:4). Tepat, cerdas bernas dan akurat apa yang dinyatakan Yesus tentang kemendesakan waktu yang kita miliki. Kita mesti sadar waktu, dalam realitas dan bingkai waktu itu kita bekerja. Kita tidak pernah tahu kapan _malam_ datang; _malam_ sebagai metafora yang Yesus gunakan bermakna luas. Pada _malam_ seperti itu kita tak mungkin lagi bekerja.

 

Surat ini yang ditulis seputar tahun 64 atau 66 ingin memberi penguatan iman bagi umat yang tengah mengalami penderitaan akibat kekristenan mereka. Umat mengalami hujatan, ujaran kebencian, persekusi dizaman itu bahkan aniaya yang amat kejam ketika Kaisar Nero menuduh umat Kristen sebagai pembakar kota Roma sekitar tahun 64-65. Surat ini mengingatkan ulang hakikat umat Kristen sebagai umat yang telah ditebus dengan darah yang mahal yaitu darah Yesus Kristus (perikop Fasal 1 : 13-25). Keterikatan umat dengan Yesus yang bangkit itu memposisikan umat secara baru yaitu umat yang _lahir kembali_ dari benih yang _tidak fana_ yaitu firman Allah.

Baca juga  Yang Diperkenan Allah

 

Dalam ayat 24 dan  25 yang dikutip dibagian awal penulis surat ini menampilkan secara paradoks dan kontradiktif sosok manusia yang fana dengan firman Allah yang kekal, yang _tidak fana_. Penggambaran yang amat plastis tentang sosok manusia yang seperti _rumput_ dan kemuliaannya seperti _bunga rumput_ , rumput akan kering dan bunga gugur, memberikan penegasan ulang bahwa manusia itu _fana_ , nir makna, dan bertolak belakang dengan firman Tuhan yang tetap, konstan, ada untuk selama-lamanya.

 

Kefanaan manusia memiliki makna agar ia tidak terpenjara pada kekiniannya, tetapi agar ia diajak melihat perspektif keakanan yang didalamnya ada keabadian. Dalam kefanaan itulah manusia berjuang optimal memberi yang terbaik bagi banyak orang. Firman Allah itu kekal, abadi artinya bahwa keberlakuan firman itu mengatasi waktu manusia, Firman Allah itu kekal, tidak mengenal _expired_. Mari terus menorehkan karya terbaik diruang-ruang kehidupan, selama hari masih siang. Tak ada pilihan lain.

 

Selamat Merayakan Hari Minggu. God Bless.

 

*Weinata Sairin.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here