Pdt. Weinata Sairin: Dalam Kelemahan Ada Kekuatan yang Dianugerahkan Tuhan

0
628

 

 

 

 

“Ut desint vires, tamen est laudanda voluntas. Meskipun sudah tanpa kekuatan namun kemauannya masih patut dipuji”.

 

Kekuatan dan kemauan memang dua hal yang sangat fundamental bagi kehidupan umat manusia. Kedua hal itu memang harus terjadi seiring, bersama. Seseorang yang memiliki kekuatan ia dapat mengungkapkan kekuatan itu dalam tindakan/kemauan. Pada saat-saat usia seseorang itu masih muda, masih potensial, masih penuh dengan tenaga dan kekuatan, maka dengan sangat mudah kemauan itu bisa diwujudkan. Persoalan muncul jika seseorang sudah berangkat tua, atau bahkan sudah dalam kondisi usia yang tua. Sebuah kemauan, hasrat, keinginan itu, tidak secara otomatis bisa diwujudkan karena kondisi fisiknya sudah uzur, sudah tidak memiliki kekuatan lagi.

 

Ada ‘kasus-kasus’ tatkala seseorang abai saja terhadap potensi, kekuatan, kondisi fisiknya, ia lebih fokus pada hasrat dan kemauannya. Realitas itu menandakan sebuah tekad, komitmen dari seseorang bahwa ia ingin bebas dan tidak mau terpenjara pada kelemahan fisik. Memang dibutuhkan seorang yang tekun mendampingi dalam kasus-kasus seperti ini.

 

Ini cerita fakta, bukan hoax, dan sama sekali bukan fiksi, bukan kisah imajiner, khayalan, atau bualan fiktif. Seorang lelaki berusia 85 tahun, komposer lagu-lagu gerejawi, guru mapel Bahasa Indonesia, tinggal di wilayah Tangerang Selatan. Dalam beberapa bulan terakhir kondisi kesehatannya menurun, bahkan mesti di rawat di RS karena ada masalah pada lambung dan paru. Namun ia abaikan itu semua, setiap hari Senin dan Kamis ia masih terus hadir di Rawamangun-Jakarta Timur untuk menunaikan tugas rutin bersama anggota Tim yang lain, mencipta lagu, mengoreksi lagu dan atau membuat tata suara lagu-lagu gerejawi untuk mendukung pelaksanaan ibadah warga Gereja di seluruh negeri.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Fakta tentang seorang berusia lanjut yang secara fisik agak lemah tetapi kuat dari segi kemauan banyak kita temui dalam kehidupan kita di kekinian. Bukan saja seorang komposer yang disebutkan didepan, ada juga seorang Ibu, pensiunan guru 94 tahun, yang mengabaikan fisiknya yang lemah; ia tetap punya hasrat untuk tetap memberi edukasi minimal bagi anak cucu menantunya, masih jernih memorinya tentang masa lalu yang penuh dengan narasi-narasi pengabdian di masa lampau.

 

Ada juga seorang purnawirawan pati TNI AD berusia 91 tahun masih tetap gagah perkasa, rajin menulis opini di harian nasional, masih menulis antologi, masih terus memberikan analisis perkembangan kehidupan sospol, bahkan masih rutin berkomunikasi melalui Whatts App. Kecepatan dalam merespons pemikiran melalui WA jauh melebihi cara merespons dari seorang pemimpin yang baru seminggu menjawab WA itu atau sama sekali tidak menjawab. Ya ini soal gaya kepemimpinan, soal daya sensitivitas, soal respek dan soal *habitus*, soal _habit_ seseorang !

 

Semua kisah yang disebutkan tadi sama sekali bukan sas-sus, fiksi, khayal, tetapi benar-benar terjadi dalam dunia nyata dan dialami secara pribadi. Apa sebenarnya yang membuat seseorang walau sudah _tanpa kekuatan_ tetapi masih memiliki _kemauan_? Tentu banyak hal yang bisa disebut : pendidikan orang tua dan pendidikan formal, pembinaan dari dunia militer, proses pembelajaran melalui berbagai aspek, literatur yang dibaca yang kesemuanya membentuk pribadi yang kukuh tangguh yang tidak menyerah pasrah kepada keuzuran yang menghimpit kuat.

 

Sebagai umat beragama dan berkepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa kita amat meyakini bahwa hingga saat-saat akhir, di penghujung usia kita, Tuhan tetap menganugerahkan kekuatan dan kemauan agar dalam realitas itu kita masih bisa melakukan sesuatu yang positif. Kita akan terus berdoa agar Tuhan memberikan yang terbaik bagi hidup kita disaat-saat kita menggapai terminal yang penghabisan dikekinian dunia; terminal akan membawa kita kepada dunia baru yang Tuhan sediakan, sebagaimana yang kita yakini menurut iman kita.

Baca juga  GEREJA 57 SEN

 

Doa adalah suatu bentuk energi yang paling kuat yang bisa dihasilkan, kata Alexis Carrel. Menurut Carrel pengaruh doa pada pikiran dan tubuh manusia dapat dibuktikan seperti juga pada rahasia kelenjar-kelenjar. Hasilnya dapat diukur dalam bentuk-bentuk peningkatan fisik, daya apung, kegiatan intelektual yang lebih besar, stamina moral serta pemahaman yang lebih mendalam yang mendasari kenyataan hubungan manusia. Doa yang sungguh-sungguh adalah suatu jalan hidup. Sesungguhnya kehidupan yang paling sejati adalah dengan berdoa, kata Alexis. Pandangan Alexis itu tentu amat subyektif dan berdasar pada perspektif imannya sendiri. Agama-agama memiliki pandangan masing-masing tentang Doa dan bagaimana praktiknya dalam kehidupan. Hal yang harus dicatat adalah bahwa agama-agama memahami bahwa doa adalah wujud komunikasi manusia dengan Yang Transenden.

 

Kita setuju bahwa kita patut _memuji_ mereka yang fisiknya lemah namun kemauannya kuat seperti dinyatakan pepatah. Kita tidak cukup memuji secara verbal, tetapi.kita harus bangga, harus berupaya merawat mereka dengan setia agar di penghujung usia, mereka tetap bersukacita dan menjadi teladan bagi banyak orang. Para anggota keluarga yang merawat mereka harus benar-benar dapat melakukannya penuh dedikasi dan cinta kasih.

 

Selamat Berjuang. God Bless.

 

*Weinata Sairin*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here